Hari ini, Ludruk Kolaborasi Garap Naskah William Shakepeare

Seniman ludruk yang sedang latihan untuk pertunjukan perdana Ludruk Kolaborasi yang merupakan ludruk pengembangan baru, dan perdana akan diselenggarakan di Gedung Cak Durasim Surabaya pada Jumat (29/3) pukul 19.30 Wib.

Penasaran, Langsung Datang ke Gedung Cak Durasim Surabaya
Pemprov, Bhirawa
Jika ludruk biasanya dimainkan secara tradisional, kini sudah berbeda jamannya, karena Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur akan menyelenggarakan perdana Ludruk Kolaborasi berjudul Matahati yang naskahnya diadopsi King Lear (Karya William Shakespeare) dengan melibatkan seniman Jawa Timur, seperti H Kirun, Agus Kuprit, Cak Tawar, dan lainnya.
Ludruk Kolaborasi ini diselenggarakan pada Jumat (29/3) pukul 19.30 Wib, di gedung Cak Durasim UPT Taman Budaya Jawa Timur di Jl Gentengkali , Surabaya. Rencananya ludruk ini juga akan dihadiri Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa.
Kepala Disbudpar Jatim, Sinarto melalui Kabid Kebudayaan, Handoyo menyampaikan, terselenggaranya Ludruk Kolaborasi ini merupakan kegudahan Gubernur Jawa Timur yang melihat belum begitu banyak antusias masyarakat terhadap seni budaya asli Jawa Timur tersebut.
“Ludruk ini sangat bagus, namun peminatnya makin hari makin sepi. Jika dibiarkan saja akan menjadi punah seni budaya khas Jawa Timur ini. Beliau (Gubernur Jatim, Khofifah, red) dalam masa kerja 99 harinya melalui Disbudpar Jatim bekerjasama dengan seniman menggarap ludruk pembaharuan, yaitu ludruk kolaborasi,” katanya, Kamis (28/3).
Dalam menggerakkan pengembangan dan pelestarian ludruk, maka Taman Budaya Jawa Timur akan dijadikan Laboratorium Ludruk. Seniman ludruk juga diharapkan bisa turut serta didalam pengembangan ludruk agar bisa selalu bisa dinikmati berbagai kalangan masyarakat di Jatim ini.
“Jadi nantinya akan lahir ludruk – ludruk pembaharuan dari laboratorium ludruk yang ada di taman budaya ini. Beda dengan ludruk tradisional, diharapkan juga adanya ludruk pembaharuan ini juga bisa menggaet minat milenial untuk menontonnya,” katanya.
Dikatakannya, ludruk pengembangan baru ini akan berbeda dari aspek ide cerita, iringan musik, hingga kostum nantinya akan ada perbedaan. Apalagi ke depan akan ditambahkan dengan teknologi informasi.
“Kami berharap juga ludruk bisa berjaya kembali pada saat dilahirkannya ludruk jaman dulu,” katanya.
Seperti apa ludruk pembaharuan/kolaborasi, lanjut Handoyo, jika penasaran maka masyarakat bisa langsung mendatangi Taman Budaya Jatim dengan gratis tanpa dipungut biaya. “Silahkan datang untuk melihatnya,” ujarnya.
Sementara, salah satu pelaku seniman ludruk, H Kirun menyampaikan, kalau biasanya ludruk tradisional dimulai malam hingga dini hari. Namun, dengan garapan pengembangan baru ini berbeda, sajian ludruk bisa 1,5 jam hingga 2 jam saja. “Mendekatkan dengan generasi muda kalau pertunjukan itu tidak sampai terlalu lama, namun cerita dan lainnya tercakup,” katanya. [rac]

Tags: