Hardcore di Era Kebebasan Informasi

Rio F. RachmanOleh :
Rio F. Rachman
Penulis adalah mahasiswa penerima beasiswa LPDP di S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga.

Istilah hardcore di tulisan ini disesap dari ide Noelle-Neumann (1974) yang mempopulerkan teori komunikasi spiral keheningan (West & Turner: 2007). Noelle-Neumann berpandangan, para minoritas yang selalu “ditindas” opininya, termasuk melalui media, akan cenderung memilih diam (hening) dan terperangkap arus suara mayortitas.
Namun, ada golongan pemberontak yang memilih tetap menyuarakan pandangan. Mereka yang menolak tunduk inilah yang disebut hardcore. Hardcore merasa kalau setiap orang butuh dipahami pemikiran dan diakui eksistensinya. Karena bisa jadi, pandangan minoritas bukanlah pola pikir keliru.
Di era media baru dan revolusi informasi seperti sekarang ini, hardcore semakin militan memperjuangkan pendapat. Terlebih seusai runtuhnya orde baru yang konon kerap mengekang kebebasan berekspresi. Langkah-langkah hardcore terus terlihat hasilnya. Meskipun tetap perlu dioptimalkan lagi.
Perhatikan orang-orang feminis yang boleh dibilang termasuk golongan hardcore. Mereka menempuh jalur cyberfeminism atau berjuang dengan mengoptimalkan fungsi media teknologi.  Hasil kerja keras itu dapat dirasa dengan terus terangkatnya isu-isu kesetaraan gender di masyarakat. Semakin banyak undang-undang dan peraturan pro kesetaraan.
Memang, perjuangan itu belum selesai. Sebab, mengikis cara pandang atau kultur patriarki yang lahir sejak puluhan abad tentu tidak mudah. Meskipun saat ini terdapat angin segar perubahan, namun hembusannya masih sepoi. Eksploitasi perempuan untuk meraih kapital masih terjadi baik di dunia faktual maupun di ranah maya seperti internet.
Misalnya, ungkapan bahwa kamera adalah mata lelaki masih melekat. Iklan dan acara televisi masih menjadikan perempuan sebagai objek yang “lebih ditonjolkan” karena lebih sedap dipandang dari pada lelaki. Tapi sekali lagi, efek perjuangan feminisme sudah dapat dinikmati.
Hardcore lain adalah para kaum homoseksual yang dulunya seakan dikesampingkan namun sekarang mendapat pengakuan di sejumlah negara. Capaian itu pula yang mungkin mengilhami gerakan serupa di Indonesia seperti Forum LGBTIQ (Lesbian/ Gay/ Bisexual/ Transgender/ Intersex/ Queer) dan GAYa Nusantara. Mereka terus berjuang memanfaatkan media dan teknologi seperti internet, majalah, dan melakukan kegiatan seperti pelatihan atau seminar. Progres aktifitas mereka plus tujuan dan pendapat mengenai kehidupan LGBTIQ lantas disebarkan ke publik melalui media massa.
Tak hanya golongan yang “kiri”. Hardcore “kanan” juga terus berjuang. Media massa dan internet dijadikan sarana utama. Misalnya, apa yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kelompok yang berjargon “Tegakkan Syariah dengan Khilafah” ini memiliki beragam jenis media massa.
Selain untuk menguatkan pondasi orang-orang yang sudah berbaju HTI, media massa ini juga dipakai untuk mensosialisasikan pandangan bagi “orang luar”. Mereka punya tabloid dwi mingguan Media Umat, majalah bulanan Al Wa’ie, dan buletin mingguan Al Islam serta website mediaumat.com.
Kecuali orang di internal HTI pusat, mungkin tidak ada yang benar-benar tahu seberapa pesat detil perkembangan jumlah simpatisan mereka. Namun, orang-orang kampus, dan orang-orang yang biasa memperhatikan gerakan demonstrasi di jalanan, pasti paham kalau HTI saat ini memiliki pengikut yang lumayan banyak.
Poinnya adalah hardcore akan selalu mencari cara untuk eksis. Dengan teknologi informasi dan media yang pesat berkembang seperti sekarang ini, golongan tersebut mendapat durian runtuh.
Perlawanan hardcore terhadap mainstream mungkin bisa dilumpuhkan rezim. Tinggal dibungkam saja dengan strategi khas diktator atau otoriterian. Namun, cara yang salah dan arogan seperti itu pasti akan tumpas di makan zaman. Bukankah para diktator dunia akhirnya tumbang tersapu zaman yang terus berkembang? Sedangkan dibabat pun, secara natural, sifat hardcore adalah tahan banting. Toh dihabisi atau tidak, mereka sudah terbiasa tersisih.
Nah, jika ada golongan yang tidak sepakat atau berseberangan dengan pandangan hardcore, tidak ada salahnya membuat pandangan dan kerja keras tandingan yang sifatnya sepadan. Misalnya, lawanlah pendapat dengan pendapat, ideologi dengan ideologi, gerakan dengan gerakan, media dengan media, buku dengann buku, dan seterusnya. Bukan dengan menjegal hardcore melalui seragan norak dan anarkistis atau pembuatan regulasi yang diskriminatif.
Cara ini tentu lebih bijak dan dapat diterima masyarakat. Bakal tak ada saling hujat atau konfrontasi ala bar-bar. Muaranya, biarlah masyarakat menilai, apa hardcore ini patut dibela atau dibiarkan tetap menjadi minoritas dan tidak dipertimbangkan keberadaannya. Wallahua’lam.

                                                                                    ————–*** ————–

Rate this article!
Tags: