GBT Tetap Stadion Idola Warga Kota Surabaya

Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Baktiono

DPRD Surabaya, Bhirawa
Ditengah alotnya perdebatan soal tarif sewa Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, antara Pansus Raperda Retribusi Kekayaan Aset Daerah DPRD Kota Surabaya dengan Pemkot Surabaya, Stadion GBT masih menjadi idola dan ikon dunia persepakbolaan warga Kota Surabaya.

Seperti diketahui dari perdebatan Pansus, Senin (19/04/21) Pemkot Surabaya menetapkan tarif untuk kegiatan komersial Rp22 juta per jam dan Rp444,632 juta per hari. Ada juga tarif lain, misalnya untuk koperasi PNS Rp16 juta per jam dan Rp333,474 juta per hari.

Mantan Ketua Pansus Retribusi Barang Milik Daerah Kota Surabaya, Baktiono mengatakan, pergunjingan saat ini di DPRD kota Surabaya melalui panitia khusus tentang retribusi tarif retribusi adalah sangat menarik.

Pihak panitia khusus (Pansus) menginginkan Persebaya diberi fasilitas khusus berupa tarif, karena dengan alasan Persebaya adalah pemakai utama yang home base nya di Kota Surabaya.

Sementara di pihak Pemkot Surabaya, tambah Baktiono, mempertahankan idealismenya bahwa tarif yang yang saat ini adalah tarif hasil pembahasan bersama panitia khusus sebelumnya, dan tarif yang saat ini tertera di peraturan daerah Kota Surabaya adalah hasil aprizal atau penafsiran tim independen.

“Oleh karena itu Pemkot Surabaya tidak berani menetapkan sepihak, karena bisa menjadi temuan dan permasalahan hukum kalau ditentukan hanya sepihak oleh Pemerintah Kota saja,”ujarnya di Surabaya, Rabu (21/04/21).

Baktiono menambahkan, maka dari itu perlu adanya kajian kajian dan survei yang tidak merugikan semua pihak. Baktiono yang saat ini menjabat Ketua Komisi C DPRD Surabaya menegaskan, solusi untuk bisa memberikan yang terbaik bagi kota Surabaya maupun klub kesayangannya yang menginginkan tarif lebih rendah dari Perda Kota Surabaya.

“Contohnya di masa pandemi Covid-19, untuk pertandingan tidak mungkin penonton tadi berjubel dan diawasi oleh aparat pemerintah kota agar protokol kesehatan tetap dijalankan,”tutur politisi senior PDI Perjuangan Kota Sudah Surabaya ini.

Lebih lanjut Baktiono mengatakan, dengan alasan tersebut bisa dimasukkan dalam pasal dan ayat khusus untuk bisa mengurangi tarif sewa tersebut.

Menurut Baktiono solusinya yaitu sewa harian, sewa bulanan, dan sewa tahunan, itu bisa dibedakan yang ibaratnya kalau membeli barang eceran atau sewa harian dengan membeli barang dorongan atau dalam jumlah besar harganya pasti berbeda, apalagi kalau pembelian barang dalam jumlah yang sangat besar atau sewa tahunan harganya pasti lebih rendah lagi.

Dirinya menekankan kembali, dalam pembahasan raperda tentang retribusi barang milik daerah yang didalamnya pasal dana, ayat paling krusial adalah tarif sewa atau kontrak Stadion GBT di Surabaya.

“Tarik ulur antara anggota Pansus dan Pemerintah Kota untuk mempertahankan argumentasinya masing-masing, dan memperjuangkan idealismenya masing-masing menjadi hal yang sangat menarik, “jelas anggota legislatif Surabaya lima periode ini.

Baktiono kembali menjelaskan, dibangunnya Surabaya Sport Center dan yang paling fenomental adalah dibangunnya lapangan sepak bola berstandar internasional yang diberi nama Gelora Bung Tomo (GBT).

Cak Bak, sapaan akrab Baktiono ini mengatakan, Stadion GBT juga menjadi salah satu stadion yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk menjadi salah satu penyelenggara sepak bola dunia U-21 itu untuk pentas Internasional.

“Perlu diketahui tentang sejarah persepak bola di Kota Surabaya di mana pada tahun 1927 pada era kolonial sepak bola sudah menjadi idola arek-arek Suroboyo. Persebaya mulai tahun 1927 sampai di era 1980 merupakan klub sepak bola amatir yang menjadi salah satu cabang olahraga sepakbola di Kota Surabaya, bahkan di era tahun 1980 ada klub profesional pertama dari kota Surabaya yang bernama Niac Mitra,”kata Baktiono kembali. [dre]

Tags: