Hadapi MEA, Pendidikan Rendah Dominasi Jatim

Ayo-Sekolah-Rek-DalamPemprov Jatim, Bhirawa
Menjelang tahun 2015, Indonesia terutama Jatim akan menghadapi masuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sayangnya dari hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan kalau penduduk berpendidikan rendah masih mendominasi Jatim.
Hal ini terlihat dari besarnya jumlah tenaga kerja yang hanya lulus Sekolah Dasar. Data Badan Pusat statistik (BPS) Jatim menunjukkan dari 19,885 juta tenaga kerja di Jatim, yang lulusan SD ke bawah mencapai 10,338 juta atau sekitar 54,13 persen.
Sementara jumlah tenaga kerja yang lulusan SLTP mencapai 3,477 juta atau 17,86 persen, lulusan SMA sebesar 2,544 juta atau 12,87 persen, SMK mencapai 1,682 juta atau 8,22 persen dan Perguruan Tinggi mencapai 1,485 juta atau 6,92 persen.
“Kondisi yang harus diwaspadai. Menjelang penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN di 2015, ternyata Sumber Daya Manusia di Jatim masih sangat rendah. Gubernur Jatim harus segera menyikapi hal ini,” kata Kepala BPS Jatim, Sairi Hasbullah melalui Kabid Statistik Sosial BPS Jatim, Gantjang Amanullah, Senin (5//20145).
Menurutnya, jika kualitas dari tenaga kerja luar negeri kelak mengalahkan tenaga kerja Jatim, maka berdampak negatif bahkan bisa terjadi kekacauan. “Masyarakat Jatim harus segera dipersiapkan, jangan hanya di penonton ketika MEA berlangsung. Dikhawatirkan kondisinya kelak sama seperti yang terjadi di Papua, di Aceh dan di Kalimantan,” katanya.
Selain tingkat pendidikan yang rendah berdampak pada sulitnya bersaing dan akan tersingkir,  dampak selanjutnya, pengangguran akan semakin meningkat. Padahal hingga Februari 2014, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di wilayah Jatim mengalami kenaikan walaupun sangat kecil, yaitu dikisaran 0,07 persen Pada Februari 2014, TPT di Jatim mencapai 832.380 orang, padahal pada Februari 2013 hanya dikisaran 808.350 orang.
Terjadinya kenaikan tingkat pengangguran tersebut menurut Gantjang akibat dari banyaknya sektor eknomi yang mengalami penurunan penyerapan kerja. Beberapa sektor tersebut adalah sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan turun sebanyak 270.440 orang, dari 7,601 juta menjadi pada Februari 2013 menjadi 7,330 juta di Februari 2014 atau 3,56 persen.
Sektor industri pengolahan berkurang sebesar 35.807 orang, dari 2,880 juta menjadi 2,844 juta atau sekitar 1,24 persen dan sektor konstruksi turun 6.633 orang dari 1,225 juta menjadi 1,219 juta atau 0,54 persen.
“Penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor konstruksi mengalami penurunan diduga karena banyaknya pekerja bebas di sektor ini pada Februari 2014 masih belum mendapatkan lagi pekerjaan sehingga mereka tidak bekerja. Sedang pekerja di sektor industri pengolahan diduga beralih pada pekerjaan yang bergerak di sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi,” katanya.
Selain itu, kenaikan TPT, menurut Gantjang, juga diduga akibat tenaga kerja masih sedikit yang terserap masih lebih sedikit dibanding derasnya pertambahan angkatan kerja. Dalam kurun waktu Februari 2013 hingga Februari 2014 jumlah angkatan kerja bertambah sebesar 255.570 orang. Sementara penduduk yang bekerja hanya bertambah sebesar 231.540 orang.
Untuk sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar di Jatim masih sektor pertanian dengan jumlah tenaga kerja yang terserap di Februari 2014 sebesar 7,33 juta, disusul perdagangan 4,332 juta, dan sektor industri 2,844 juta serta sektor jasa kemasyarakatan menyerap tenaga kerja sebesar 2,832 juta.
Data BPS menyebutkan, jumlah penduduk bekerja berdasarkan pendidikan menunjukkan dalam setahun terakhir penduduk bekerja berpendidikan rendah turun dari 70,56 persen menjadi 69,48 persen. Sedangkan penduduk bekerja berpendidikan tinggi naik dari 8,08 persen menjadi 9,26 persen. [rac]
TPT Menurut Pendidikan
(berdasarkan persentase),
Februari 2014
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan  2014
Februari
SD Kebawah   2,45
Sekolah Menengah Pertama   5,06
Sekolah Menengah Atas   8,22
Sekolah Menengah Kejuruan   6,55
Diploma I/II/III   3,73
Universitas   1,85
Total   4,02
Data BPS Jatim

Tags: