Guru : Panggilan Hati Bukan Panggilan Gaji

ummi mukhoyarrohOleh:
Ummi Mukhoyyaroh
Mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang dan Sekjen Center and Democracy of Religius)

Berbagi ilmu kepada orang yang kurang tahu merupakan pekerjaan yang mulia. Predikat mulia ini disandang oleh seorang pendidik, yakni guru. Kemulian ini didasarkan karena peran pentingnya yang memiliki pengaruh besar dalam aspek kehidupan termasuk dalam menopang kehidupan negara. Guru mendidik dan membentuk karakter siswa sebagai generasi pembawa masa depan bangsa. Guru yang cerdas akan melahirkan murid yang cerdas dan menciptakan negara yang cerdas pula.
Menjadi guru adalah profesi mulia dan harus disertai dengan keikhlasan. Ikhlas merupakan sifat tulus tanpa pamrih, termasuk berbagi ilmu  kepada orang lain seperti yang dilakukan oleh guru. Ikhlas dalam meluangkan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengabdi kepada orang atau siswa sebagai objek utama guru dalam berdedikasi. Betapa mulianya guru dengan segala bentuk pengabdiannya demi membentuk karakter anak bangsa menjadi generasi yang benar-benar bisa diharapkan.
Namun, dewasa ini keikhlasan tersebut sudah mulai tidak terlihat pada pribadi seorang guru. Tidak jarang guru yang pamrih dengan amalan mereka. Mereka menuntut agar diberikan gaji yang cukup untuk menopang kehidupan pribadi dan keluarga mereka. Apalagi para guru honorer yang hanya diberi upah minim sesuai jumlah jam mengajar. Mereka sering berontak dengan gaji yang mereka terima setiap bulannya karena tidak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan.
Dalam paradigma Filsafat Yunani ada dua karakter pendidik, yakni Filosof dan Sofis. Keduanya merupakan sebutan untuk para ilmuwan. Namun, keduanya memiliki makna yang berbanding terbalik. Filosof adalah seorang ilmuwan yang dengan ikhlas mengabdikan ilmunya kepada orang lain. Sedangkan Sofis adalah ilmuwan yang pamrih dalam memberikan ilmu kepada orang lain. Bahkan, para Sofis sering mengobral ilmu dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan termasuk membodohi mereka yang diberikan ilmu.
Karakter mayoritas guru di Indonesia tidak jauh beda dengan Sofis. Jika Sofis adalah orang yang benar-benar pintar, jadi wajar jika dia menginginkan gaji. Ironisnya, guru yang menuntut untuk diberi gaji lebih adalah guru-guru yang tidak berkualitas. Guru masih pamrih dalam mengajar siswa. Bahkan, mereka yang bukan sarjana pendidikan bisa menjadi guru demi mengisi kekosongan waktu dan tidak dicap sebagai pengangguran. Dari hal ini semakin tampak jelas bahwa niat menjadi guru adalah karena panggilan gaji.
Paradigma seperti inilah yang semestinya dihapuskan dari benak seorang guru. Keinginan untuk menjadi guru seharusnya berasal dari panggilan hati bukan karena panggilan gaji. Sebab, menjadi guru merupakan sebuah kewajiban bukan pekerjaan yang harus mendapatkan imbalan, yaitu menitik beratkan guru sebagai sebuah profesi bukan pekerjaan.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Ungkapan ini ada sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto sebagai wujud penghargaan dan sanjungan bagi guru. Saat itu, guru hanya diberikan gaji yang sedikit. Karena itu, demi menghindari berontak dari para guru dan untuk membuat mereka merasa dihargai atas jasa mereka, Soeharto memberikan penghargaan kepada guru sebagai pahlawan.
Hingga sekarang, ungkapan ini masih sering disebut-sebut dan esensinya pun masih sama seperti yang dulu. Jika dikorelasikan dengan konteks kehidupan saat ini yang serba membutuhkan finansial, sanjungan atau pujian saja tidak cukup untuk menghargai pengorbanan para guru. Dengan sanjungan dan gaji yang sedikit tidak mampu  menopang kebutuhan sehari-harinya. Guru pun butuh penghidupan, dan butuh biaya (uang) untuk tetap bisa bertahan idup secara layak.
Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dalam acara yang bertajuk “Indonesia WOW, Provinsi WOW” di Jakarta, 22 Desember 2014 bahwa beliau bahwa guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab, jasa guru selalu melekat pada diri setiap warga negara yang pernah dididiknya. Dia juga menyatakan bahwa guru adalah pekerjaan yang mulia. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang hebat diperlukan pula guru yang hebat. Anies juga menyatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan kesejahteraan guru.
Di sisi lain, ungkapan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” memiliki makna yang mendalam. Ungkapan ini juga bisa dimaknai dengan “tanpa pamrih” atau dalam istilah jawa “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Maksud dari tanpa pamrih ini adalah niat yang benar, yakni tulus dan ikhlas dalam mengabdi. Niat adalah langkah awal sebelum bertindak. Niat yang salah akan membuahkan hasil yang salah pula.
Mencerdaskan siswa sebagai tujuan utama dan gaji sebagai tujuan selanjutnya akan mendorong guru untuk mentransferkan ilmunya secara komprehensif dan tidak ala kadarnya. Tidak hanya memeberikan materi yang telah tersusun di kurikulum, tapi juga pelajaran tentang kehidupan yang merujuk pada pengetahuan akhlak untuk membentuk karakter siswa. Sebaliknya, guru yang menjadikan gaji sebagai tujuan awalnya hanya akan mencetak siswa yang tidak berkualitas dan hanya memberikan dampak buruk bagi negara.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dedikasi yang dilakukan oleh guru memberikan kontribusi sangat besar bagi negara. Semua jenis profesi yang ada berawal dari jasa seorang guru. Insinyur, dokter, menteri, bahkan presiden tidak luput dari peran guru yang dengan tulus dan ikhlas mengontribusikan tenaga, waktu, serta fikirannya demi mencetak siswa menjadi orang-orang yang bisa dibanggakan.
Perlu digaris bawahi, bahwa guru merupakan profesi mulia. Selain harus mendapatkan sanjungan dan kehormatan, mereka juga patut untuk disejahterakan untuk menghargai jasa mereka dalam mendidik anak bangsa. Menjadi guru bukan berdasar atas panggilan gaji, tapi panggilan hati. Wa Allhu a’lamu bi ash-shawab.

                                                 ——————- *** ——————–

Tags: