Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu Perkilogram di Kota Probolinggo

Pedagang sayur di Probolinggo tunjukkan pedasnya cabe rawit.wiwit agus pribadi/bhirawa]

Picu Angka Inflasi Jadi 0,28 Persen
Kota Probolinggo, Bhirawa
Kenaikan harga cabai rawit menjadi salah satu penyumbang tertinggi dan pemicu angka inflasi di Kota Probolinggo menjadi 0,28 persen pada bulan Januari 2021. “Hal itu seiring dengan kenaikan harga cabai yang melonjak di pasar tradisional pada awal tahun ini,” ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setiono Sayekti melalui Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Heri Astuti.

Ya, harga cabai rawit cukup tinggi pada Januari 2021, yakni berkisar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional, sehingga kenaikan yang cukup signifikan itu menyumbang angka inflasi, katanya Kamis (18/2)

Perempuan yang pernah menjabat sebagai Sekretaris di Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) itu, mengimbau masyarakat untuk melakukan teknik budidaya dengan memanfaatkan lahan sekitar rumah atau pekarangan dengan menanam tanaman obat keluarga (toga) dan sayur mayur dengan tenologi hidroponik dan aquaponik.

Selain cabai rawit yang menyumbang inflasi sebesar 0,1296 persen, komoditi lain juga turut andil memberikan sumbangan inflasi di bulan ini. Seperti tempe sebesar 0,0367 persen dan tahu mentah sebesar 0,0291 persen.

Menyikapi naiknya harga tempe dan tahu di pasaran, Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan (TPHP) Irhamni Alfatih mengungkapkan salah satu kendalanya, adalah minimnya minat petani menanam kacang kedelai. Hal itu dikarenakan para pengguna khususnya pabrikan tahu dan tempe lebih memilih menggunakan bahan baku kedelai impor. Karena persediaannya bisa didapat setiap saat, penanamannya cepat dan berkualitas dibanding kedelai jenis lokal.

Ditanya perihal minimnya petani kedelai yang ada di Kota Probolinggo, Irham menyebut, disamping luas dan lahan yang dinilai tak profit untuk ditanam di Kota Probolinggo, petani cenderung menanam komoditas yang benar-benar menguntungkan mereka, seperti padi dan jagung.

“Kalau kedelai lokal, selain yang disebutkan diatas, kendala pemasaran dan biaya produksinya yang cukup tinggi. Sehingga hasil panennya dinilai kurang menguntungkan, dibanding tanaman padi atau jagung,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Heri Sulistio melalui Kasi Distribusi M. Machsus menyampaikan bahwa pada Januari 2021 di Kota Probolinggo mengalami inflasi sebesar 0,28 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,83 persen, sedangkan laju inflasi year on year sebesar 1,76 persen.

“Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi bulan Januari 2021 adalah cabe rawit, tempe, tahu, tahu mentah, ikan benggol, melon, ketimun, cumi-cumi dan lain-lain,” katanya.

Inflasi bulan Januari 2021 pada delapan kota IHK di Jawa Timur semua kota mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Madiun sebesar 0,60 persen; diikuti oleh Kota Surabaya sebesar 0,37 persen; Kota Probolinggo sebesar 0,28 persen.

Kemudian Kabupaten Jember sebesar 0,25 persen; Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,18 persen; Kota Kediri sebesar 0,16 persen. Inflasi terendah terjadi di Kota Malang, yakni sebesar 0,06 persen. Sedangkan Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,32 persen.

Dalam Sepekan ini harga cabai mulai melonjak harganya, sehingga banyak para kuliner membeli bahan pokoknya dari cabai mulai mengeluh. Di pasar baru kota Probolinggo, memang sebagaian harga pokok ada yang naik ada yang turun, diantaranya Bawang putih dan cabai rawit serta cabai merah besar.

Musrifah pedagang Pasar Baru Kota Probolinggo, mengatakan, harga cabai rawit yang hijau 42 ribu sebelumnya 20 ribu sedangkan cabe rawit merah 90 ribu sedangkan Cabe besar 36 ribu. “Yang naik bawang putih dan cabe merah, kalau cabai merah besar 36 ribu sedangkan cabe merah kecil 90 ribu, naiknya disebabkan stok dipasaran berkurang,” terangnya.

Menurut Kepala DKUPP (Dinas Koperasi Usaha Mikro, perdagangan dan perindustrian),kota probolinggo, Fiitriwati, mengatakan, DKUPP melaksanakan pemantauan di pasar, mencegah terjadinya praktek – praktek yang menyebabkan ketidak wajaran harga seperti penimbunan dan lain – lainnya, kalau masalah teknis menjadi kewenangan DKUPP, ‘ tegasnya.

Fitriwati menambahkan, Terkait kenaikan harga cabai, penyebabnya antara lain, gagalnya panen karena faktor cuaca, yang saat ini sedang musim hujan, untuk jelasnya bisa tanya ke dinas pertanian, ” lanjutnya.

Sementara saat berita ini diangkat pihak dinas ketahanan pangan dan pertanian kelautan kota probolinggo, belum bisa diminta keterangan, masalah kenaikan harga cabai yang naik harganya. Dalam sepekan terakhir ini, harga cabai rawit di Kota Probolinggo terus naik. Hari ini, harganya naik tembus Rp 100.000 per kilogram.

Seorang pedagang di Pasar Kronong Kota Probolinggo, Jito mengatakan, harga cabai memang sudah mahal sejak dari petani, membuat para pedagang mengikutinya. “Sekarang sudah Rp 100.000/ per kilogram. Harga dari tengkulak memang sudah tinggi, kami juga mengikuti. Mungkin karena sekarang musim hujan, tanaman cabai rawit banyak yang rusak,” ujarnya.

Meski harganya melambung tinggi, Ia mengatakan, tidak banyak berpengaruh terhadap konsumen. Pembeli masih cukup banyak, terutama kalangan ibu-ibu. Harga cabai rawit di Probolinggo semakin pedas dalam sepekan terakhir. Hampir setiap hari naik, Minggu, 14 Februari 2021, cabai rawit di sejumlah pasar tradisional dijual sekitar Rp100.000 per kilogram (kg).

“Memang harga kulak dari pengepul cabai rawit terus naik, ya saya mengikuti alias ikut naik. Hari ini cabai rawit saya jual Rp100.000 per kilogram,” tambah Jito, pedagang di Pasar Kronong, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.(Wap)

Tags: