Hari Ibu Momentum Tingkatkan Perjuangan

Karikatur Hari IbuPemprov Jatim,Bhirawa
Hari Ibu Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Desember merupakan momentum untuk mengenang dan menghormati perjuangan para kaum perempuan Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat pantang menyerah dan berjuang tanpa pamrih merupakan nilai luhur yang dapat diserap oleh generasi penerus bangsa.
Demikian dikatakan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Provinsi Jawa Timur, Sukesi, yang didaulat sebagai Pimpinan Ziarah dalam rangka Hari Ibu Nasional ke-86, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) dan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sepuluh Nopember Jalan Mayjen Sungkono, Senin (22/12).
“Saya mengajak kepada masyarakat terutama Ibu-ibu dan generasi muda penerus bangsa untuk meneladani semangat perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan perempuan kita. Peran dalam rangka mengisi kemerdekaan tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya pada laki-laki saja, perempuan harus bisa memberikan kontribusi untuk kebangkitan Indonesia,” Katanya saat ditemui usai prosesi Upacara Ziarah.
Sukesi menambahkan Indonesia kini telah berada pada proses reformasi¬† dan demokrasi yang semakin menunjukkan kedewasaan sehingga memberi ruang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Berbagai aspek seperti kesempatan memperoleh pendidikan tinggi, berkarir di pemerintahan bahkan berjuang di medan pertempuran idealnya sudah tidak menjadi hal yang tidak mungkin. “Kesenjangan di berbagai bidang laki-laki dan perempuan kami harap semakin menipis,”ujarnya.
Dipilihnya Taman Makam Pahlawan (TMP) sebagai tempat upacara, Sukesi mengungkapkan disamping mengenang perjuangan pahlawan, pesan yang ingin disampaikan adalah agar tidak lupa mendoakan arwah pahlawan. Ia menilai tanggung jawab sebagai generasi penerus tidak hanya berkarya membangun bangsa namun juga senantiasa memohon doa pada Tuhan Yang Maha Esa agar para pahlawan diampuni dosa dan mendapat tempat yang Indah disisiNya.
Sekedar diketahui, peringatan Hari Ibu Nasional mengambil momentum sejarah terlaksananya Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 hingga 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta. Para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I.
Gedung Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto Yogyakarta menjadi saksi sejarah berkumpulnya 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Sejak tahun 1912 sebetulnya sudah ada organisasi perempuan. Pejuang-pejuang wanita pada abad ke-19 seperti Cut Nya Dien, Cut Mutiah, M. Christina Tiahahu, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan-gerakan perjuangan.
Hal tersebut menjadi latar belakang dan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan di Indonesia sekaligus memotivasi para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai penjuru tanah air berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib bagi kaum perempuan.
Prosesi ziarah diakhir dengan acara tabur bunga di seluruh makam pahlawan, tampak khidmat para peserta tabur bunga yang terdiri dari perwakilan SKPD di lingkungan Provinsi Jatim, Palang Merah Indonesia (PMI), Penyandang Disabilitas, TNI dan Polri. [hms]

Tags: