Gandeng PT Pos Indonesia Perluas Jaringan Lumbung Pangan Jatim Hingga ke 28 Daerah

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Dirut PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono, bersama Dirut PWU Jatim, Erlangga Satriagung memberangkatkan sejumlah Go-Jek dan PT Pos yang dibekali sembako yang diantarkan menuju 19 Kab/kota dari Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (9/7). [oky abdul sholeh]

Pemprov Jatim, Bhirawa
Upaya perluasan layanan lumbung pangan Jatim dilakukan Pemprov dengan memggandeng PT Pos Indonesia. Setelah berhasil mewujudkan layanan gratis ongkir ke 19 daerah di Jatim, Lumbung Pangan juga diharapkan bisa melayani gratis ongkir hinga ke 28 kabupaten/ kota.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, saat ini perluasan sudah dilakukan sampai 19 kabupaten/kota di Jatim. Harapannya, minggu depan layanan dapat semakin meluas dengan tambahan 9 daerah sehingga menjadi 28 kabupaten/ kota. “Maka tinggal 10 daerah berikutnya yang kemudian kita perlu maksimalkan kembali jangkauannya,” tutur Khofifah saat melepas armada PT Pos Indonesia untuk layanan Lumbung Pangan di halaman Gedung Negara Grahadi, Kamis (9/7).
Terhadap sembilan daerah baru yang akan disasar ini, Khofifah berharap mulai hari ini sudah dilakukan uji coba untuk perluasan ke 28 kabupaten/kota yang bisa mengakses free ongkir Lumbung Pangan Jatim. “Jadi pasar-pasar yang menjadi sampling BPS (Badan Pusat Statistik) akan kita pastikan menjadi daerah yang dilakukan perluasan layanan sembako free ongkir. Harapannya, Lumbung Pangan ini akan menjadi refrensi harga pasar,” tutur Khofifah.
Kalau seluruh pasar yang menjadi sampling BPS dapat terjangkau, maka Lumbung Pangan ini akan dapat menjadi refrensi harga dan perlindungan konsumen akan lebih baik. “Jika Lumbung Pangan mampu melakukan penjangkauan, maka proteksi terhadap harga kepada petani maupun harga konsumen dapat terjadi,” kata mantan Menteri Sosial RI tersebut.
Khofifah menuturkan, proses yang disiapkan untuk memberikan akses pembelian bahan pangan dengan harga terjangkau biasa dilakukan menjelang Ramadan dan lebaran. Bentuknya ialah operasi massal. Tapi karena situasi pandemi hal tersebut tidak bisa dilakukan. Sebagai gantinya, upaya penjangkauan dilakukan dengan membentuk Lumbung Pangan Jatim.
“Penyiapan secara sistemik bahwa ketersediaan logistik aman dengan memastikan harga di bawah pasar. Setiap pagi kita lakukan pengecekan harga pasar yang menjadi sampling BPS (Badan Pusat Statistik),” kata Khofifah.
Untuk meluaskan jangkauan layanan, Pemprov melihat adanya potensi dari PT Pos Indonesia yang bisa menjangkau lebih luas dengan tetap menjaga protokol kesehatan yang aman. “PT Pos menjadi mediator kami untuk bisa memberikan kecepatan, ketepatan dan murahnya layanan agar masyarakat bisa mengakses kebutuhan pokok mereka. Baik sembako maupun logistik tambahan lain yang disiapkan Lumbung Pangan,” tutur Khofifah.
Dirut PT Pos Indonesia Gilarsih Wahyu Setiono menambahkan, pandemi telah mengubh cara berfikir dan bertindak pemerintah. Namun, yang paling penting adalah ketika masing-masing berupaya untuk bisa tetap survive di tengah pandemi ini. Sebab, negara-negara di dunia juga mulai menghentikan ekspornya untuk Sembako. Misalnya Myanmar, Vietnam dan Thailan yang sudah tidak melakukan ekspor beras.
“Artinya upaya kita untuk self surviving menjadi fokus utama. Jatim dengan 40 juta penduduk di pundaknu Bunda Khofifah membutuhkan inovasi-inovasi yang luar biasa untuk tetap bisa bertahan,” tutur Gilarsih.
Dari PT Pos Indonesia, Gilarsih berkomitmen untuk membantu semaksimal mungkin dalam mencapai upaya survive itu. Biaya yang mahal dari logistik karena salah kaprahnya infrastruktur distribusi. Misalnya truk berangkatnya terisi penuh baliknya kosong. “Itu terjadi karena interdependensi wilayahnya tidak terjadi. Kalau diizinkan, kita ingin diskusi supaya arsitektur distribusi ini menjadi lebih murah. Dengan biaya logistik yang murah, masyarakat bisa mendapat kualitas produk yang lebih baik dengan harga yang sama atau bahkan lebih murah,” tutur Gilarsih. [tam]

Tags: