Harapanku pada Nanas

Oleh:
Endang S. Sulistiya

Apa yang kamu harapkan dari sebuah nanas? Beda mulut tentu lain jawab. Jika pertanyaan itu dilayangkan pada ibuku, jelas saja ia akan menggeleng berulang-ulang. Ibuku tak pernah menyukai buah menyerupai ayam, berwarna kuning, bermata banyak ini. Melihat atau mencium aroma nanas saja membuat lidah ibu terasa gatal-gatal. Alergi, mungkin bisa disebut begitu. Dari itu ibu tak mau mencicip seiris pun buah nanas.
Sedang bila tanya itu diajukan pada suamiku, ia akan tersenyum nakal sembari mengedip genit. Aku tentu dibuat heran dengan tingkah ganjilnya. Tak tahu sejak kapan ia begitu menyukai buah nanas. Padahal dalam rentang masa pacaran serta pernikahan kami yang sudah berjalan sepuluh tahun tak pernah kulihat ia menggemari buah nanas sedemikian rupa.
Tiap sore hari sepulang dari kantor, aku selalu menyempatkan diri membeli jajanan. Salah satu dari banyaknya penganan yang dijajakan di depan gerbang perusahaan tempatku bekerja, lotis adalah pilihan favoritku. Rajangan buah bengkoang, mentimun, pepaya dan tak ketinggalan nanas dipadu sambal yang dibungkus dalam mika plastik itu dijual seharga tiga ribu rupiah. Aku biasa membeli dua. Satu untukku dan satunya lagi untuk suamiku.
Biasanya suamiku selalu dengan antusias melahap lotis yang kubawa itu. Namun beberapa sore terakhir ia hanya menyantap nanasnya saja.
“Lain kali nanasnya suruh banyakan kenapa!” ujarnya kecewa sesaat setelah tak ia temukan lagi buah nanas dalam bungkus lotis.
“Sejak kapan Mas suka buah nanas?” tanyaku, mengorek informasi.
“Sejak tahu kalau buah nanas ada khasiatnya,” jawab suamiku, penuh misteri.
“Memangnya apa khasiatnya?” kejarku.
“Ada deh … nanti juga kamu akan tahu sendiri,” jawabnya sembari menyimpan senyum di sudut bibir. Sebelah matanya mengedip seperti Jaja Miharja kala membawakan kuis Dangdut yang legendaris itu.
Hingga tibalah minggu pagi. Kala itu seperti biasa aku membersihkan rumah. Biasanya aku dibantu Sarah-adik iparku yang ikut tinggal bersama kami-tapi hari itu Sarah pamit mengerjakan tugas kuliah.
Ruang tamu dan dapur usai kubersihkan. Aku berpindah ke kamar. Kuganti sprei yang telah kusut dengan yang baru. Sebelumnya kugebuk-gebuk dahulu kasur dengan sapu lidi. Pula kubersihkan kolong-kolong ranjang yang biasanya dijadikan mukim bagi laba-laba.
Nah, saat itulah aku menemu penyebab keganjilan dari tindak-tanduk suamiku. Sebuah majalah pria dewasa tampaknya sengaja disembunyikan suamiku di kolong ranjang. Tak mengherankan, selama ini aku memang selalu tak suka bila suamiku menghamburkan uang untuk membeli majalah yang menurutku tidak berguna. Sebaliknya aku memaksa suamiku membaca koran yang kaya informasi tapi harganya ekonomis. Wajar bila akhirnya suamiku membaca majalah tersebut secara diam-diam.
Kembali pada majalah pria dewasa itu, setelah iseng-iseng kubuka di dalamnya ada sebuah artikel yang membahas tentang khasiat buah nanas khususnya yang berhubungan dengan ranjang. Buah nanas dikatakan mengandung bromelain yang diyakini dapat meningkatkan libido kaum pria. Ups, jadi ini ternyata yang membuat suamiku gandrung buah nanas.

***

Perubahan iklim membuat kemarau tahun ini lebih panjang dari biasanya. Orang-orang berkeluh tentang cuaca gerah yang datang siang dan malam. Nanas … oh nanas … sebagian besar orang berharap pada kesegarannya di musim panas seperti sekarang ini. Tak terkecuali kerumunan ibu-ibu yang suka ngerumpi di samping rumah kontrakanku.
Kebetulan kebun belakang salah seorang tetanggaku itu tumbuh pohon mangga yang lebat buahnya. Jadilah mangga itu dimanfaatkan untuk lotis atau rujakan. Maka obrolan yang biasanya renyah dan gurih karena diselingi camilan kerupuk atau keripik, kini berganti menjadi bincang-bincang segar dan lebih menggairahkan.
Suatu kali terdorong oleh sifat kewanitaanku yang ingin berbagi dan mendengar cerita dengan sesamanya, aku ikut nimbrung dalam obrolan seru mereka. Lebih-lebih belum adanya buah hati juga kesibukan Sarah membuatku kesepian dalam kesendirian di rumah pada saat-saat tertentu. Tak lupa aku membawa buah tangan berupa nanas. Kebetulan saja, di dalam kulkas masih ada persediaan buah nanas.
“Mari-mari Dik Asti, sini gabung bersama kami!” sapa Bu Nia, ramah. Jari-jarinya yang tadi sibuk mengupas mangga, terulur menyambut kedatanganku.
“Duh, pakai repot-repot segala bawa buah nanas. Padahal ini sudah ada mangga, bengkoang, pepaya, timun juga ada. Tapi memang serasa kurang lengkap tanpa nanas,” sela Bu Rusmi hangat. Tetap dengan tangan yang sibuk mengulek sambel. Harum paduan cabe, garam, gula merah dan asam jawa yang berbaur menjadi satu menelusup lubang hidungku.
“Wah, bisa klenger hari ini kita lotisan,” timpal Bu Widi yang tengah mengiris-iris timun dengan ekspresi lucu. Semua yang hadir tergelak, termasuk aku.
Semua buah usai dikupas dan dipotong-potong. Sambal pun sudah jadi. Kini waktunya untuk menyantap sajian yang pas di siang yang panas seperti sekarang ini. Silih berganti kami mengambil irisan buah kemudian mencocolnya ke sambal. Sesekali kami mengaduh kepedasan. Namun setelahnya kembali mengulang perbuatan yang sama.
“Eh, jangan banyak-banyak loh makan buah nanasnya nanti bisa keputihan!” seru Bu Dian, serius. Selintas lalu aku memang belum melihat Bu Dian mengambil irisan nanas.
“Ah, apa iya sih, Bu?” sambungku, memastikan. Sebelumnya aku pernah mendengar buah nanas bisa memicu keputihan namun kukira itu hanya mitos belaka.
“Duh, Dik Asti jangan percaya. Itu cuma mitos yang tidak teruji secara klinis,” papar Bu Nia, yakin.
“Oh, cuma mitos toh….” desis Bu Dian lirih dengan wajah merah. Menahan malu.
“Terus kalau mitos tentang buah nanas yang bisa mengugurkan kandungan itu benar tidak, Bu?” timpal Bu Rusmi tak kalah antusias. Laju tangannya yang tadi hendak menyentuh irisan nanas diremnya sementara waktu.
Deg. Sesuatu menghentakku. Pertanyaan Bu Rusmi yang menyebut buah nanas bisa mengugurkan kandungan mendadak berdesing-desing bak gasing di kepalaku.
“Itu juga tidak betul! Disebut nanas muda berpotensi mengugurkan kandungan karena mengandung zat abortivum tapi semua itu tidak benar. Justru sejatinya buah nanas itu besar manfaatnya karena banyak mengandung vitamin A dan C juga mengandung kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium kalium dan banyak lainnya,” imbuh Bu Nia menerangkan. Beliau memang seorang perawat senior di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah jadi tak diragukan bila pengetahuannya luas. Termasuk soal gizi makanan.
”Tapi di kampungku masih banyak lho orang yang percaya kalau buah nanas bisa mengugurkan kandungan. Bahkan banyak anak gadis yang hamil di luar nikah sengaja mengonsumsi buah nanas dengan tujuan mengugurkan janinnya,” kilah Bu Dian, menutupi rasa malunya.
“Kandungannya berhasil digugurkan dengan makan buah nanas, Bu?” tanya Bu Rusmi, kembali antusias.
Deg. Deg. Deg. Detak jantungku meloncat-loncat cepat. Sebayang wajah Sarah mengitari memoriku. Sarah yang akhir-akhir ini gemar melahap buah nanas serupa kakaknya. Adik ipar serta suamiku itulah-yang selalu tiap aku ke pasar berpesan membeli buah nanas-hingga di dalam kulkasku tak pernah sepi kehadiran si kuning manis itu.
“Entahlah aku tak tahu,” jawab Bu Dian sembari mengendikkan bahu. “Biasanya selain mengosumsi buah nanas, mereka yang hamil di luar nikah itu juga pergi ke dukun pijat untuk mengugurkan kandungannya. Entah mana yang lebih berperan besar pada keberhasilannya, nyatanya banyak kandungan yang sukses digugurkan.”
“Kalau analisisku, kandungannya gugur karena tindakan dukun pijat bukan oleh sebab makan buah nanas. Ya … namanya mitos walau tidak benar sangat susah diluruskan karena sudah mengakar erat di dalam masyarakat,” ujar Bu Nia menengahi.
Wajah Sarah tak mau pupus dari otakku hingga aku pulang ke rumah. Tingkah laku Sarah yang terkesan centil dengan riasan sempurna tiap berangkat kuliah membayang di pelupuk mata. Sikapnya yang luwes, agak manja pula mesra pada Arju yang sudah menjadi pacarnya sejak mereka di bangku SMP makin membuatku was-was.
Sering aku mempergoki Sarah dan Arju tengah berciuman bibir. Tak jarang aku mendapati mereka berduaan di dalam kamar. Padahal berkali-kali aku telah menekankan pada Sarah jangan memasukkan Arju atau teman pria lainnya ke dalam kamar. Lalu … minggu-minggu terakhir ini Sarah banyak mengosumsi nanas muda. Ah, mungkinkah Sarah hamil?

***

Dua bulan terlewat, kecurigaanku berbuah nyata. Sarah hamil empat bulan. Ia akan segera dinikahkan. Anehnya, ibu mertuaku ngotot mengadakan pesta besar-besaran. Sarah anak ragil, kapan lagi ibu mengadakan hajat besar untuk mengembalikan piutang sumbangan dari tetangga. Begitu tandas ibu berulang-ulang.
Pesta pernikahan Sarah dan Arju dilangsungkan dengan meriah di kampung suamiku, Boyolali. Tenda-tenda biru dipancang di halaman rumah. Sound system disewa. Pelaminan didirikan. Tukang rias didatangkan.
“Dik As, kamu mau cepat hamil?” tanya Mbak Wanti, saudara sepupuku kala kami menunggu giliran dirias. Kujawab dengan anggukan pasti.
“Sttt … nanti saat kumpul, kamu curi nanas yang ada di padi-padi. Lalu kamu makan diam-diam. Jangan sampai ada yang tahu,” tutur Mbak Wanti pelan namun terdengar jelas di telingaku.
“Curi nanas?” sentakku, bingung.
“Stt … iya tapi jangan sampai ketahuan.”
Lima tahun pernikahan tanpa sekalipun mengecap kehamilan adalah penyiksaan batin. Orang-orang berbisik aku mandul, tanah kering, gedebok tak berguna. Beragam cara telah kulakukan untuk menjemput kehamilan dari yang rasional hingga tak sesuai dengan logika. Dari mencuri popok bayi bau ompol, merampas bunga pengantin dan sekarang aku melakukannya lagi.
Maka sekarang di sinilah aku. Pencuri yang sedang mengincar target. Mataku awas menguntit nanas muda yang tertancap di bokor samping pelaminan. Betapa terlihat bodohnya aku. Lagi-lagi berharap mitos demi kehamilan yang kuidam-idamkan. #
NB:
Padi-padi: salah satu kelengkapan dari pelaminan adat jawa dimana padi-padi dibuat dari janur (daun kelapa muda) yang dipilin lalu ditancapkan di batang pohon pisang (debok) lalu ditaruh di bokor. Di batang pohon pisang itu juga ditancapkan buah dan sayuran seperti apel, jeruk, anggur, wortel, cabai dan lain-lainnya. Sedang di ujung atas ditancapkan nanas sebagai mahkotanya.
Kumpul (panggih): acara dimana pengantin wanita dipertemukan dengan pengantin pria.

Tentang Penulis :
Endang S. Sulistiya adalah seorang buruh kontrak di sebuah pabrik. Lulus dari Fisipol UNS Tahun 2008. Di sela pekerjaan pabrik serta pekerjaan rumah yang menguras waktu dan tenaga, berusaha kembali untuk menyisihkan waktu untuk tetap menulis. Sewaktu masih menggunakan nama pena Lara Ahmad, beberapa kali cerpennya mendapatkan kesempatan dimuat di media lokal dan nasional.

——— *** ———

Rate this article!
Harapanku pada Nanas,5 / 5 ( 1votes )
Tags: