Hanya 26,5 Persen Orang Tua Siap Sekolahkan Anaknya Juli 2020

Sejumlah siswa SMPN di Tulungagung belum lama ini masih mengenakan seragam SD karena belum mendapat seragam sekolah gratis yang dijanjikan Pemkab Tulungagung.

Surabaya, Bhirawa
Wacana penerapan new normal menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Tak terkecuali untuk sistem ‘shift’ kegiatan belajar mengajar (KBM) yang akan diterapkan dalam pendidikan. Alhasil, tak sedikit orangtua yang bahkan enggan untuk merelakan anak-anaknya kembali bersekolah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, hanya 26,5 persen orang tua dari 219 partisipan yang berkenan akan menyekolahkan anaknya pada bulan Juli 2020 mendatang. Hasil penelitian tersebut melibatkan orang tua dari berbagai profesi dan berasal dari 37 kabupaten/kota.
Salah satu anggota tim penelitian, Isrida Yul Arifiana MPsi Psikolog menuturkan ada beberapa faktor penyebab orangtua tidak setuju jika sekolah tatap muka dilaksanakan di bulan Juli. Diantaranya karena belum ada prosedur baku dari pemerintah tentang pelaksanaan New Normal di Sekolah. “Selain itu juga belum ada vaksin untuk Covid-19, serta masih banyak kasus positif, sehingga anak-anak akan rentan terinfeksi Covid-19,” kata dia, Kamis (4/6).
Dikatakan Rida, sapaan akrabnya bahkan orangtua menyarankan agar pelaksanaan New Normal di sekolah dimulai tahun depan, sembari menunggu kasus positif Covid-19 menurun. Sebba, mereka mengungkapkan akan sulit mengontrol pelaksanaan Social Distancing di sekolah, terutama pada jam istirahat. Apalagi Psisical Distancing akan sulit diterapkan untuk anak TK dan SD.
“Ada juga orang tua yang setuju dengan wacana kebijakan ini, karena anak-anak sudah jenuh belajar di rumah, mereka yakin anak bisa belajar beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada. Apalagi anak-anak juga membutuhkan interaksi dengan guru dan teman di sekolah,”lanjutnya.
Ditambahkan anggota tim peneliti lainnya, Suhadianto MPsi Psikolog penelitian yang dilakukan oleh pihaknya juga melihat adanya tingkat kecemasan orang tua. Hasilnya, sebagian partisipan mengatakan sangat cemas menyekolahkan anaknya pada bulan Juli.
“Pengukuran menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety menunjukkan bawa secara klinis 87 persen partisipan tidak mengalami kecemasan. Kemudian delapan persen partisipan mengalami kecemasan ringan, 3 persen partisipan mengalami kecemasan sedang, dan hanya 2 persen persen partisipan yang mengalami kecemasan berat,”paparnya.
Dari hasil itu, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya kecemasan secara klinis ini menunjukkan hal positif. Artinya partisipan akan cepat bangkit dari situasi Covid-19 dan cepat menyesuaikan dengan kebijakan New Normal, asalkan pemerintah bisa menjamin terlaksananya protokol kesehatan di sekolah. Hasil penelitian ini, dikatakan Suhadianto akan dipublikasikan di jurnal penelitian sebagai bentuk pengabdian dosen.
Selain itu, pihaknya melalui Laboratorium Psikologi Pendidikan dan Pegembangan Untag Surabaya berupaya agar info tersampaikan ke beberapa pemegang kebijakan di pemerintah daerah. Minimal pemerinth Kota Surabaya, dan sisanya akan dipublikasikan melalui Live Instagram dan webinar. [ina]

Tags: