Hampa Beras jadi Sekam

Oleh :
Joni Hendri

Terdiam melihat hampa,
memastikan hidup dalam sesuap nasi
menampi lapar sebagai beras yang mengutuk
minum dari gersang sekam
jerami yang cuai membantai diri.

Beban di pundak melaknat kehidupan
tapi masa silam tenggelam di bawah kaki
mengikuti nafas padi yang disedu
maka, jangan sampai terbuang lalu jadih kuah
nanti, ayat-ayat akan menyupah secara beruntun.

Di punggung ada luka ditusuk jerami
tapi diam setelah darahnya jatuh
lalu diberi cahaya sebagai obat, seluruh mimpi.

Bakul tak menampung semua yang terkepung
ketika padi-padi dimakanan rayap:
” Kau tetap berkepala batu,
mengejar jejak-jejak kusam pekerjaan.”

Akhirnya, hampa beras jadi sekam
lahir dari rasa lapar yang terpelihara
membuntukan pikiran secara pelan-pelan
maka: “Menghadapalah!”
Pekanbaru, 2021
Guruku yang Mungil
Bu, lihatlah teks-teks jadi bukit
tumbuh pohon-pohon literasi yang tak berbuah
di sela-selanya daun jatuh ke tanah
menumbuhkan anak-anak yang sedang terganggu
dari rasa takut: “Guruku yang mungil,
aku hanya diam sebelum bicara diperdengarkan
dari rasa sulit aku membaca kecerdasan
dari usia buku yang usang
saat belajar dengan teman-teman kelas.”

Bu, suasana renta
aku seperti berjalan tanpa tujuan
belajar hanya di meja makan dengan manja
bahagia ketika mengerti dengan bacaan
namun kelenyapan terus menjadi nyata.

Bu, tulisan itu hilang dibasuh air waktu:
“Aku sedih hingga melengkungkan tubuh
muka tengadah melihat papan di depan
kubuka mata, itu hanya mimpi
berisikan dinding kamar.”

Selamat hari guru:
“Bu selamat melahirkan
dari rasa gamang yang datang saat petang.”
Pekanbaru, 2021
Kita Berpisah
Lantaran keadaan beraroma busuk yang menyakitkan
kita berpisah antara hujan dan panas
debu kita tempuh sepanjang jalan
berhenti hingga malam
dan baju kita saling basah.

ke mana-mana kita telah sampai
menyulut segala percakapan tentang solusi
pikiran-pikran terus meradang
membunuh rasa cinta yang sedang tidur
mimpi hanya tentang kita berpisah
menggaduhkan seluruh keinginan
bagai kelparan tengah malam.

Tetapi terlanjur merasa kasih
setelah penyatuan tubuh yang berdosa itu
di pembaringan yang nahas
setelah itu, kesedihan menerobos ke dalam diri
memaksa untuk bermukim setelah luka lekat
tak sempat untuk lari dan keluar dari ingatan.

Pagi kita tergeletak,
di ranjang yang sangat lengang
penghabisan cinta adalah pernikahanmu:
“Selamat menikmati hari-harimu
aku akan mengingat jadi batu
kita telah berpisah!”
Pekanbaru, 2022
Menjemput Kepedihan ke Gunung
16 angka keramat itu muncul,
mendaki ke mataku, sebelum senyum tiba
diaduk-aduk rasa pilu
berbatu-batu mendaki ke gunung malelo
bernyanyi di telinga mengikuti suara angin:
“Enam belas! Enam belas! Sssssstttt.”

Pagi bukan pagi sebelumnya:
“Cahaya wajah hilang jadi merah padam
duh! Aku ingin pulang sebelum malam!”
Menghubungkan jatung dengan ketukan asmara
menunggu mimpi datang pada tidur
setelah pulang dari gunung dan candi.

Betapa perih mengabur kelabu
ditatah ratapan setelah dongeng
air mata berkedip-kedip di pipi
bertimbun ketakutan dari sesuatu yang lepas:
“Aku menjemput, kepedihan di gunung malelo.”
Betapa sunyi dari ingar yang hadir
segenap duka berdatangan mengeja lidah
melecuti di jalan-jalan bukit
hutan-hutan hangus:
“Oh, gunung itu!”
Koto Kampar, 2022

———- *** ———-

Tentang Penulis:
Joni Hendri
Kelahiran Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Pelalawan. Alumnus AKMR Jurusan Teater. Karya-karya berupa naskah Drama, Essai, Cerpen, dan Puisi. Sudah dimaut di beberapa antologi dan media. Bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau dan bergiat di Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Sekarang mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru.

Rate this article!
Hampa Beras jadi Sekam,5 / 5 ( 1votes )
Tags: