Hadirkan Ikon Lima Negara, Taman Sumber Wangi Jadi Wisata Berorientasi Dunia

Untuk melengkapi Tama Sumber Wangi di Kota Madiun juga dibangun lima ikon dari lima negara. Tampak dalam foto diatas Taman Sumber Wangi di jalan Pahlawan sisi bagian barat. Sedeang foto singa ikon Singapura disisi timur. [sudarno/bhirawa]

Kota Madiun, Bhirawa
Berdirinya replika patung Merlion di Taman Sumber Wangi bukan tanpa alasan. Wali Kota Madiun, Maidi sengaja menambahkan ikon khas Singapura itu sebagai daya tarik. Bukan hanya tingkat lokal dan nasional. Namun, juga skala internasional.

”Kenapa Merlion, karena Taman Sumber Wangi kita konsep wisata dunia. Karenanya, ada simbol-simbol khas dari berbagai negara. Lima simbol ini sudah dikenal secara internasional. Jadi wisata ini wisata yang berorientasi dunia,” kata Wali Kota Madiun, Maidi, Senin (30/11).

Pemerintah Kota Madiun memang tengah membangun tempat wisata dengan lima ikon dunia. Dua di antaranya sudah jadi. Selain patung ikan berkepala singa, sebuah musala berbentuk Ka’bah juga sudah berdiri megah.

Seperti diketahui, Ka’bah merupakan kiblat umat muslim yang berada di negara Arab Saudi. Ke depan, Pemkot Madiun akan menambah Menara Zam-zam, Menara jam Big Ben Inggris, Kincir Angin Belanda, dan Menara Eifel Perancis.

”Karena simbol-simbol itu sudah dikenal di dunia internasional, harapannya, kota kita ini juga akan cepat dilihat tidak hanya skala lokal tetapi juga dunia internasional,” harapnya.

Hadirnya patung Merlion juga akan dikombinasikan dengan fasilitas arung jeram. Sungai di bawah Taman Sumber Wangi memang akan dijadikan lokasi arung jeram ke barat hingga di Jalan Pandan. Sumber air arung jeram ini biasanya dari air mancur. Patung Merlion ini akan mengeluarkan air untuk mengairi arung jeram.

”Biasanya keluarnya air mancur ini dari patung ikan. Kita buat beda, kita buat berkelas. Makanya keluarnya air dari patung Merlion. Ini juga agar konsep arung jeram di Kota Madiun berbeda,” ungkapnya.

Wali Kota menjelaskan, ikon khas Kota Madiun tetap ada. Bahkan sudah ada. Seperti patung pecel di Jalan Pahlawan, Tugu Pendekar di proliman, serta logo-logo Kota Pendekar di berbagai tempat. Pelestarian produk lokal juga melalui berbagai kegiatan seni budaya. Salah satunya, festival seni pencak silat internasional yang seharusnya berlangsung saat Muharram lalu. Gelaran terpaksa dibatalkan karena pandemi Covid-19.

”Tidak ada program di kota ini yang dilakukan tidak atas kajian-kajian. Termasuk musala Ka’bah yang sebelumnya kita mintakan pendapat dari para alim ulama di Kota Madiun,”tegas Wali Kota. [dar]

Tags: