Gairah Petani Olah Pupuk Mandiri

Oleh:
Rio F Rachman
Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Khoirul Niam bungah. Senyum pria asal Lumajang itu mengembang saat pada musim lalu, eksperimennya untuk mengurangi jumlah pupuk pabrik di sawahnya sukses. Lelaki 30 tahun itu memiliki sawah dengan ukuran relatif mungil, 2.400 meter persegi. Tanah itu terbagi sama besar menjadi dua petak.

Pada musim tanam yang lalu, satu petak, seperti biasa, diberi seratus persen pupuk pabrik. Petak yang lain, diberi tujuh puluh lima persen pupuk pabrik dan dua puluh lima persen pupuk olahan dia sendiri. Campuran dari air, telur, vetsin, dan bakteri, yang kemudian difermentasikan.

Hasil eksperimennya membuktikan, petak sawah dengan pupuk campuran memproduksi gabah empat karung lebih banyak. Sudah pasti pula, biaya pupuknya jauh lebih murah. “Yang jadi momok adalah ketersediaan pupuk pabrik yang tak menentu. Pupuk kerap langka. Maka itu, perlu alternatif dengan pupuk olahan mandiri,” sebutnya pada Sabtu 6 Maret 2021 di sela-sela menandur.

Pada musim ini, dia akan kembali bereksperimen. Bila pada musim lalu porsi pupuknya 75 banding 25. Musim ini, porsinya jadi 50 banding 50. Soal pembagian seperti itu memang mesti bertahap. Sebab, tanah yang dia pakai sudah kadung lama berintegrasi dengan pupuk pabrik.

Perlu adaptasi sedikit demi sedikit bila ingin mengubah kebiasaannya. Pun akan dimasukkan porsi-porsi intensif dari pupuk kandang serta kompos. Niam mengklaim, di dusun tempat dia tinggal, baru dia yang melakukan pengelolaan lahan semacam ini. Kalau percobaan kedua sukses, dia berniat menyebarkan informasi soal metode ini secara detail pada tetangga atau kerabat dekat. Siapa tahu, mereka juga berminat.

Ada pun teknik mengolah pupuk didapatkannya dari media sosial, baik facebook maupun YouTube. Terdapat banyak grup facebook yang membahas soal pengolahan pupuk mandiri, pupuk organik, di mana tak sedikit di antara anggota grup adalah para petani yang relatif masih muda, berusia di bawah 35 tahun.

Mungkin, metode pengolahan pupuk yang dilakukan Niam maupun yang ditampilkan di sejumlah konten media sosial belum sepenuhnya sesuai standar ilmiah. Karena bisa jadi, sebagian kalangan menganggap hanya yang keluar dari laboratorium saja yang sahih. Faktanya, apa yang mereka lakukan berhasil dan membuahkan produk memuaskan.

Niam dan banyak petani dengan usia muda secara naluriah selalu bergairah untuk berinovasi. Kreatifitas dan rasa ingin tahu masih membuncah. Tidak sepenuhnya puas dengan peninggalan ayah, Ibu, nenek atau kakek mereka. Ingin kebaruan yang bisa melipatgandakan manfaat. Karakteristik khas anak muda. Tapi tentu, mereka tetap mesti menghormati dan belajar dari yang lebih tua. Yang jelas, Perspektif berinovasi dan berkreasi yang dimiliki para petani muda punya efek simultan berkelanjutan ke banyak bidang.

Persoalan menyehatkan tanah dengan pupuk olahan bukan pengecualian. Petani muda yang gencar bereksperimen mengolah pupuk mandiri atau menggunakan pupuk organik, baik kandang maupun kompos, berangkat dari keinginan memanfaatkan lahan secara efektif dan efisien. Biar ke depan, semua tanah tidak lagi “kecanduan” atau tergantung sepenuhnya pada pupuk pabrik, untuk sekadar bisa ditanam padi, salah satu bahan baku makanan utama penduduk Indonesia.

Pemanfaatan pupuk organik juga membuat mekanisme daur ulang sampah menjadi optimal. Logikanya, apabila kotoran kandang tidak dimanfaatkan untuk lahan, tentu bakal dibuang percuma. Padahal, ia memiliki banyak potensi yang baik bagi sawah. Sementara itu, sampah organik juga akan terbuang sia-sia kalau tidak dialokasikan sebagai pupuk.

Mesti diakui, negara ini secara geografis tergolong agraris. Sudah selayaknya pertanian diberi atensi khusus. Kesuburan di sekujur negeri mesti dikelola dengan baik. Dalam konteks penyediaan pupuk olahan mandiri dan pupuk organik, pemerintah punya peran sentral. Mulai pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, hingga pemerintah desa.

Pemerintah mesti aktif melakukan pelatihan pembuatan pupuk olahan organik bagi para petani. Terlebih, kerap kali, bahan baku popok organik di tiap wilayah berbeda. Karena bisa jadi, jenis sampah organik yang diproduksi rumah tangga di suatu kawasan tidak sama dengan kawasan lainnya (Sukma & Suprapti, Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Berbasis Sumber Daya Lokal Dalam Mendukung Peningkatan Kemandirian Desa, 2018). Pelatihan ini berfungsi untuk memberi pemahaman yang terstandar bagi para petani. Sehingga, pupuk olahan mereka bisa menjadi katalisator produk, yang baik secara kualitas dan kuantitas.

Pelatihan semacam ini mesti dilaksanakan berjenjang. Tidak hanya fokus atau terkesan padat di level pemerintah pusat. Namun juga, sampai pemerintah desa, di mana pun kabupaten atau kotanya, pelatihan sejenis ini mesti digelorakan. Pemerintah tentu bisa bersinergi dengan pihak swasta atau akademisi di bidang pertanian. Karena perkembangan atau kemajuan pertanian di republik ini merupakan tanggungjawab bersama.

Hal yang juga tak kalah penting adalah memberikan pemahaman tentang mutu pupuk olahan organik. Jangan sampai, ada petani yang ogah memakai pupuk tersebut akibat pola pikir yang masih dikuasai pandangan bahwa pupuk pabrik adalah kunci utama dan satu-satunya dari kesuksesan panen. Harus dipahami, tanah adalah entitas yang alami. Sehingga, yang alami pula yang bisa berjodoh baik dengannya.

Pelatihan maupun sosialisasi tentang urgensi mengolah pupuk organik secara mandiri juga bisa dilaksanakan oleh pihak lain seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, komunitas pecinta pertanian, atau kelompok tani (Nuryanti & Swastika, Peran Kelompok Tani Dalam Penerapan Teknologi Pertanian, 2016). Kalau kekompakan semacam ini terjaga, swasembada pupuk berkelanjutan bukanlah angan-angan di awan. Muaranya, swasembada beras juga dapat dicapai.

——– *** ———

Rate this article!
Tags: