Harga Cabai Rawit Merah di Probolinggo Capai Rp 125 Ribu Perkilogram

Cabai rawit merah melebihi harga daging di Probolinggo.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Probolinggo, Bhirawa
Mahalnya harga cabai rawit ditengarai memunculkan pedagang nakal untuk mengeruk keuntungan berlebih. Salah satunya yang tengah viral, yakni dugaan mengecat cabai rawit hijau dengan warna oranye atau merah.

Kejadian ini terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Munculnya “kejahatan” ini mendapat perhatian serius dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo. Yakni, dengan menerjunkan pengawas ke pasar untuk memantaunya.

Satgas Pangan Polres Probolinggo Kota juga berusaha mengantisipasi. Serta, memastikan sampai kemarin belum ada temuan serupa di Kota Probolinggo. “Sementara ini masih belum ada laporan tentang cabai rawit dicat di wilayah Kota Probolinggo. Kami juga akan mengecek DKUPP yang membawahi pasar di Kota Probolinggo,” ujar Iptu Slamet Sudarno dari Satgas Pangan Polres Probolinggo Kota, Selasa (23/3).

Mengenai ulah warga mengecat cabai apakah merupakan tindakan kriminal, Slamet mengatakan, perbuatan pelaku bisa dianggap menipu masyarakat. “Intinya, nantinya ditindaklanjuti dengan UU Pangan. Kami menunggu perkembangannya. Sebelum ke sana dijelaskan dulu oleh penyidik. Bisa juga diundang dari kejaksaan,” ujarnya.

Slamet menduga, perbuatan itu dilakukan dimungkinkan karena saat ini harga cabai rawit mahal. Sehingga, pelaku berbuat nekat untuk meraup keuntungan tinggi dengan mengecat cabai rawit. Di Kota Probolinggo, kemarin harga cabai rawit merah melebihi harga daging sapi. Mencapai Rp 125 ribu per kilogram.

Kepala DKUPP Kota Probolinggo Fitriawati mengaku mendengar kabar adanya cabai rawit dicat. Menurutnya, itu ulah kreatif oknum untuk mendapatkan keuntungan berlipat ketika harga cabai rawit melambung.

“Tapi ini tidak baik karena tidak layak dikonsumsi. Sampai saat ini kami belum mendapat laporan adanya cabai rawit dicat di Kota Probolinggo. Tapi untuk antisipasi, kami akan menerjunkan pengawas di pasar untuk memastikan cabai rawit dicat ini tidak masuk,” ujarnya.

Kabar adanya cabai rawit dicat telah banyak didengar oleh pedagang cabai rawit di Pasar Baru Kota Probolinggo. Sejumlah pedagang memastikan, dagangannya aman. Alias tanpa cat. Selasa (23/3), di Kota Probolinggo, harga cabai rawit melebihi harga daging sapi, mencapai Rp 125 ribu per kilogram.

“Sudah dengar. Masuk televisi ada cabai rawit dicat, tapi saya tidak jual,” ujar salah seorang pedagang di Pasar Baru, Khusnawiyah. Khusnawiyah menyayangkan adanya cabai rawit dicat. Menurutnya, tindakan itu membahayakan konsumen. “Harga cabai rawit sekarang mahal. Jadi, ada yang nakal, cabai rawit hijau dicat jadi merah buat ambil untung. Padahal, bahaya kalau dikonsumsi,” ujarnya.

Kemarin harga cabai rawit merah mencapai Rp 125 ribu per kilogram. Sedangkan, cabai rawit hijau hanya sekitar Rp 50 ribu per kilogram. “Kalau campur dijual Rp 100 ribu per kilogram. Di Wonoasih banyak yang menanam cabai rawit, tapi sekarang pohonnya sudah rusak dan banyak diganti tanaman jagung,” jelasnya.

Pedagang lainnya, Hamid mengaku tidak tahu tentang adanya cabai rawit yang dicat. “Kalau cabai rawit dicat dari Banyuwangi, tidak ada. Rata-rata di sini cabai rawit didatangkan dari Surabaya, bukan Banyuwangi. Keterlaluan kalau cabai rawit hijau dicat. Itu orangnya mau ambil untung,” katanya.

Harga cabai rawit merah dengan harga cabai rawit hijau, menurut Hamid, memang berbeda jauh. Cabai rawit hijau hanya sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. “Kalau yang merah Rp 125 ribu. Kalau campur Rp 100 ribu per kilogram,” ujar warga Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok tersebut.

Hal senada diungkapkan Sueb, pedagang di Pasar Baru. “Saya ambil cabai rawit dari daerah Probolinggo, seperti Gending dan Kraksaan. Bukan dari Banyuwangi. Kalau ada cabai rawit dicat, kasihan konsumennya. Bahaya kalau dikonsumsi,” tambahnya.(Wap)

Tags: