Gelar Doktor untuk Motivasi Anak-anak

Dr Rintis Jona MSi

Dr Rintis Jona MSi
Termotivasi dari kesenangannya melihat orang-orang yang pintar, membuat Dr Rintis Jona MSi selaku Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Sidoarjo, berjuang keras untuk meraih gelar yang lebih tinggi. Walaupun jelang purna tugas, namun berkat kegigihannya serta dorongan semangat dari keluarga dan rekan-rekan kerjanya berhasil meraih gelar doktor bidang ilmu administrasi dengan predikat sangat memuaskan.
ASN yang akan memasuki pensiun pada Desember 2020 mendatang mengaku, kalau sebenarnya mengejar pendidikan S3 itu untuk keluarga, dan juga untuk memotivasi anak-anaknya. “Kalau di bidang pekerjaan juga begitu untuk menyesuaikan diri. Jika ada tamu orang pintar-pintar itu senang sekali. Karena saat ditanya ini dan itu mereka bisa menjawabnya,” ungkap perempuan kelahiran Surabaya 2 Nopember 1962.
“Jadi saya itu sekolah benaran, ingin mengejar ilmunya, saya ini sangat ingin mendapatkan ilmunya. makanya walaupun jelang pensiun tetap saya lakukan dengan penuh semangat. Penuh perjuangan, apalagi rekan-rekan sekerja ini sangat luar biasa menyemangati,” ujar Rintis Jona yang sejak kecil bercita-cita ingin jadi Hakim.
Lanjutnya, entah karena apa, waktu sekolah dan kehdipan saya itu selalu mengalir saja. Justru saat kuliah tidak terkait dengan sarjana hukum sama sekali. “Usai pensiun nanti, saya ingin jadi apa juga belum terpikirkan sampai sekarang. Yang jelas keinginan saya itu kuliah untuk mencari ilmunya. Karena di keluarga saya itu menthok S2, tapi di keluarganya Bude itu banyak yang lulusan S3. Dari situ saya ingin sekali mengikuti jejaknya,” ungkapnya.
Jadi saya ingin sekali, apakah saya bisa, apakah saya mampu. Makanya itu berusaha terus untuk mencapai S3, dan Alhamdulillah bisa terwujud walupun sangat berat penuh perjuangan, harus berbagi waktu dengan keluarga dengan pekerjaan. “Perjuangannya memang sangat luar biasa, terutama waktu, yang mana harus kerja pagi sampai sore, terus kuliah juga harus jalan dengan baik. Kuliahnya tidak main-main, jika tidak mengikuti mata kuliah atau ketinggalan harus mengikuti di adik kelas. Kalau ikut adik kelas kan malu,” ungkap alumnus IKIP Surabaya ini.
Agar tidak ketinggalan, saya harus mencari, dimana ada mata kuliah itu harus masuk. Artinya secara akademi memang betul-betul harus dilalui, habis ujian terbuka pun syaratnya juga masih banyak yang harus dilalui. Termasuk pengisian data hingga sampai tingkat Dikti. Bahkan sampai saya hampir putus asa untuk memenuhi persyaratan tersebut. “Begitu juga saat ujian, bagi saya sangat luar biasa, orang satu diuji dengan sepuluh orang, ditambah tiga penguji akademik, sempat membauat saya nerves/gugup,” ungkap Bu Jona_sapaan sehari-harinya.
“Jadi habis ujian terbuka malah hampir putus asa, karena banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi data-datanya, termasuk data-data di webnya Dikti. Alhamdulillah berkat dorongan keluaraga teman-teman semua akhirnya bisa terselesaikan dengan baik, bahkan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan,” pungkas Rintis Jona. [ach]

Rate this article!
Tags: