Guru Harus Siap Mengajar di Sekolah Terpencil

Ariyani Purwaningsih

Ariyani Purwaningsih
CPNS Sidoarjo tahun 2019 yang berhasil lolos dalam tes seleksi CPNS, khususnya formasi guru, nantinya harus siap untuk ditempatkan mengajar dimana saja. Meski nantinya harus ditempatkan di wilayah terpencil.
Seperti yang pernah dialami Ariyani Purwaningsih SPd, yang kini mengajar sebagai guru kelas di SDN Ketajen 2 Gedangan, Kab Sidoarjo ini. Ibu tiga orang putra itu menceritakan, saat diterima sebagai guru PNS, selama empat tahun, mulai tahun 1999 sampai 2001, dirinya langsung merasakan ditempatkan di SDN Kedungpandan Kec Jabon.
SDN yang dinilainya masuk dalam wilayah terpencil di Kab Sidoarjo ini. SDN itu berada di dalam lingkungan desa yang banyak terdapat kawasan pertambakan. Meski demikian, perempuan 46 tahun itu mengaku tidak patah semangat. Selama empat tahun tetap dijalani dengan sabar dan ikhlas.
“Apalagi disana sangat menghargai betul dengan profesi guru. Baik siswanya maupun orang tuanya,” tutur guru yang kini mengajar di SDN 2 Ketajen Kec Gedangan itu.
Ariyani setiap hari harus berangkat pagi – pagi sekali menuju ke tempat mengajar yang jauh dari tempat tinggalnya di wilayah Kec Gedangan itu. Meski demikian, ia mengakui masih belum bisa datang ke tempat ia mengajar itu dengan tepat waktu.
“Saya sebetulnya tidak ada masalah. Yang jadi beban saya itu, karena tidak bisa datang dengan tepat waktu. Sarana transportasi kesana agak susah. Apalagi saya sendiri tidak bisa naik motor saat itu,” kenangnya.
Ariyani menjelaskan, untuk menuju ke tempatnya mengajar di desa itu, terkadang lulusan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu harus menumpang atau membonceng warga masyarakat yang kebetulan menuju desa itu.
Dari tugasnya disana, Ariyani baru tahu kalau di Kab Sidoarjo yang termasuk daerah urban dari berbagai orang di Indonesia ini, masih ada wilayah yang masih sangat alami sekali. Namun pengalamannya itu dinilainya sangat menyenangkan.
Ariyani menceritakan, anak – anak didiknya sebelum pukul 12.00 atau dzuhur sudah mengingatkan guru bila sudah waktunya pulang. Sepulang dari bersekolah, murid-murid itu pergi ke tambak mencari ikan untuk membantu keluarga. Memasuki waktunya adzan, mereka harus belajar mengaji.
“Orang tua murid disana juga bilang, tidak apa bila anak – anaknya nilainya jelek, namun asal anak mereka bisa mengaji,” kata Arini mengenang.
Ariyani mengaku, karena jauh dari pusat-pusat informasi pada saat itu, sempat membuat SDM anak – anak di wilayah itu mungkin tidak begitu menonjol, apabila dibandingkan dengan anak sebaya di lingkungan yang dekat pusat – pusat informasi. [kus]

Tags: