Guru Adalah Kunci Didalam Pendidikan, Tapi Masih Kekurangan 900 Ribu Guru

Jakarta, Bhirawa.
Wakil Ketua Komisi X DPRRI Fikri Fakih yakin bila anggaran pendidikan dikucurkan sesuai UU No. 20/2003 yakni sebesar 20 persen dari Rp 2.500,- triliun atau Rp 500 triliun, maka urusan pendidikan selesai. Tidak ada lagi keluhan guru honorer, sekolah roboh, sekolah gak punya Lab  gak punya perpustakaan, dsb. Mau pertumbuhan ekonomi 4 persen, 5 persen, enggak ngaruh, urusan pendidikan berjalan lancar bila alokasi Rp 500 triliun itu nyata.
“Kenyataan anggaran pendidikan 2019 untuk Kemendikbud cuma Rp 35 triliun dan Kemenristekdikti Rp 42 triliun. Lalu pada 2020 anggaran Kemendikbud Rp 36 triliun dan Kemenristekdikti Rp 41 triliun. Artinya anggaran pendidikan tahun 2019 sebesar Rp 77 triliun sama dengan anggaran tahun 2020, dari Rp500 triliun yang di amanatkan UU. Lantas kelebihan dana itu kemana ? Dalam diskusi dengan Kemendikbud ada dana judulnya, nomenklatur lucu. Bunyinya begini “dana transfer umum yang diperkirakan untuk pendidikan,”  tanda tanya Fikri Fakih ini terlontar dalam diskusi forum legislasi ber-tema ” UU No. 14/2005 Sejahterakan Guru ?”, Selasa sore (26/11). Nara sumber lainnya, Hetifah Syafrudin anggota Komisi X DPR RI dan Asep Sapaat, pengamat pendidikan.
Hetifah Syafrudin menekankan, bahwa Guru adalah kunci didalam pendidikan. Ironis ya, Indonesia sampai saat ini masih kurang sekitar 900 ribu Guru ASN/PNS. Itulah sebabnya banyak guru Honorer. Tantangan terbesar bagi Guru di era digital ini adalah penguasaan teknologi dan metode pembelaja dan yang baru dengan memanfaatkan teknologi. Dulu, guru itu sumber informasi, dimana mereka menyampaikan kepada murid. Sekarang siswa sudah terbiasa meng-akses informasi sendiri dan tugas guru untuk bisa memberikan saran, bagaimana menjaring informasi.
Tantangan terbesar yang dihadapi guru, tentunya harus ada alokasi dana untuk memastikan guru guru bisa meningkatkan kompetensi baru. Mengikuti perkembangan zaman, ketrampilan baru, yang mungkin tidak diperoleh saat mereka S1 atau D4 di LPTK yakni Universitas atau PT yang memproduksi guru-guru sekarang,” ungkap Hetifah. [ira]

Tags: