Gandeng Tim Dosen JTE Polinema, Dr Budhy Setiawan Lakukan Penelitian 3D Printing

Para mahasiswa JTE Polinema saat berdiskusi tentang 3D Printing. [m taufiq]

Malang, Bhirawa
Berawal dari keinginan untuk mewujudkan mimpinya membuat sebuah kapal renewable energy, Dr Budhy Setiawan BSEET MT berkolaborasi dengan Tim Dosen Politeknik Negeri Malang (Polonema) melakukan penelitian tentang 3D printing.
Sedangkan 3 Dimensi (3D) printing merupakan salah satu teknologi utama yang dapat menopang perkembangan sistem industri 4.0. Printer 3D merupakan mesin yang dapat membuat objek nyata dari desain 3D dengan menggunakan Software Computer-Aided Design (CAD).
“Pada umumnya volume 3D printing berukuran kecil, pada penelitian ini kami membuat dengan volume yang besar yaitu 2M kali 2M kali 2M dan sudah berhasil,” kata Budhy Setiawan.
Budhy menjelaskan, penelitian ini merupakan salah satu inovasi di Polinema dan melalui teaching factory, alat ini dapat diproduksi untuk internal Polinema dan nantinya juga bisa diproduksi secara masal. Bahan baku pembuatan produk 3D saat ini, menurut Budhy memanfaatkan bahan hasil daur ulang plastik wadah pelumas yang kedepannya bisa dikembangkan menggunakan bahan baku logam.
Penelitian yang awalnya melibatkan 12 mahasiswa Jurusan Teknik Elektronika jenjang D-IV dan Magister Terapan ini, dimulai pada Januari 2020. Saat ini beberapa mahasiswa itu telah lulus dan dilanjutkan oleh adik kelasnya.
“Kami sangat mengapresiasi para mahasiwa yang antusias dan giat belajar tentang 3D printing. Mereka awalnya tidak mengenal 3D printing, kemudian dilaksanakan pelatihan terkait 3D printing selama 4 hari,” imbuhnya.
Para mahasiswa itu telah dibagi bidang penelitiannya, sehingga untuk mendalami ilmunya mereka mencari informasi di internet dan pada saat pelatihan mereka wajib mempunyai lima pertanyaan. Selain 3D printing, penelitian yang juga dilakukan oleh dosen JTE ini tentang Desain dan Kontrol Ekstruder Plastik HDPE untuk Pencetakan 3D dengan Metode Pengumpanan Pelet Plastik. Kedua penelitian ini sudah terbit di IOP pada pelaksanaan ATASEC 2020, telah mendapatkan HAKI dan akan dipatenkan pada tahun 2021. [mut]

Tags: