Garam Rakyat Bisa Hasilkan Kualitas Industri

Industri garam di Sumenep.

Industri garam di Sumenep.

HMPG Jatim Tolak Impor Garam
Pemprov, Bhirawa
Petani garam yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) menolak adanya rencana impor garam untuk kebutuhan industri. Sebab, adanya bantuan dari pemerintah maka kualitas garam rakyat yang dihasilkan bisa dimanfaatkan juga untuk kebutuhan industri.
Ketua HMPG Jatim, Muhammad Hasan menjelaskan, produksi garam pada musim panen kali ini diperkirakan naik 20-30 persen dari target. Sebelumnya produksi garam Jatim ditargetkan sebesar 1,2 juta ton. Petani garam meminta agar seluruh industri dari berbagai sektor khususnya yang membutuhkan garam mengalihkan sebagian kebutuhan garam dari impor ke garam rakyat.
Musim kemarau yang berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya, berpotensi mendongkrak produksi garam pada musim panen tahun ini. Diperkirakan, suplai garam tahun ini berlebih. “Prediksi kami produksi garam bisa naik 20-30 persen dari target 1,2 juta, sekitar 1,3-1,4 juta,” katanya disela acara Fasilitasi Koordinasi Lintas Sektor Pemberdayaan Garam Rakyat dan Rakor HMPG Jatim Ke-VI di Surabaya, Kamis (27/8).
Selain faktor iklim, penggunaan teknologi geo membrane atau geo isolator turut berkontribusi mendongkrak produksi garam tahun ini. Di tengah melimpahnya garam, pihaknya mewaspadai adanya garam impor yang bisa menekan harga garam rakyat. Indonesia masih mengimpor sebesar 2,2 juta ton garam tiap tahun. Turunnya harga mulai terasa meski musim panen baru memasuki satu bulan. Harga garam di tingkat petani sekitar Rp 450-425 per kg.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, Ir Heru Tjahyono MM mengatakan, Pemprov Jatim tahun ini menargetkan produksi garam mencapai 1,2 juta ton. Target ini meningkat dibandingkan pencapaian di tahun 2014 yang mencapai 1,080 juta ton.
Sementara itu produksi di tahun 2014 berhasil melampaui target yang ditetapkan, yaitu sebesar 990.000 ton. Tahun 2015 ini, tingkat produktivitas garam rakyat di Jawa Timur mencapai 90 ton per hektare per musim.
Dikatakannya, Jatim memberikan kontribusi sebesar 80-90% terhadap produksi garam nasional. Kebutuhan garam nasional sebesar 3,3 juta ton. 1,5 juta ton, diantaranya untuk konsumsi dan sisanya untuk industri.
Pemprov Jatim saat ini berusaha meningkat kualitas produksi garam petani dari semula untuk garam konsumsi menjadi garam industri. Upaya yang dilakukan yakni berupa pembagian bantuan alat geomembran yang disalurkan pada para petani garam. Sebelumnya di Desa Tlangoh, Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, petani telah mampu membuat garam produksi petani berkualitas industri.
Kualitas garam hasil para petani selama ini masih masuk dalam kualitas satu dan dua. Garam lokal disalurkan untuk kebutuhan konsumsi dengan harga rendah, hanga Rp 400 per Kg. Alat geomembran yang disalurkan petani adalah untuk meningkatkan kualitas garam petani. Sehingga harganya pun naik menjadi Rp 700 per Kg. “Petani dapat memproduksi garam berkualitas premium. Petani tak lagi fokus memproduksi garam secara kuantitas melainkan kualitas,” katanya.
Terpisah Anggota Komisi VI DPR RI, KH Kholilurrahman mengatakan, kualitas garam industri yang saat ini dihasilkan petani di Jatim khususnya di Pulau Madura sudah menyamai dengan garam impor meskipun volumenya belum besar.
Menurutunya, semangat petani yang kini mulai mengejar kualitas dari pada kuantitas, seharusnya mendapatkan motivasi dari pemerintah. Motivasi yang diharapkan yakni dengan meningkatkan program bantuan dan pembinaan dari pada sekadar mendatangkan garam impor. “Dengan cara tersebut, petani semakin semangat meningkatkan kualitasnya apalagi saat ini kita mengalami kemarau panjang,” katanya.
Hal lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan harga jual dan beli garam yakni memperbanyak kontrak kerja sama yang dilakukan oleh perwakilan petani dengan pengusaha garam. Kontrak tersebut akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Sebab, hal itu menunjukkan komitmen bersama, bahwa keduanya akan berupaya saling memenuhi harapan mereka masing-masing.
Menurutnya, petani keinginannya hanya satu yakni hasil produksi garam mereka dibeli dengan harga layak, dan pengusaha menginginkan agar produksi garam yang dihasilkan petani, juga berkualitas.
Sebelumnya terdapat tujuh perusahaan garam yang tergabung dalam AIPGI yang melakukan kontrak kerja sama pembelian garam lokal Madura. Ketujuh perusahaan itu masing-masing PT Garindo Sejahtera Abadi, PT Saltindo, PT Unichem Candi Industri, PT Sumatraco Langgeng Abadi, PT Cheetam Garam Indonesia, PT Budiono Madura Bangun Persada, dan PT Susanti Megah. [rac]

Tags: