Harga Ayam Potong Naik, Pedagang Resah

Tulungagung, Bhirawa
Naiknya harga ayam potong membuat resah pedagang pasar tradisional Ngemplak Tulungagung, karena membuatĀ  penurunan omzet penjualan mereka di tingkat konsumen.
“Meski kenaikannya tidak terlalu besar, hal itu tetap memicu perubahan pola belanja konsumen di pasar,” kata salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Ngemplak, Tulungagung, Purwadi, Kamis (15/5).
Di los pedagang ayam potong Pasar Ngemplak, daging ayam ras kering saat ini dijual Rp28 ribu per kilogram sementara untuk jenis daging ayam ras dengan kandungan air tinggi (basah) dijual hingga kisaran Rp25 ribu per kilogram.
Harga itu lebih tinggi dibanding sepekan sebelumnya yang masih dijual di kisaran Rp25 ribu per kilogram untuk ayam ras kering dan Rp22 ribu untuk jenis daging basah. “Kenaikan harga ayam ras atau broiler ini ternyata juga diikuti kenaikan harga ayam kampung sekitar Rp15 ribu per kilogramnya,” timpal Ganang, pedagang ayam potong lain.
Secara ekonomi, kata Ganang maupun Purwadi, mereka tak terimbas atau terbebani langsung dengan kenaikan harga beberapa jenis ayam potong tersebut karena tetap memiliki margin keuntungan antara harga belanja (beli) dengan harga jual ke pembeli.
Namun, mereka mengklaim omzet jualan daging ayam potong mereka saat ini cenderung turun hingga kisaran 20 persen. Jika sehari-hari biasanya Purwadi dan Ganang rata-rata bisa menjual daging ayam potong sekitar 70-100 kilogram, kini omzet mereka tinggal sekitaran 40-60 kilogram perhari.
“Perubahan harga selalu membuat pembeli berpikir ulang untuk membeli barang yang bahkan mungkin telah dimasukkan dalam daftar belanja dari rumah, jika tidak batal biasanya mereka mengurangi volume belanjaan,” tutur Ganang.
Menurut penjelasan ahli peternakan asal Blitar, drh Ani Anggraini meningkatnya harga jual ayam potong di pasaran disebabkan ketersediaan ayam broiler maupun ayam petelur yang telah afkir, saat ini cenderung menurun.
Padahal pada saat bersamaan permintaan pasar akan daging ayam tetap atau bahkan meningkat. Akibatnya, sebagaimana hukum ekonomi, harga jual ayam potong per kilogram (basah maupun kering) ikut terdongkrak naik. “Kondisi ini merupakan akumulasi persoalan peternak, khususnya di wilayah Karesidenan kediri, sejak enam (6) bulan terakhir dimana biaya produksi ternak ayam mereka cenderung defisit dibanding harga jual di pasaran,” terang drh Ani.
Lanjut dia, situasi merugi tersebut yang pada kelanjutannya mendorong peternak secara bertahap mengurangi populasi ayam mereka hingga kwartal kedua 2014. “Ini yang memicu ketidakseimbangan antara ketersediaan barang (ayam) dengan kebutuhan pasar,” jelasnnya. [wed.ant]

Tags: