Gerakkan Perekonomian Daerah, Pelaku UMKM pun Menuai Berkah

Pengelolaan rest area km 215 Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) yang berada di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung membuktikan komitmen Hutama Karya untuk memberdayakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan menengah (UMKM) di daerah sekitar rest area. Produk yang dijual selain kuliner juga hasil kerajinan dari UMKM setempat.

Dampak Eksistensi JTTS sebagai Koridor Ekonomi

Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) oleh PT Hutama Karya (Persero) perlahan namun pasti memberikan dampaknya. Sentra sentra perekonomian baru mulai bangkit dan tumbuh. Kalau sebelumnya perekonomian di Sumatra lebih berfokus pada kelapa sawit, karet, batu bara, perkapalan dan besi baja, maka hadirnya JTTS menumbuhkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sektor kuliner, kerajinan lokal dan memantik menggeliatnya destinasi wisata dan ekonomi kreatif lainnya.

Wahyu Kuncoro SN, Wartawan Bhirawa

“Bakal tersambungnya JTTS mulai dari Lampung hingga Banda Aceh telah memfasilitasi tumbuhnya sentra-setra perekonomian baru sehingga Sumatera menjelma menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Muhammad Fauzan.

Menurut Fauzan, pengembangan kegiatan ekonomi memerlukan konektivitas (infrastruktur), yang harus didukung oleh ketersediaan energi yang cukup, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan investasi.

“Konektivitas di Sumatera perlu didukung agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu di Pulau Jawa, namun merata ke berbagai wilayah, sehingga keseimbangan kondisi infrastruktur dapat tercapai,” jelas Fauzan. Lebih lanjut menurut Fauzan, kehadiran infrastruktur jalan di Sumatera diyakini akan memberikan dampak positif kepada masyarakat, serta meningkatkan produktivitas kegiatan ekonomi.

Sebagai contoh kelapa sawit, tingkat produksi Crude Palm Oil (CPO) sangat bergantung pada waktu tempuh, sebab kualitas Tandan Buah Segar (TBS) akan menurun dalam 48 jam setelah pemetikan. Namun dengan adanya JTTS, waktu tempuh bisa menjadi lebih singkat sehingga mampu meningkatkan kapasitas serta kualitas, tak hanya kelapa sawit namun sumber daya alam lainnya.

Wujudkan JTTS sebagai Koridor Ekonomi

Hutama Karya sebagai salah satu BUMN, terus bertransformasi menjadi perusahaan yang transparan, akuntabel, dan memiliki daya saing tinggi baik dari sisi bisnis, produk, teknologi, serta kualitas sumber daya manusia. Dalam sektor infrastruktur, Hutama Karya saat ini sedang menjalankan mandat pemerintah untuk membangun dan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.765 km, yang akan membentang dari Lampung hingga ke Aceh.

Dalam sebuah kesempatan, Direktur Utama Hutama Karya Budi Harto mengatakan bahwa mengingat Pulau Sumatra sebagai penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kedua di Indonesia, Hutama Karya tak hanya berfokus pada pembangunan konstruksi JTTS, tapi juga turut membangkitkan perekonomian di Sumatra melalui semangat ‘value capturing’ potensi bisnis di Sumatra.

“Dengan adanya penyediaan infrastruktur tersebut, Hutama Karya turut mewujudkan eksistensi JTTS, sebagai koridor ekonomi baru. Selain juga sebagai bentuk pemerataan, tak hanya dari sisi infrastruktur namun juga dari sisi ekonomi di Indonesia,” ujar Budi. Lebih lanjut, Budi mengatakan bahwa sesuai dengan visi pemerintah tentang pembangunan, Indonesia tidak lepas dari posisinya yang berada dalam dinamika regional dan global.

Secara geografis, Indonesia terletak di Kawasan Timur Asia (termasuk Asia Tenggara), yang merupakan jantung pertumbuhan ekonomi dunia. Indonesia menjadi salah satu negara dengan luas kawasan terbesar, penduduk terbanyak, dan sumber daya alam terkaya, yang mana di antaranya berada di Pulau Sumatera. Oleh karena itu, pembangunan JTTS termasuk agenda prioritas pemerintah yang dikategorikan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Saat ini tegas Budi, Hutama Karya terus berfokus dalam membangun dan mengembangkan JTTS sebagai salah satu PSN.

“Harapannya agar dari pembangunan ini dapat menggerakkan ekonomi rakyat, sehingga wilayah-wilayah di Indonesia, dalam hal ini Pulau Sumatra, turut menjadi bagian penting dari rantai produksi regional dan global, yang berperan mengakselerasi pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi, menuju Indonesia maju,” tegas Budi optimis.

Infrastruktur Nilai Tambah Investasi

Di tengah penurunan ekonomi dunia semenjak Covid-19 melanda, perlu dipetakan jenis investasi untuk menarik minat para investor, terutama yang berkaitan langsung dengan pemanfaatan jaringan infrastruktur khususnya jaringan jalan, pelabuhan, dan bandara yang dianggap jadi salah satu faktor memungkinkan bergeraknya investasi.

Pakar infrastruktur dan tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Dr Machsus Fawzy menilai selama pemerintahan Joko Widodo pembangunan infrastruktur masif dilakukan untuk meningkatkan konektivitas.

“Banyak jaringan jalan sudah mulai dibangun, bagi investor kelengkapan infrastruktur menjadi nilai tambah dalam konteks efisiensi, efektivitas dalam pengembangan investasi.” ujar Machsus.

Menurut Machsus, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang terbentang mulai dari Lampung hingga Banda Aceh sepanjang ± 2.765 kilometer ini masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dimana pembangunannya diprioritaskan oleh Pemerintah Indonesia untuk dapat mendukung perekonomian daerah setempat. Diharapkan pembangunan keseluruhan tol ini dapat memberikan kontribusi serta melengkapi infrastruktur sebagai nilai tambah investasi di Indonesia.

Hadirnya JTTS jelas Machsus juga diharapkan dapat menjadi penyeimbang pemerataan ekonomi di Indonesia.

“Bahwa data persebaran wilayah investasi antara Jawa dan di luar Jawa yang semakin berimbang, salah satunya karena kelengkapan infrastruktur,” jelas Machsus lagi.

Menggerakkan UMKM dan Destinasi Wisata

Hutama Karya berkomitmen untuk terus melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan menengah (UMKM) daerah sekitar rest area yang dikelola, dalam pengembangan sentra oleh-oleh tersebut, Hutama Karya juga berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) setempat. Komitmen tersebut dibuktikan ketika secara resmi membuka pusat oleh-oleh di Rest Area KM 215 yang menggandeng Dekranasda Provinsi Lampung dan Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), dimana produk yang dijual merupakan hasil dari pengrajin yang ada di Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Tubaba.

”Produk yang dijual pun beragam dari mulai makanan khas Lampung seperti Seruit (ikan baung yang dipadupadankan dengan sambal terong dan tempoyak) hingga kerajinan khas Lampung yang terbuat dari anyaman bambu (Dedhek),” kata Direktur Operasi III Hutama Karya, Koentjoro.

Menurut Koentjoro, kolaborasi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan Hutama Karya terhadap UMKM lokal serta menjadi sarana untuk mempromosikan kebudayaan dari Provinsi Lampung.

“Kami berharap dengan adanya Sentra oleh-oleh khas Lampung ini bukan hanya dapat membantu para pengrajin lokal tetapi juga sekaligus dapat membuat orang yang mampir di rest area ini lebih aware terhadap kebudayaan dari daerah setempat,” ujar Koentjoro.

Hingga saat ini telah terdapat 58 UMKM di Rest Area 215 yang terdiri dari tenant makanan, minuman, minimarket, resto dan lainnya. Selain itu di rest area ini juga terdapat fasilitas seperti toilet, Masjid, ATM, Bengkel, SPBU dan masih banyak fasilitas lainnya yang sudah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) rest area atau Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) yang ditetapkan oleh Kementerian PUPR.

Hutama Karya telah mengelola 21 rest area dengan menerapkan sistem pengalokasian minimal 30 persen lahan khusus untuk UMKM lokal dengan aturan ruang untuk UMKM disewakan dengan harga yang nilainya jauh lebih rendah dari nilai sewa untuk ruang komersial guna meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Bukan hanya UMKM saja yang bakal tumbuh, dunia wisata pun bakal ikut bergairah seiring dengan kehadiran JTTS. Ruas Jalan Tol Pekanbaru – Dumai misalnya, manfaatnya tidak hanya akan mempercepat distribusi barang dan mempersingkat waktu. Namun jauh dari itu, akan berpengaruh terhadap destinasi wisata terlebih yang berada di salah satu pulau terluar Indonesia, Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, Anharizal menyatakan bahwa keberadaan pantai berpasir putih di Kecamatan Rupat Utara tak kalah indah dengan destinasi wisata yang telah mendunia seperti Bali dan Lombok. Paling tidak, potensi wisata bahari yang ada di pulau terluar Indonesia ini termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KPSN) dan letaknya strategis untuk dapat dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

“Kalau dari Pekanbaru, jalan konvensional atau bukan tol ke Dumai sekitar 6 jam lebih. Tentu mereka (wisatawan) sudah letih dan mungkin menginap terlebih dahulu sebelum menuju Pulau Rupat. Akan tetapi, dengan beroperasinya JTTS ruas Pekanbaru – Dumai notabene 1,5 jam wisatawan sudah sampai ke Dumai dan selanjutnya tinggal menyeberang ke Pulau Rupat yang hanya memakan waktu sekitar 40 menit.” ungkap Anharizal. Anharizal meyakini bahwa industri pariwisata mampu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Selain itu, keberadaan Tol Pekanbaru – Dumai juga akan meningkatkan arus ekspor dan impor. Melalui Pelabuhan Dumai sebagai pelabuhan utama Provinsi Riau sekaligus pintu utama ekpor dan impor.

——— *** ———-

Tags: