Gus Ulib: Warga NU Menunggu Komitmen Rais Aam Terpilih

Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, Peterongan KH Zainul Ibad As’ad atau yang akrab disapa Gus Ulib

Jombang, Bhirawa
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As’ad semakin membenarkan apa yang disampaikan para ulama. Bahwasannya sekarang ini banyak orang pintar tapi susah mencari orang arif dan bijak.

Hal itu diungkapkan Gus Ulib sapaan KH Zainul Ibad As’ad dalam menanggapi rangkap jabatan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam muktamar kemarin, Rais Aam terpilih dan rapat AhWa yang diumumkan dalam forum, tetap siap menjadi Rais Aam dan akan melepaskan diri dari jabatan ketua MUI.

“Saya semakin membenarkan apa yang disampaikan oleh Ulama-ulama bahwa sekarang itu banyak orang pinter tapi susah mencari orang arif dan bijak,” katanya saat menanggapi rangkap jabatan di elit NU, Kamis (20/1) kemarin.

Menurut Gus Ulib, merangkap jabatan ini potensi untuk cenderung tidak baik, atau mungkin karena ketidakmampuannya mengaktualisasikan yang diwajibkan sebagai pemimpin. “Ini preseden yang kurang baik juga,” ujarnya.

Sehingga, lanjut Gus Ulib, masyarakat semakin bertanya-tanya elit NU yang dicari itu apa. Menurutnya, itu menjadi sebuah lelucon dikalangan masyarakat, khususnya warga NU.

“NU yang mengemban amanat besar saja dianggap enteng. Kasihan umat ini. Jadi harapan kami mohon lah para elit NU yang berada dalam suatu posisi yang strategis memiliki karakter yang bijak,” ungkapnya.

“Jangan sampai ada kesan ada keinginan tersembunyi disitu. Mudah-mudahan ada kesadaran bagi para pemimpin NU. Hikmat sepenuhnya terhadap NU. Karena kami, umat berharap pada panjenengan,” harap Gus Ulib.

Apalagi, lanjut dia, ada amanah dari NU agar Rais Aam Tidak merangkap jabatan. “Kalau merangkap jabatan itu melanggar amanah. Kasihan masyarakatnya,” tambahnya.

Hal itu disampaikan Gus Ulib demi menjawab pertanyaan dari berbagai kalangan tentang pejabat elit NU, struktural NU yang merangkap jabatan.

“Saya setuju dengan pernyataan banyak orang bahwa NU itu seharusnya elit-elitnya itu orang yang arif. Orang yang betul-betul bisa memaknai bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan yang besar dengan cita-cita besar dengan tujuan yang besar pula,” katanya.

Artinya, sambung Gus Ulib, besar ini suatu tugas dimana diberi kepercayaan untuk memimpin NU atau berada dalam suatu struktur yang strategis harus melihat bahwa tugas besar yang diemban bukan sembarangan. Bukan tugas yang bisa di buat sambil lalu.

“Ini kesannya justru malah mengecilkan NU. Ini sangat terkesan arogan. Bagaimana tidak, orang yang diberikan kepercayaan begitu besar oleh organisasi yang dimana disitu adalah ulama. Seyogyanya pilihlah salah satu,” ulasnya.

Untuk diketahui, Miftachul Akhyar saat ini masih menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kemudian sekjen PBNU Saifullah Yusuf, jadi wali kota Pasuruan.

“Wali kota kan juga punya tanggung jawab dengan masyarakatnya, dengan sumpahnya. Jadi harus konsentrasi penuh untuk memajukan dan memegang amanah itu. Masih juga jadi sekjen yang tidak ringan tugas sekjen itu,” ungkapnya.

“Sekjen adalah motor untuk organisasi. Kalau ini terjadi, preseden yang buruk dan ini sangat mengecilkan NU,” imbuhnya.

Seperti diketahui, dalam pengumuman Susunan Pengurus PBNU periode 2022 – 2027, terdapat sejumlah nama dari PWNU Jawa Timur. Seperti KH Anwar Iskandar (Wakil Rais PWNU Jatim menjadi Wakil Rais Aam PBNU), KH Athoillah Anwar (Katib Syuriah PWNU Jatim sebagai Rais PBNU), Prof Akh Muzakki (Sekretaris PWNU sebagai Sekjen PBNU), KH Abdus Salam Shohib (Wakil Ketua PWNU Jatim sebagai Wasekjen PBNU) dan sejumlah nama lainnya. [geh]

Tags: