Gula Impor 600 Ribu Ton Siap Banjiri Indonesia

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

DPRD Jatim, Bhirawa
Tengarai terjadinya kebocoran gula rafinasi di masyarakat benar adanya. Buktinya, hasil dari pertemuan dengan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Pusat beberapa waktu lalu diketahui akan ada gula impor sebanyak 600 ribu ton pada triwulan pertama
Anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto mengaku sesuai hasil pertemuan dengan AGRI Pusat diketahui  akan datang gula impor sebanyak 600 ribu ton. Kalau ini dibiarkan maka dipastikan ribuan petani tebu akan mati, karena gula lokal mereka tidak terserap di pasaran. Karena itu, pihaknya mendesak kepada pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan tersebut yang jelas-jelas  merugikan petani tebu.
“Kami tak habis pikir apa alasan pemerintah mendatangkan gula impor 600 ribu ton. Padahal kita ketahui ada  800 ribu ton gula lokal yang masih menumpuk di gudang sejumlah pabrik gula di Jatim. Kalau ini dibiarkan maka dipastikan nasib para petani tebu di ambang kematian,”tegas politisi asal Partai Demokrat, Selasa (20/1).
Soal kemungkinan ada bongkar muat gula impor di Tanjung Perak, menurut Subianto tengarai itu tidak ada, karena gubernur lewat Pergubnya telah melarang adanya bongkar muat impor gula di Tanjung Perak. Sebaliknya yang ada kebocoran itu berasal dari wilayah lain yang merembes ke Jatim. “Tapi apapun alasannya kita tetap menolak gula impor yang jelas merugikan petani tebu,”tambahnya.
Yang pasti, lanjutnya untuk mengantisipasi serbuan gula impor rafinasi dan meningkatkan pendapatan petani tebu, ke depannya gula rafinasi yang akan digunakan untuk perusahaan makanan dan minuman (mamin) harus berbentuk cair. Selain itu, mendesak dilakukan revitalisasi pabrik gula secara total. Dengan begitu, ke depan pabrik gula tidak hanya menghasilkan gula, tapi juga spirtus, metanol dan  alkohol. “Kalau ke depannya pemerintah mempunyai kebijakan seperti ini, saya yakin nasib petani tebu akan membaik. Tapi jika tidak, maka pabrik gula hanya tinggal kenangan saja. Apalagi diketahui hampir 90 persen pabrik gula di Jatim kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga hasilnya tidak dapat maksimal,”papar pria asli Kediri ini.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jatim Pranaya Yudha menengarai telah terjadi permainan antar importir. Ini dibuktikan dengan adanya saling lempar antara instansi terkait yang meliputi Menperindag, Mentan dan Menteri Perkebunan serta para importir. Padahal mereka ini sangat bertanggungjawab atas gula impor yang masuk di Indonesia. Termasuk total jumlah impor yang ada.
“Secara pribadi saya melihat ada kesengajaan dari importir dan instansi terkait untuk cuci tangan. Padahal mereka ini justru mengetahui secara detil tentang impor gula tersebut. Kalau ini terus dibiarkan maka akan terjadi bencana pangan. Dan Jatim sebagai penyangga gula nasional kondisinya akan kolaps,”papar politisi asal Partai Golkar Jatim ini. [cty]

Tags: