Guru Penggerak, Sang Transformer

Oleh :
Yogyantoro
Pendamping Guru Penggerak Angkatan 3

Program pendidikan guru penggerak (PGP) saat ini telah sampai pada pendaftaran untuk angkatan ke-6. Program-program guru penggerak yaitu mandiri-reflektif, inovatif-kolaboratif dan berpihak pada murid. Program ini mengenalkan, mendiskusikan dan menyelaraskan pemikiran calon guru penggerak (CGP) tentang prinsip pendidikan yang memerdekakan.

Keberhasilan penerapan pendidikan yang memerdekakan di sekolah dapat ditandai dengan terciptanya sekolah sebagai tempat pembelajaran atau pemelajar sepanjang hayat, penyelenggaraan pendidikan yang mandiri dan merdeka lahir dan batin serta bebas dari tekanan.

Hal ini dalam upaya mewujudkan manusia seutuhya yang dapat berkontribusi pada masyarakat. Sekolah harus mampu menciptakan iklim kemandirian sehingga murid dapat menerapkan kedisiplinan tanpa harus ada paksaan. Selain itu sekolah harus dapat berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan murid dengan dunia nyata dengan cara melaksanakan asesmen hasil belajar dalam bentuk portofolio, karya dan kegiatan.

Oleh karena itu dibutuhkan kehadiran guru-guru penggerak yang dapat berperan sebagai fasilitator, kolaborator dan inspirator dan menjadi pendukung model pendidikan transformatif, berbasis konstruktivistik dan student-centered (berhamba pada anak atau murid).

Berhamba pada murid adalah filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantoro yang ingin mendorong perubahan radikal dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Di mulai tahun 1922 lewat lahirnya Taman Siswa di Yogyakarta yang menjadi gerbang emas kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa sekaligus jiwa rakyat untuk merdeka maka pendidikan harus menuntun hidup dan tumbuhnya anak-anak.

Guru penggerak yang berada dalam garda terdepan pendidikan perlu menuntun segala kodrat yang ada pada murid-murid agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Murid itu seperti benih tanaman dan guru seperti petani. Petani tidak dapat mengganti kodrat iradatnya padi. Petani tentu tidak akan bisa menjadikan padi yang ditanamnya tumbuh sebagai jagung. Bahkan dalam aliran negative dijelaskan bahwa siapapun tidak dapat mengubah karakter murid sedangkan dalam teori convergentie dinyatakan bahwa anak yang dilahirkan itu diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulis penuh meskipun semua tulisan itu masih suram. Sebagaimana asas Taman Siswa mengajarkan kepada kita bahwa segala tingkah laku dari segala kehidupan anak-anak itu sudah diisi Sang Maha Among (Pemelihara). Maka yang seharusnya dilakukan oleh guru penggerak adalah mendekati murid berbekal hati yang suci dan mau berhamba pada murid. Harapannya agar murid dapat lebih menguasai dirinya (zelfbeheersching). Misalnya ada murid yang takut naik pesawat, maka dengan penguasaan diri yang baik sebenarnya murid tersebut bukan berubah menjadi orang yang berwatak pemberani, hanya saja rasa takutnya tidak lagi nampak karena sudah mendapatkan kecerdasan pikiran.

Dalam upaya mencapai tujuan tersebut di atas guru penggerak menggunakan metode among siswa dalam penyelenggaraan pembelajaran seperti mengusung semboyan: pertama, tut wuri handayani yaitu guru penggerak senantiasa penjadi pendorong kemandirian dan kemerdekaan belajar murid. Kedua, ing madya mangun karsa, guru penggerak senantiasa membangkitkan semangat murid-murid untuk dapat terus belajar, dan ketiga, ing ngarsa sung tuladha, guru penggerak harus menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya. Sesuai dengan filosofi merdeka belajar, yakni asas penciptaan manusia yang merdeka, murid-murid di sekolah diharapkan dapat belajar memilih jalan hidupnya dengan berbekal hati,akal dan jasad sebagai anugerah Tuhan. Guru penggerak mengarahkan murid dalam memilih jalan hidupnya melalui internalisasi nilai-nilai agar terwujud profil pelajar Pancasila, mendorong murid berpikir holistik, aktif dan proaktif serta menyelenggarakan pembelajaran yang berpusat pada murid.

Pengejawantahan dari filosofi merdeka belajar yang telah dilaksanakan saat ini adalah seperti penyelenggaraan asesmen nasional (AN), ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yaitu ujian diselenggarakan oleh satuan pendidikan, penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang fleksibel. Kesemua itu membutuhkan dukungan guru penggerak dalam mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah serta kesediaan guru penggerak menjadi coach atau mentor bagi rekan guru lain agar dapat ikut bergerak mewujudkan visi sekolah. Guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sekolah harus berfokus pada perubahan sekolah dan menyelenggarakan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid yang menitikberatkan pada adanya perubahan di dalam kelas dan rekan sejawat. Hal ini dimulai dari adanya perubahan paradigma dan visi guru penggerak atau adanya perubahan diri dan mindset guru penggerak itu sendiri.

Model kompetensi guru seperti pengembangan profesi baik kepribadian maupun sosial diarahkan agar berorientasi pada murid, berasas gotong-royong untuk pengembangan bersama, adanya kebiasaan refleksi dan kematangan spiritual,moral dan emosi. Kita ingat kembali strategi utama kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) adalah sekolah penggerak atau kepala sekolah penggerak dengan program utama direktorat jenderal guru dan tenaga kependidikan (Dirjen GTK) adalah transformasi kepemimpinan pendidikan melalui guru penggerak. Program-program yang terkait adalah kebijakan teknologi asesmen kurikulum, transformasi pendidikan profesi guru (PPG) prajabatan, pemberdayaan komunitas pendidikan (gotong-royong) dan pengembangan ekosistem belajar guru di setiap provinsi melalui balai guru penggerak. Pembentukan komunitas praktisi yang cikal bakalnya dari praktik pendidikan di tingkat akar rumput atau level individu (kelas) lalu bersemi ke lingkup satuan pendidikan akan menjadi referensi terbaik bagi pemerintah dan akan menginspirasi pembuat kebijakan. Model skema piramida terbalik inilah yang semestinya menjadi rancangan transformasi pendidikan di daerah karena sejatinya guru penggerak adalah katalis terciptanya praktik-praktik baik.

——— *** ———

Rate this article!
Tags: