Gelar Budaya Tradisional ‘Pasar Wisata Bedrek’, Diserbu Ribuan Siswa

Ribuan siswa SMKN 1 Buduran berjubel antri berebut masuk lokasi Pasar Wisata Bedrek yang menyediakan jajanan dan tari tradisional. [Ahmad Suprayogi]

Kemeriahan SMKN 1 Buduran Uri-uri Budaya Jawi
Kabupaten Sidoarjo, Bhirawa
Bak air tumpah dari bendungan ketika dibuka. Itulah gambaran yang terjadi di halaman SMK Negeri 1 Buduran Sidoarjo, pada Jumat sore (5/8) lalu. Ribuan siswa dengan berpakaian tradisional berjubel antri di depan Gapura ‘Pasar Wisata Bedrek’ SMKN 1 Buduran.
Mereka sambil membawa mata uang tradisional, yang terbuat dari sebuah potongan-potongan bambu yang telah dimodifikasi, dengan sabar menuggu pintu dibuka secara resmi oleh Kepala SMKN 1 Buduran Sidoarjo. Betul, begitu dibuka ribuan siswa langsung menyerbu jajanan tradisional yang sudah siap untuk diperjual belikan.
“Bukan hanya makanan dan jajanan tradisional, mereka juga disuguhi mainan dan tari-tarian tradisional. Kegiatan ini adalah upaya kami menguri-uri budaya Jawi,” tutur Kepala SMKN 1 Buduran Sidoarjo, Dra Agustina MPd.
Menurutnya, nama Bedrek adalah cikal bakal Desa Siwalan Panji, tempat sekolah kita berada. Dusun Bedrek juga masih ada di Desa Siwalan Panji. “Memang awalnya banyak yang belum tahu dan bertanya nama Bedrek. Sekarang sudah mulai banyak yang tahu,” katanya.
Di area Pasar Wisata Bedrek ini, juga diisi dengan permainan ataupun penampilan seni, yang semuanya serba Jawa tempo dulu. Pasar Wisata Bedrek yang diadakan seminggu sekali, diharapkan bisa lebih banyak menarik pengunjung dari masyarakat luas. “Kita berharap Pemkab Sidoarjo bisa memfasilitasi, agar Pasar Wisata Bedrek bisa dibuka di pinggir jalan depan sekolah setiap seminggu sekali. Agar masyarakat luas bisa menikmati,” harap Bu Agustin_sapaan akrabnya.
Aneka jajanan tradisional yang mungkin sudah sulit didapatkan di pasaran, bisa kita temukan di tempat ini. Seperti jajanan nogosari, lupis, lemet, cenil, getuk, dan aneka cemilan tradisional lain ada di pasar tradisional. Termasuk pula nasi pecel, sego lentho, urap-urap dan makanan tradisional lainnya juga ada. Sementara minuman yang disediakan seperti sinom, kencur dan aneka minuman tradisional lain.
Hebatnya lagi, yang membuat makanan dan minuman tradisional tersebut para siswa-siswa itu sendiri. Jadi mereka membuat, menata stand dan menjualnya sendiri. Untuk alat transaksinya juga tidak menggunakan uang resmi, tetapi menggunakan uang dari kayu. Bukan hanya itu, dalam prosesi pembukannya juga menggunakan bahasa Jawa, termasuk juga MC nya juga menggunakan bahasa Jawa.
Di Pasar Wisata Bedrek, semua makanan dan jajanan yang dijual, tidak boleh menggunakan bahan plastik. Makanan yang semuanya buatan siswa sendiri, harus dibungkus dengan daun. Ataupun bila menggunakan piring juga dari anyaman bambu.Demikian pula minuman yang dijual tidak menggunakan gelas atau bahan plastik, melainkan menggunakan bambu atau batok kelapa. Juga tidak ada panci berbahan logam, yang ada adalah kuali dari tanah liat. Pembeli yang ingin menikmati makanan dan minuman, juga harus menukarkan uang mereka terlebih dulu dengan koin bambu. Uang koin bambu itulah yang digunakan untuk bertransaksi. Satu koin bambu senilai Rp 5 ribu.
Caca salah satu siswa mengaku senang dengan adanya pasar ini. Sebab dia bisa mendapatkan jajanan yang sudah sulit didapatkan di pasar lainnya. “Seperti getuk ini, saya suka karena enak dan tanpa bahan pengawet. Sekarang tidak mudah lagi mencari jajanan getuk,” katanya.
Syafrina Widya Purwaningrum siswi kelas XII Busana 1 mengaku sangat senang dengan gelar tradisional ini. Selain unik dan menarik, untuk makanan dan minumannya juga sangat enak. Tidak kalah rasanya dengan jajaran modern. “Kalau aku sejak dulu memang sudah senang dengan jajanan tradisional. Selain enak juga higienis, tidak ada campuran bahan pengawet,” ungkap Syafrina sambil menikmati gethuknya.
Hal yang sama juga diungkapkan Ajeng Lestari, sambil menikmati minuman dawetnya siswa kelas XII ini juga mengaku lebih senang jajanan Jawa. “Lebih enak, nyaman dan segar, tidak terasa ada bahan pengawetnya. Semoga gelar karya tradisional ini bisa dilakukan oleh teman-teman di sekolah yang lain,” ungkap Ajeng. [Ahmad Suprayogi]

Tags: