Geliat Pepadi Nganjuk Ditengah Pandemi

Kepala Disparporabud, Drs Gunawan Widagdo MSi melantik Pengurus PEPADI periode 2021-2026 di Pendopo Kabupaten Nganjuk. [ristika]

Nganjuk, Bhirawa
Di tengah pandemi yang sepi pagelaran, pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kabupaten Nganjuk dilantik di Pendopo Kabupaten Nganjuk. Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olah Raga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk, Drs Gunawan Widagdo MSi yang melantik Pengurus PEPADI periode 2021 – 2026.
Pelantikan ditandai dengan pembacaan ikrar, dilanjutkan dengan pemasangan samir oleh Gunawan Widagdo kepada Pengurus PEPADI yang baru. Dalam sambutannya Gunawan berpesan agar Pengurus PEPADI yang baru dilantik agar terus konsisten menumbuh kembangkan seni budaya. Apalagi pedalangan perlu mendapat perhatian dalam rangka pelestarian seni budaya.
“Untuk menumbuhkembangkan seni budaya yang perlu diperhatikan dalam pelestarian salah satunya adalah dengan seni pedalangan. Maka melalui wadah PEPADI ini akan mempersatukan para dalang yang ada di Kabupaten Nganjuk,” tutur Gunawan.
Menurut Gunawan, profesi dalang tidaklah mudah karena harus dapat menguasai beberapa aspek keterampilan. Mulai dari penguasaan materi cerita, materi gending, materi sastra, dan keterampilan memainkan solah wayang yang disebut dengan sabet. Maka diperperlukan adanya inovasi dan kreatifitas yang dapat menjadikan pertunjukan wayang kulit bisa berjalan menarik.
“Untuk itu, meneruskan pesan Kang Marhaen, beliau menyampaikan semoga pengurus PEPADI yang baru ini bersama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk bergandeng tangan melestarikan seni budaya pedalangan di Nganjuk,” tambahnya sambil menyampaikan apresiasi bagi pengurus PEPADI periode sebelumnya.
Meski pandemi dan sepi pagelaran PEPADI Nganjuk tetap menggelar pertunjukan wayang secara virtual. Bahkan dalang – dalang muda juga bermunculan dengan prestasi segudang. Sebut saja Luthfi Badaralam dan R Akbar Syahalam adalah kakak beradik yang menjadi dalang sejak kecil asal Kabupaten Nganjuk juga kerap tampil secara virtual Saat pandemi Covid 19 ini. ”Sekarang sepi tanggapan karena pandemi Covid 19,” ujar Badar.
Badaralam dan Akbar Syahalam, bersama grup wayang kulit Asthabrata, sejak kecil sudah belajar dalang. Badar yang berusia 26 tahun dan Akbar, adiknya berusia 21 tahun sudah malang melintang di dunia wayang kulit. Mereka sudah tampil di beberapa daerah di luar Nganjuk.
Dengan Grup Asthabrata, Badar dan sang adik terkenal sebagai dalang muda asal Nganjuk. Namun karena adanya larangan berkerumun dan menggelar pertunjukan wayang, Badar dan Akbar tidak bisa pentas. Agar kemampuan mendalang tidak hilang, Badar dan Akbar tetap pentas secara virtual atau online lewat media Youtube.
“Jika tidak ada tanggapan, kami sering tampil di sanggar untuk menghibur masyarakat,” kata Badar. [ris]

Tags: