Harga Kedelai Melonjak Tajam, Perajin Tahu Tempe di Kabupaten Malang Merugi

Pujianto perajin tahu asal Desa Putat Kidul, Kec Gondanglegi, Kab Malang, saat memproses untuk pembuatan tahu. [cahyono/Bhirawa]

Kab Malang, Bhirawa
Harga kedelai melonjak tinggi, hal ini sangat berdampak pada perajin tahu tempe di Kabupaten Malang. Sedangkan selama ini para perajin tahu tempe mengandalkan kedalai impor, sehingga ketika kedelai impor naik maka perajin kini kebingungan. Karena sebelumnya harga kedelai impor hanya Rp 8.900, kini mencapai Rp 9.584 per kilogram. Sedangkan untuk kedelai lokal harganya Rp 9.686 per kilogram.

Hal ini dibenarkan, salah satu perajin tahu asal Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Pujianto, Selasa (5/1), jika harga kedelai impor melonjak tajam. Sehingga dengan adanya kenaikan harga kedelai impor ini, maka dirinya mengalami kerugian. “Karena tidak bisa menaikan harga tahu yang kami produksi. Dan jika harga tahu kami naikan, takutnya tidak ada yang membeli, sehingga harga yang kami jual tetap seperti biasa,” tuturnya.    

Sebab, kata dia, kedelai sebagai bahan pokok pembuatan tahu, sehingga ketika harga kedelai naik, maka hal itu tidak sebanding dengan harga penjualan tahu. Sedangkan cara agar perajin tahu tidak mengalami kerugian terlalu besar, tentunya ukuran tahu kami kecilkan. Karena jika ukuran tahu tetap, dengan harga yang sama yang jelas akan rugi banyak. Sedangkan saat ini harga tahu yang kami jual Rp 3000-Rp 5000 per 10 bijinya. Sehingga adanya kenaikan harga kedelai impor, harga tahu tetap, tapi ukuran tahunya diperkecil.

“Sebelum adanya kenaikan harga kedelai, dirinya setiap hari menghabiskan bahan dasar pembuatan tahu seberat 75 kilogran, namun kedelai impor naik produksi tahu saya turunkan, kini hanya 60 kilogram per hari,” ungkap Pujianto.  

Menurutnya, tahu produksinya kami didistribusikan ke berbagai pasar, yang tidak hanya di wilayah Kabupaten Malang saja, tapi juga ke berbagai pasar di Kota Malang. Sedangkan kenaikan harga kedelai impor sudah kami rasakan sejak sebulan terakhir ini, yakni sejak bulan Desember 2020. Dan kenaikannya semula per hari, tapi kemudian per jam. Sehingga hal tersebut membuat kebingungan. Untuk itu, dirinya berharap agar pemerintah kembali menata tata niaga kedelai impor.

“Supaya tidak mengalami lonjakan harga yang sangat mengerikan seperti sekarang. Karena saat ini perajin tahu dan tempe di wilayah Kabupaten Malang sangat mengandalkan kedelai impor, yang disebabkan pertimbangan stok dan kualitas,” tegas Pujianto.

Ditempat terpisah, perajin tempe asal Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang Muji Susanto berharap agar Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), pada tahun 2021 ini mereda atau berakhir. Sehingga ekonomi masyarakat bisa kembali bergairah, terutama pada perajin tahu tempe. Sedangkan saat ada informasi jika Covid-19 akan mereda di bulan November 2020 lalu, penjualan tempe perlahan mulai normal. Namun, pada bulan Januari 2021 jika penularan Covid-19 kembali tinggi, maka penjualan tempe kembali turun, apalagi kini harga kedelai impor melonjak tajam.  

“Karena warung dan tempat usaha kuliner baik itu di Kabupaten Malang dan Kota Malang, tidak bisa buka hingga malam. Hal itu disebabkan, Pemerintah Daerah setempat memberlakukan jam malam. Sehingga pada pukul 20.00 WIB warung-warung dan restoran harus tutup,” terangnya. [cyn]

Tags: