Haji (makin) Nyaman

karikatur ilustrasi

Bersyukur, penantian panjang berangkat ibadah haji, akan segera terwujud. Kelompok terbang pertama, sudah diberangkatkan menuju kota Madinah. Sebagian lainnya masih harus sabar meng-antre kuota, walau sudah melunasi biaya haji. Mulai tahun 2018 ini, jamaah haji Indonesia dipastikan bakal lebih banyak, sampai mencapai 221 ribu orang. Menjadi rombongan terbesar sedunia. Serta “kafilah” terbaik (taat aturan).
Kementerian Agama memprioritaskan calon jamaah haji lanjut usia (lansia). Berdasar catatan Direktorat Bina Haji dan Umroh, lebih dari 60% calon jamaah telah berusia di atas 60 tahun. Bahkan sepertiganya telah berusia di atas 70 tahun. Boleh jadi, disebabkan antrean panjang selama lebih 15 tahun. Rata-rata nasional antrean waiting list (dftar tunggu) di Indonesia telah mencapai 17 tahun. Daerah dengan antrean paling lama tercatat pada Sidrap, Sulawesi Selatan (lebih dari 35 tahun).
Sejak musim haji tahun lalu, pemerintah coba memperbanyak kuota, seiring penyelesaian proyek perluasan masjidil haram. Tahun 2017 sudah bertambah 52 ribu orang dibanding tahun 2016. Pengembalian (dan penambahan) kuota haji Indonesia sebagai “berkah” kunjungan raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Penambahan kuota haji menjadi kesepakatan utama, karena proyek rehabilitasi masjidil haram telah usai dikerjakan.
Selanjutnya masih terus diupayakan penambahan kuota haji. Caranya, meminta kuota negara-negara minoritas muslim. Beberapa negara sahabat telah “meng-ikhlas-kan” kelebihan kuota hajinya digunakan rakyat Indonesia. Diantaranya kuota bangsa Jepang, Thailand, dan Filipina. Juga kuota khusus negeri Palestina. Muslim Palestina memiliki jatah kuota khusus berupa visa furoda’. Yakni, semacam undangan khusus kerajaan Arab Saudi.
Jatah haji berapa negara sahabat, disebut sebagai non-kuota, namun legal (sepemahaman kedua pemerintahan, g to g). Ini niscaya bisa menyusutkan antrean ibadah haji. Sehingga tidak akan ada lagi haji “back street” (pintu belakang). Dengan penambahan kuota itu, antrean haji diperkirakan makin singkat (maju) menjadi sekitar 13 tahun. Pemerintah (dan rakyat) Indonesia menanggapi dengan suka cita penambahan kuota.
Selama empat tahun sebelumnya, sejak musim haji tahun 2013, Indonesia (juga negara-negara Organisasi Konferensi Islam, OKI) mengalami pengurangan kuota haji. Selama empat tahun (sejak 2013) kuota haji disusutkan 20%, menjadi hanya sebanyak 168.800 jamaah. Kuota negara-negara OKI dipagu (pemerintah Arab Saudi) sebanyak 0,1% penduduk muslim. Maka jatah kuota Indonesia seharusnya sebanyak 211 ribu calon jamaah. Namun sejak tahun 2017 ditambah 10 ribu.
Penambahan kuota menjadi momentum sangat penting. Ini sesuai dengan animo masyarakat, yang semakin banyak ingin menunaikan ibadah haji. Tren animo ber-haji Indonesia, meningkat 12% per-tahun (sekitar 25 ribu dari kuota asal 211 ribu). Animo ber-haji tahun 2018, telah mencapai 337 ribu lebih. Tak peduli, walau harus menunggu lama. Karena diyakini, menunaikan ibadah haji merupakan “panggilan” Ilahi. Sehingga waktu ber-haji merupakan takdir!
Mempersiapkan keperluan ibadah haji lebih dari 220 ribu orang, sungguh tidak mudah. Seluruhnya memerlukan dokumen perjalanan sangat rinci. Termasuk catatan riwayat kesehatan. Juga penelitian visa oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Serta disediakan kemudahan pemeriksaan visa oleh petugas imigrasi Arab Saudi, di Indonesia. Tidak perlu antre pemeriksaan di Madinah.
Tetapi pemerintah perlu menetap standar pelayanan minimal (SPM) penyelenggaraan ibadah haji. Tahun (2018) Kementerian Agama mengharapkan indek kepuasan jamaah haji meningkat. Diantaranya melalui pengukuran Indeks Kepuasan Jamaah Haji (IKJH) bisa mencapai 85%. Mudah, karena pada tahun 2013, Indonesia memperoleh predikat “The Best Pilgrim.” Diantara kriterianya adalah, keramahan, kepatuhan terhadap peraturan, serta manajemen haji oleh pemerintah.

——— 000 ———

Rate this article!
Haji (makin) Nyaman,5 / 5 ( 1votes )
Tags: