Gubernur Paparkan Dua Kunci Menangkan Persaingan AEC 2015

5-diklatpimPemprov, Bhirawa
Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo memaparkan dua kunci agar bisa memenangkan persaingan di Asean Economic Community (AEC) 2015. Dua kunci tersebut adalah masyarakat Jatim harus memiliki  daya saing yang kuat,  dan penguasaan  pasar dalam negeri.
Dua hal tersebut menjadi hal yang paling penting. Jatim dituntut untuk memiliki daya saing yang kuat. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa meningkatkan daya saing tersebut, salah satunya adalah membangun SMK Mini.
Dengan mendirikan SMK mini, akan diciptakan tenaga kerja yang siap untuk bersaing di AEC 2015. Pemprov Jatim berencana membangun 70 SMK mini pada tahun ini, dan angka tersebut akan bertambah pada tahun depan. Metode yang diajarkan di SMK mini adalah  menciptakan tenaga kerja formal yang siap bekerja dan diberikan materi khusus selama enam bulan.
“Pastinya, SMK Mini menciptakan tenaga kerja formal yang diberikan perlindungan hukum di dunia. Pada tahun 2015 ditargetkan akan tercipta 80 ribu tenaga kerja yang berasal dari SMK Mini,” kata Soekarwo saat memberikan Ceramah Tematik pada peserta Diklatpim Tingkat II angkatan XXIII, Diklatpim Tingkat III angkatan X dan XI dan Diklat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Prov. Jatim di Badan Diklat Prov. Jatim, Jl. Balongsari Tama, Surabaya, Selasa (4/6).
Upaya lain yang dilakukan adalah mempersiapkan para tenaga kerja untuk diberikan keterampilan khusus di Balai Latihan Kerja (BLH) Plus. Berbagai upaya tersebut adalah upaya untuk membuat tenaga kerja dari Jatim memiliki standarisasi yang siap bekerja dan memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan pada pasar AEC 2015.
Untuk bisa bersaing pada AEC 2015, pengusaha Jatim juga harus bisa melakukan penguasaan pasar dalam negeri.  Salah satu wujud upaya penguasaan pasar dalam negeri adalah meningkatkan nilai ekspor dan mengurangi nilai impor Jatim.  Komposisi ekspor dan impor masih menjadi persoalan.  Beberapa produk ekspor Jatim sebagian besar masih berupa bahan mentah, sedangkan impornya sebagian besar adalah barang jadi.
“Sebenarnya,  untuk meningkatkan nilai ekspor, bahan mentah harus diolah terdahulu di Jatim sehingga nilainya akan meningkat. Apabila hal tersebut bisa terjadi, pasar dalam negeri sanggup dikuasai Jatim. Dengan demikian menandakan Jatim siap menghadapi AEC 2015″ jelas Pakde Karwo sapaan akrabnya.
Ia mencontohkan, salah satu meningkatkan nilai ekspor adalah dengan mengolah bahan baku yang akan diekspor dengan membangun smelter. Sehingga nantinya nilai ekspornya bernilai.  Pemprov Jatim berencana membangun beberapa smelter di  Jatim diantaranya  di Situbondo untuk cluster ferronikel,  di Lumajang  untuk cluster tembaga, emas dan biji besi, di Gresik dan Tuban untuk cluster  ferronikel dan tembaga. ” Setidaknya,  akan dibangun lima smelter di beberapa daerah di Jatim. Itu untuk menekan nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor,” tegasnya.
Pemprov Jatim  juga akan membuat kebijakan  umum untuk pembangunan Jatim dimana dibagi ke beberapa perspektif, diantaranya  perspektif masyarakat  dimana akan  dibuat program  yang didesain guna  meningkatkan  kesejahteraan  untuk semua lapisan masyarakat,  perspektif  proses internal  yaitu meningkatkan profesionalisme  SDM untuk meningkatkan pelayanan  public,  perspektif kelembagaan yaitu mengimplementasikan  reformasi birokrasi,  dan perspektif  keuangan yaitu optimalisasi  desain  kebijakan  pendapatan  daerah,  kebijakan  belanja daerah  dan kebijakan  pembiayaan daerah.
Selain itu, kemandirian pangan juga menjadi fokus bagi Pakde Karwo.  Kedepan akan dilakukan upaya peningkatan  indeks pertanaman (IP) di Jatim,  dari 1,83 menjadi  2,30, merencanakan  inseminasi buatan satu  jtua ekor sapi untuk memenuhi  defisit kebutuhan daging nasional  sebesar  132 ribu ton/tahun atau setara dengan  780 ribu ekor sapi.
“Selain itu,  akan dibangun floodway plangwot  yang berguna mengurangi bencana banjir akbiat luapan Sungai Bengawan Solo, juga bisa digunakan untuk  mengaliri sawah yang memiliki IP sebesar satu , sehingga kedepannya IP-nya bisa meningkat menjadi tiga. Secara tidak langsung para petani akan menikmati hasil panen lebih banyak,” tambahnya.
Untuk peningkatan pelayanan publik, tiap tahunnya Pemprov Jatim selalu memberikan pelayanan terbaik diantaranya dengan  membangun Pelayanan Perijinan Terpadu (P2T)  yang memberikan  kepastian syarat, waktu dan biaya bagi investor yang ingin menanamkan modal di Jatim. “Pemprov Jatim memberikan government guarantee  bagi para investor diantaranya tersedianya laham, power plan , perijinan yang dipermudah dengan online tracking system,  dan tersedianya tenaga kerja,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Pakde Karwo meminta para pejabat eselon di lingkungan Pemprov Jatim untuk  memperhatikan isu strategis pembangunan tahun 2015 dimana terdapat beberapa hal utama yakni melambatnya pertumbuhan ekonomi, kemandirian pangan,  ketidak seimbangan  struktur impor, dan  peningkatan  layanan publik.” Beberapa hal tersebut harus menjadi perhatian serius para pejabat di lingkungan Pemprov Jatim . Indikasinya adalah pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” pinta
Ia menjelaskan isu melambatnya pertumbuhan ekonomi merupakan imbas dari makro ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Sampai dengan  triwulan I tahun 2014 pertumbuhan ekonomi nasional  sebesar 5,21 persen,  sedangkan Jatim sebesar  6,4 persen. Oleh sebab itu  berbagai upaya dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi sehingga mengurangi inflasi di Jatim.
“Beberapa strong point kegiatan  sebagai upaya pengendalian inflasi  diantaranya subsidi ongkos angkut, aksi taktis pengendalian  impor hortikultura, sidak pasar, pengembangan akses informasi produksi dan harga, mengurangi asimetri informasi melalui telivisi, pasar rakyat bulog, melaksanakan pasar murah, penguatan produksi kedelai,”paparnya. [wwn]

Tags: