Gunakan Teknologi Drip, Jadikan Tuban Area Agrobis

10-panen-semangka-kuningTuban, Bhirawa
Kawasan Tuban selama ini dikenal dengan hasil lautnya, namun dibawah kepemimpinan Bupati H. Fathul Huda bersama H. Ir. Noor Nahar Husain, M.Si, daerah yang dikenal dengan ‘Bumi Wali’ itu akan menjelma menjadi salah satu kawasan agrobis di Jatim.
Beberapa waktu lalu, H. Fathul Huda yang menghadiri acara kegiatan sosialisasi pengkajian ketahanan varietas lombok pada beberapa hama penyakit, dalam kesempatan itu bupati didampingi isti Qodiriyah Fathul Huda memanen melon yang menggunakan teknologi drip (irigasi tetes) di Desa Wadung Kecamatan Jenu.
Teknologi DRIP merupakan salah satu teknologi mutakhir dalam bidang irigasi yang telah berkembang hampir di seluruh dunia, Pada hakekatnya teknologi ini sangat cocok diterapkan pada kondisi lahan kering berpasir, air yang sangat terbatas, iklim yang kering dan komoditas yang diusahakan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi seperti dikabupaten Tuban.
Perbedaan sistem aplikasi dengan irigasi yang lainnya adalah bahwa air diberikan pada suatu titik tertentu dengan jumlah yang sangat terbatas. Pemberian air irigasi pada irigasi tetes diberikan secara langsung di sekitar daerah perakaran, dengan pola pembasahan tanah sangat terbatas pada luasan dan kedalaman tanah.
Perbedaan utama antara sistem irigasi tetes dengan sistem irigasi yang lain adalah bahwa kesetimbangan antara Etc dan pemberian air dipertahankan berkisar antara 24 sampai 72 jam. Pengoperasian sistaem irigasi dalam waktu yang singkat terutama berkaitan dengan pemberian air yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman untuk pengukuran status lengas tanah. Untuk memonitor status lengas tanah dapat digunakan tensiometer yang dipasang pada berbagai kedalaman.
Saat memanen melon, Fathul Huda mengaku bangga dengan kerja keras petani yang bernai melakukan inovasi. “Kami bangganya sekali, Sugianto (petani melon) harus dijadikan contoh petani lain untuk berani berinovasi di bidang pertanian.Dari hasil drip dan bibit baru dari Luar negeri ini, jika melon biasa yang hanya menghasilkan satu buah tiap pohon,dengan varietas baru ini menghasilkan paling banyak 5-6 buah, ini sangat bagus,” Katanya.
Bupati juga meminta pada Kepada Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) mengikuti Pekan Nasional KTNA di Malang, agar ilmu yang didapat di Malang dapat di terapkan di Tuban. “Petani diharapkan selalu berinovasi untuk mencari cara-cara baru menghasilkan tanaman/sayuran dan buah yang berkualitas dan bersaing, dan itu adalah harapan kami” Pungakas Bupati Huda.
Sementara itu, Sugianto sendiri saat dikonfirmasi sukses menanam melon dengan ketiga varietas melon baru tersebut mengakui memang masih belum diminati petani lokal. Faktor pasar menjadi alasan para petani belum merespon varietas yang sejatinya lebih menjanjikan, terutama Sakata Glamour yang sedikit peminatnya.
“Di pasar tradisional memeng kurang laku karena belum familier dan mungkin terlalu mahal. Kalau melon biasa dua buah, kalau ini (Sakata Glamor) cuma dapat satu,”Kata Gianto di tengah panen perdana melon varietas baru di ladang miliknya seluas 4 hektar ini.
Mantan Kades Wadung ini juga mencari pasar hingga surabaya dan beberapa kota besar lainnya. Hal ini untuk memperkenalkan varietas dan meneruskan bididayanya. Sementara untuk yang Eksen harganya lebih mahal yakni Rp 14 ribu per kilogram.
Awal pertama kali budidaya yang dirintisnya ini untuk Golden Apollo dilakukan  empat bulan lalu. dimana setiap 1 hektar lahan diberi bibit 4.500 batang. Bibit melon ini lebih sedikit dari jenis melon biasa yaitu sebesar 16 ribu batang. Hasilnya juga akan lebih banyak dibandingkan melon biasa, yakni sebesar 45 ton dari biasanya sekitar 30 ton. [hud]

Tags: