Hak Kebangkitan Pemuda

“Sumpah Pemuda” (28 Oktober 1928) tak terasa sudah berlalu 93 tahun silam. Tetapi momentum visi kebangsaan pemuda tak pernah surut. Meski para tokoh nasional tak selalu seirama se-iya se-kata. Tetapi demi pertalian bangsa, perbedaan memiliki batas waktu dan tempat. Berbeda di ruang rapat, berbeda statement di halaman suratkabar, sudah biasa. Perbedaan dalam visi kebangsaan hanya ragam cara pandang mencintai dan memajukan bangsa.

Sumpah Pemuda, dicetukan oleh aktifis pemuda kebangsaan, sebagai kelanjutan ke-pelopor-an pemuda. Melanjutkan (tanpa putus) perjuangan kemerdekaan selama 3 abad oleh raja-raja dan tokoh bangsa. Kesadaran berbangsa yang bermartabat mendorong segera mem-proklamir-kan negara bangsa yang berdaulat. Kebersatuan pemuda hanya memerlukan waktu selama 17 tahun menghantar kemeredekaan Indonesia.

Butuh pengorbanan harta, dan jiwa raga. Pada saat bersamaan sudah banyak aktifis internasional mengecam penindasan militeristik terhadap bangsa Indonesia. Terutama program tanam paksa. Lebih dari dua dekade (sejak awal 1820-an) 70% perekonomian kerajaan Belanda ditopang oleh rakyat Indonesia. Jika tidak, negara Belanda sudah terhapus dari peta Eropa atau setidaknya di-merjer menjadi koloni Inggris atau Perancis (sebagai pemenang perang).

Ironis, bangsa Indonesia dijajah oleh Negara bangsa Eropa yang miskin, dan terbelakang (secara intelektual). Sehingga penjajahan sekaligus diikuti penghisapan perekonomian. Sebagian terbesar hasil bumi yang diekspor ke seluruh dunia dinikmati 100% oleh penjajah. Petani Jawa hidup dalam kemisikinan yang mendalam. Hidup tertindas, sandang pangan terbatas, tidak boleh sekolah. Di berbagai daerah sering terjadi protes dan pemberontakan yang luas, namun selalu bisa ditumpas secara militer.

Kelompok pemuda aktifis pergerakan menyadari, bahwa merdeka dari penjajahan oleh bangsa asing harus mempersatukan seluruh kekuatan nasional. Maka di rumah kos-kosan komunitas pergerakan kebangsaan (Jong Java) di jalan Kramat Nomor 106, digagas visi me-nasional-kan tekad ber-kebangsaan. Perlu di-deklarasi-kan satu negara bangsa Indonesia.

Untuk sementara, tekad berkebangsaan yang merdeka, ditunda. Tidak angkat senjata melainkan cukup deklarasi adanya satu bangsa. Walau kelak (November 1945) diperlukan aksi lain sebagai realisasi Sumpah Pemuda. Yakni, perang suci, jihad fi sabilillah, perang revolusi mempertahankan kemerdekaan bangsa yang telah diproklamirkan tiga bulan sebelumnya (pada 17 Agustus 1945). Karena penjajah masih “ketagihan” ingin terus menghisap kekayaan Indonesia.

Setelah berlalu 93 tahun, momentum Sumpah Pemuda juga membutuhkan aksi berbeda, seiring dengan berkembangnya arti kemerdekaan. Saat ini pemuda dituntut bersatu-padu dalam aksi kebangkitan dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi yang panjang. Perlu pertumbuhan ekonomi yang cepat, dengan memanfaatkan kekayaan sumberdaya alam nasional. Bukan sekadar mengekspor bahan mentah. Melainkan harus dengan hilirisasi (perindustrian) meraih nilai tambah.

Konstitusi dalam pembukaan alenia kedua UUD, mengamanatkan jaminan kebersatuan nasional, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Juga tercantum dalam pasal 33 ayat (3), dinyatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Dalam 5 tahun terakhir, negara juga berhasil “mengambil alih” kembali pertambangan kekayaan alam Indonesia. Termasuk tambang emas Freeport.

Diperlukan reorientasi spirit (dan dukungan negara) mengukuhkan suasana pluralisme ke-Indonesia-an. Juga bersatu melawan hoax yang mengancam kebersatuan nasional dengan membonceng kebebasan berpendapat..Pemuda wajib bersatu, bangkit, dan tumbuh. Serta memiliki hak berpartisipasi mengedepan dalam hilirisasi sumberdaya alam Indonesia. Niscaya diperlukan keterampilan, dan keahlian memadai melalui pendidikan yang sudah merdeka.

Setiap pemuda, mestilah berani bersumpah: Tidak meng-gadaikan tanah-air satu-satunya, tidak menciderai sesama bangsa, dan bersatu bahasa untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

——— 000 ———

Rate this article!
Hak Kebangkitan Pemuda,5 / 5 ( 1votes )
Tags: