Guru SMKN 1 Sidoarjo yang Setia dan Konsisten Menulis

Abdul Majid Hariadi

Abdul Majid Hariadi
Guru merupakan salah satu profesi yang paling dekat dengan aktivitas menulis. Menulis bagi guru tidak hanya penting, tetapi merupakan kebutuhan paling mendasar. Karena itu, salah satu bentuk tanggungjawab akademik guru adalah melahirkan karya dalam bentuk tulisan. Itulah ungkapan, Abdul Majid Hariadi, Guru SMKN 1 Sidoarjo, pada Rabu (13/1) kemarin.
Harus diakui, meskipun menulis menjadi kebutuhan dasar, tidak sedikit guru yang beranggapan, menulis adalah aktivitas yang sulit dan memberatkan. Guru hanya membutuhkan konsistensi dan setia untuk menulis. Sudah banyak guru yang belum mahir menulis, tetapi akhirnya bisa menghasilkan karya berupa tulisan.
“Ya, harus setia dan konsisten adalah password bagi guru untuk dapat menulis,” ujar peraih Juara III Nasional Lomba Karya Tulis 4 Pilar MPR RI.
Menurut Majid, ada banyak ide dari berbagai peristiwa yang dapat dijadikan tulisan oleh guru. Misalnya, di masa pandemi ini guru dapat menuangkan berbagai pengalamannya dalam tulisan. Selama pandemi telah menghasilkan tulisan berupa empat naskah buku, 19 artikel/opini, tiga artikel majalah pendidikan, dan 11 artikel blog kompasiana.
Pertanyaannya kemudian, mengapa menulis itu kebutuhan bagi guru ? Jamak diketahui hasil belajar murid di berbagai jenjang pendidikan masih rendah karena kompetensi literasi yang rendah. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018, 70% murid kemampuan literasi membaca di bawah minimum. ”Hasil ini erat menjadi satu dengan kemampuan dalam bidang matematika dimana 71% murid di bawah kompetensi minimum dan bidang sains 60% murid di bawah kompetensi minimum,” jelas pria kelahiran Bojonegoro 10 Mei 1981.
Majid menjelaskan, untuk meningkatkan hasil belajar murid, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini akan menyelenggarakan asesmen nasional. Salah satu instrumen yang digunakan adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) untuk mengukur kompetensi murid dari hasil belajar kognitif yaitu literasi membaca dan numerasi. Kompetensi literasi membaca yang dimaksud bukan hanya kemampuan secara tekstual tetapi juga mampu memahami dan menerapkan secara kontekstual.
“Dua aspek ini menjadi kebutuhan murid sesuai dengan kecakapan abad 21 untuk dapat berkontribusi pada masyarakat dalam berbagai bidang. Maka dengan karya guru dapat menjadi inspirasi bagi murid. Keterampilan menulis yang dimiliki guru merupakan salah satu upaya menghantarkan ide – ide untuk memenuhi ruang – ruang literasi. Dengan tulisan, guru dapat menyambung dialektika dengan sidang pembaca dalam berbagai perspektif,” jelas Majid.
Tentu saja tulisan yang dihasilkan guru tidak hanya sebagai media untuk membangun relasi dengan murid, orang tua, teman sejawat, dan masyarakat. Bagi guru sendiri, menulis memberikan manfaat yang tidak sedikit, seperti personal branding, ekonomi, karier, pemenuhan angka kredit, dan tentunya adanya kepuasan batiniah.
“Guru juga sebagai katalisator harus membangun inisiatif untuk menjadi role model dalam literasi. Budaya literasi di sekolah kurang bisa berkembang jika guru tidak memberikan teladan literasi. Dengan keteladanan, guru dapat memberikan energi dalam membentuk iklim literasi di sekolah serta meningkatkan kualitas dan hasil belajar murid,” pungkas penulis artikel terpilih Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) 2020. [ach]

Tags: