Hafidz, Orang Alim, dan Dermawan, serta Siksa Allah atas Mereka

H Sholikin Jamik

Oleh:
H Sholikhin Jamik
Dosen STIKES Muhammadiyah Bojonegoro

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang berperang, orang alim dan dermawan serta siksa Allah atas mereka, ialah karena mereka mengerjakan demikian untuk selain Allah. Dan dimasukkan mereka ke dalam neraka menunjukkan betapa haramnya riya’ dan keras siksaannya, serta diwajibkannya ikhlas dalam seluruh amal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidaklah mereka diperintahkan melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” [Al-Bayyinah/98:5].

Keumuman hadits-hadits tentang keutamaan jihad, sesungguhnya diperuntukkan bagi orang yang melaksanakannya karena Allah dengan ikhlas. Demikian pula pujian terhadap ulama dan orang yang berinfaq di segala sektor kebaikan, semua itu terjadi dengan syarat apabila mereka melakukan yang demikian itu semata-mata karena Allah Ta’ala.

Demikian mengerikan siksa dan ancaman bagi orang yang berbuat riya’ dalam melakukan kebaikan. Mereka berbuat dengan tujuan mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Islam lebih banyak memperhatikan faktor niat (pendorong) suatu amal daripada amal itu sendiri, meskipun kedua-duanya mendapat perhatian.

Secara fitrah sudah diketahui, bahwa penipuan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain merupakan perbuatan hina dan dosa yang jelek. Jika penipuan itu dilakukan seorang makhluk terhadap khaliq (pencipta)nya, maka perbuatan itu lebih sangat hina, buruk dan tercela. Perbuatan itu merupakan perbuatan orang yang suka berpura-pura dan berbuat untuk menarik perhatian manusia.

Ia memperlihatkan di hadapan mereka seakan-akan dia hanya menghendaki Allah semata. Padahal ia adalah seorang penipu dan pendusta, maka tidak heran jika Allah menghinakannya dengan dimasukkan ke dalam api neraka.

Ibadah puasa adalah ibadah yang mengajarkan keihlasan jauh dari sikap riya’. Hakekat Puasa Ramadhan memberi makna esensi ibadah sirri bahwa Tidak bisa melihat seseorang berpuasa atau tidak puasa dari luarnya saja, karena ibadah puasa berhubungan langsung antara hamba-Nya dengan Allah SWT, bukan dengan manusia.

Dalam sebuah hadits yang berarti puasa untukku dan akulah yang akan memberikan imbalan bagi orang yang berpuasa. Betapa sangat luar biasa bagi orang yang bisa berpuasa karena hanya Allah yang bisa melihat orang itu berpuasa atau tidak dan yang memberikan pahala, melatih budaya ikhlas menjauhkan sikap riya’. [*]

Tags: