Gibol

Oleh :
Finka Novitasari

Toyib ketar-ketir. Pasalnya Gibol belum juga datang. Matanya menatap lurus ke bawah pohon sawo yang menaungi masjid. Biasanya Gibol akan muncul dari sana. Melemparkan senyum tulusnya. Lalu, duduk di bawah pohon sawo untuk menatap langit yang katanya selalu ada jawaban dan penjelasan untuk segalanya: setiap rasa sakit, setiap penderitaan, kegembiraan dan kebingungan. Namun, sudah bakda Zuhur, Gibol belum nampak juga.

Gibol namanya. Orang-orang memanggilnya demikian, sebab tidak ada yang tahu persis siapa nama aslinya. Oh ya, ada baiknya bila berpapasan dengannya, memberikan seulas senyum dan Gibol pun akan membalasnya dengan senyum tulus. Senyum tanpa kebohongan dan kepalsuan. Namun, malah diartikan gila oleh orang-orang. Sebenarnya apa yang menjadi patokan waras tidaknya seseorang, hingga mengecap dirinya lebih waras dari orang lain?

Toyib kerap berbincang dengan Gibol di sela-sela kesibukannya mengurus masjid. Meski obrolannya terkadang tidak nyambung, Toyib tidak keberatan untuk berkawan dengan orang gila itu. Orang-orang menganggap Gibol tidak waras, sebab tingkah lakunya yang tidak seperti orang normal pada umumnya. Sering kali Gibol mengubrak-abrik tong sampah untuk mencari sisa makanan. Kadang juga bermain dengan anak-anak kecil. Meski sebenarnya anak-anak kecil itu kerap mengejek dan menertawakannya, tapi Gibol malah ikut tertawa dan sepertinya tidak menyadari bahwa yang jadi objek tertawaan mereka adalah dirinya. Namun, orang tua dari anak-anak tersebut akan marah kalau mengetahui anaknya bermain dengan Gibol. Mereka tidak ingin anaknya bergaul dengan orang gila.

Saban hari Gibol mendatangi masjid, lalu duduk di bawah pohon sawo depan masjid. Tujuannya bukan untuk salat, melainkan bercengkrama dengan Toyib sambil menyesap tembakau dan meminum teh buatan Toyib. Akan tetapi, ketika waktu salat tiba, Toyib bersiap untuk azan dan Gibol juga pergi dari sana. Sedikit pun Toyib tidak pernah memaksa Gibol untuk salat bersamanya, mengingat tak ada kewajiban salat untuk orang yang kehilangan akal. Meskipun demikian, Toyib tetap berharap suatu saat Gibol bisa sembuh dari gangguan jiwanya.

Selepas mengepel lantai masjid, Toyib duduk seorang diri di bawah pohon sawo. Seperti ada yang mengganjal di hatinya. Senyum tulus Gibol! Toyib pun tidak mengerti mengapa baru sehari tidak berjumpa dengan Gibol, tapi rasanya begitu kehilangan yang sangat mendalam.

Satu jam kemudian Gibol tiba, lalu duduk di samping Toyib. Tidak biasanya ia baru datang jam segini. Namun, ia datang dengan wajah penuh luka. Matanya sembab. Pelipisnya terkoyak. Darah segar mengucur dari sana.

“Engkau kenapa?” Toyib cemas.

Gibol bergeming. Air mukanya datar, tak menampakkan kesedihan sedikit pun. Padahal wajahnya biru lebam.

Suasana hening sejenak. Gibol menatap lurus. Bibirnya masih tertutup rapat. Toyib menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, karena bingung harus berbuat apa. Ketika Toyib hendak beranjak untuk mengambil kompresan, tiba-tiba Gibol membuka suara.

“Yang miskin semakin terkoyak, tertindas di bawah sepatu kesewenang-wenangan,” celetuk Gibol, dan Toyib pun tidak mengerti apa maksudnya. Dibiarkan saja Gibol menyelesaikan ucapannya dulu. “Yang kaya semakin angkuh, berpesta di atas darah kemanusiaan,” tukasnya sembari mengusap air matanya yang baru saja menetes.

Gibol memang kerap berujar nyeleneh. Sementara Toyib hanya bisa memakluminya.

“Apa engkau dituduh maling ayam lagi?” Toyib mencoba menerka-nerka sambil kembali duduk.

Gibol menoleh. Air mukanya yang semula durja berubah menjadi sesungging senyum. Ya, senyum itu lagi. Senyum tulus tanpa kepalsuan dan terdapat makna tersembunyi di balik senyumnya itu. Gibol menatap langit. Toyib mengikutinya. Tampak awan berbentuk seperti gumpalan kapas berduyun-duyun menjelajah angkasa. Tanpa tepi. Lama sekali mereka mendongakkan kepala.

Saat matahari mulai condong ke ufuk Barat, Toyib teringat sesuatu. Waktu Asar telah tiba! Ia harus segera azan. Toyib bergegas mengambil wudu, namun sebelum itu, ia meminta Gibol supaya tidak pergi dulu. Sebab, ia belum sempat untuk mengobati luka di wajah Gibol.

“Tapi aku mau tidur,” tolak Gibol.

Toyib pun akhirnya mengerti, dan mengizinkan Gibol untuk pergi. Ia menatap lekat-lekat Toyib yang tengah tergesa-gesa. Gibol tersenyum. Sebelum Toyib masuk ke dalam masjid, ia menoleh ke belakang. Senyum itu lagi yang membekas dalam benak Toyib.

Hingga saat salat pun Toyib terngiang-ngiang senyum Gibol. Hatinya terus terusik, seperti tiada kesejukan yang ia rasakan, tiada ketenangan yang ia temukan. Batinnya dirundung gelisah. Baru kali ini Toyib tidak bisa khusyuk dalam salat. Entah mengapa ia merasa senyum Gibol itu terdapat makna yang amat mendalam, tetapi dia sendiri pun tidak mengerti apa itu.

Selepas salat, Toyib kembali ke bawah pohon sawo. Benar saja, Gibol sudah tidak ada di sana. Masih terngiang dalam benak Toyib perkataan Gibol: Yang miskin semakin terkoyak, tertindas di bawah sepatu kesewenang-wenangan. Yang kaya semakin angkuh, berpesta di atas darah kemanusiaan. Lalu apa maksudnya?

Tiba-tiba muncul inisiatif Toyib untuk mencari keberadaan Gibol. Namun, ia sendiri juga tidak tahu harus mencari ke mana. Meskipun sudah lama mengenal Gibol, Toyib tidak pernah tahu di mana tempat tinggal Gibol. Bahkan tempat yang sering Gibol singgahi selain masjid ini, ia pun tidak tahu lagi.

Niat Toyib sudah bulat. Ia ingin mencari keberadaan Gibol di mana pun berada. Mula-mula ia ke pasar. Barang kali Gibol ada di sana. Namun, sudah seluruh sudut pasar ia telusuri, Toyib tidak menemukan Gibol di sana. Tiap penjuru kampung juga ia jelajahi, tapi hasilnya masih tetap nihil.

Matahari semakin membias jingga. Namun, tak sedikit pun menyurutkan niat Toyib untuk mencari keberadaan Gibol. Langkahnya semakin pasti. Menerobos temaram yang besiap mengaburkan pandangannya.

Toyib tak peduli, seberapa jauh ia berjalan. Ia memasuki hutan di ujung desa. Peluhnya terus menetes meski udara dingin begitu menusuk tulang. Semak belukar maupun batuan besar berkali-kali menggores kaki Toyib. Tujuannya tetap satu: menemukan keberadaan Gibol.

Hari mulai gelap. Suasana mencekam. Untunglah Toyib membawa senter kecil di sakunya. Hingga hari sudah benar-benar gelap dan Toyib belum juga menemukan Gibol.

Terdengar suara jangkrik dan bangkong saling bersahutan, ditambah lagi decit burung malam di ranting-ranting pohon. Toyib melihat lamat-lamat kelelawar bergerombol keluar dari mulut sebuah gua. Samar-samar ia juga mendengar sesuatu dari dalam gua, yang pasti bukan suara kelelawar atau pun burung hantu. Rasa penasarannya telah mendorong Toyib untuk memasuki gua tersebut.

Gelap. Sempit. Sesak. Toyib terus menelusuri gua di tengah hutan tersebut. Semakin lama suara yang didengarnya tadi semakin menggema dan memantul dari dinding stalaktit.

Lantunan ayat suci! Ya, tidak salah lagi. Lantas, suara siapakah itu? Mungkinkah ada manusia yang tinggal di dalam gua tersebut?

Semakin lama lorong gua semakin sempit. Berkali-kali badan Toyib terbentur stalaktit maupun stalagmit gua. Ketika sudah sampai di ujung gua, terdapat bias cahaya yang memantul di dinding gua yang berasal dari lampu sempor.

Toyib terhenyak tatkala melihat apa yang di hadapannya kali ini. Seolah angin membisikkan sebuah kebenaran. Badannya hampir ambruk kalau saja tidak berpegangan dinding stalaktit dengan kuat.

Di hadapannya kali ini benar-benar sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi. Kebenaran tentang seorang wali Allah yang hanya tampak di kesunyian syahdu. Tak sedikit pun tersentuh ingat bingar duniawi.

Lantunan ayat suci bertalun-talun di bawah naungan stalaktit gua. Toyib masih mematung. Meresapi setiap ayat yang keluar dari bibir orang yang dianggapnya gila selama ini.

Tak terasa, bulir bening berhasil lolos dari pelupuk mata Toyib tatkala mendengar bacaan, “Wa huwa ma’akum ayna maa kuntum; Wallaahu bimaa ta’maluuna basiir.”

Lantunan ayat suci tersebut benar-benar menohok batin Toyib. Ada makna mendalam dari bacaan tersebut: Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

“Allahu Akbar,” bibir Toyib bergetar dan suaranya sedikit serak.

Gibol yang baru menyadari kehadiran seseorang di belakangnya, lantas menghentikan tartilnya. Gibol menoleh. Toyib mendekat.

“Demi Allah, engkau bukan orang gila,” ucap Toyib kelu dengan air matanya yang masih mengalir deras.

Tiba-tiba Gibol ikut menangis, “Ya Allah, apa dosaku, hingga kau membuka identitasku yang sebenarnya?”

Gibol dan Toyib sama-sama terlarut dalam haru. Mereka saling menatap.

“Engkau telah berhasil menemukan tempat persembunyianku. Apa yang kau inginkan hingga mencariku seperti ini?” tanya Gibol.

“Wahai wali Allah, mengapa engkau harus berpura-pura gila seperti ini? Sungguh, engkau bukanlah orang sembarangan. Tak selayaknya engkau diperlakukan buruk oleh kami yang telah menutup hati akan kebenaran ini.”

“Aku tidak ingin dikenal oleh dunia. Biarlah diriku tidak dikenal oleh penduduk bumi, asalkan namaku harum di kalangan ‘penduduk langit’.”

Suasana kembali hening untuk waktu yang cukup lama. Benar-benar hening.

“Aku memang tidak gila. Sesungguhnya merekalah yang gila!”

Tiba-tiba suara Gibol membelah sunyi. Semula hanya terdengar kepak kelelawar dan kini ada suara manusia yang menelusup ke dalam gendang telinga Toyib. Suaranya sedikit berat, tak seperti sebelumnya.

“Lantas mengapa engkau berpura-pura dan bertingkah layaknya orang gila?” tanya Toyib kembali.

“Sekarang saya balik tanya, tidakkah lebih gila orang yang sedih kehilangan barangnya ketimbang kehilangan salatnya? Tidakkah lebih gila orang yang melulu menyalahkan orang lain ketimbang menyadari kesalahannya sendiri?”

Yogyakarta, Juni 2021

Tentang Penulis :
Finka Novitasari lahir pada tanggal 29 Juli 2001 di Pacitan, Jawa Timur. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi semester dua program studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Alma Ata Yogyakarta. Bergiat di dunia sastra dan tergabung dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).

Rate this article!
Gibol,5 / 5 ( 2votes )
Tags: