Hari Pertama PPKM di Surabaya, Masih Ada Masyarakat Tak Patuh Prokes

Petugas Satlantas Polrestabes Surabaya menghadang pengendara roda dua yang salah jalur masuk ke jalur roda empat di Bundaran Waru, Surabaya, Senin (11/1). Water Barrier yang dipasang di pintu masuk Surabaya untuk memisahkan kendaraan roda dua dan roda empat dan petugas juga mengawasi pengendara yang tidak mematuhi Prokes. [Oky abdul sholeh]

Surabaya, Bhirawa
Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hari pertama di Kota Surabaya masih diwarnai masyarakat yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan (Prokes). Dihari pertama PPKM juga dilakukan penyekatan kendaraan ditiga titik perbatasan Surabaya, yakni di Jalan Merr, Osowilangun dan Bundaran Waru.
Seperti yang ada di kawasan Bundaran Waru atau kawasan Cito, penyekatan kendaraan mulai diperlakukan baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat sejak tadi pagi. Penyekatan dibagi menjadi dua. Untuk kendaraan roda dua dilewatkan melalui Jalur Frontage. Sedangkan untuk roda empat melalui jalur utama Jalan Ahmad Yani.
Water barier, rambu-rambu serta poster imbauan menggunakan masker terpasang di sekitar jalan dan lokasi check point itu. Puluhan petugas Satlantas Polrestabes Surabaya, Satpol PP dan Dishub juga terlihat berjaga.
Dalam penerapannya PPKM ini, pola penyekatannya tidak jauh berbeda dengan PSBB dulu. Namun tidak ada penindakan, petugas hanya mengawasi pengendara yang tidak mematuhi protokol kesehatan.
“Bagi pengguna jalan yang bukan warga surabaya tidak memiliki silakan berputar balik. Karena Surabaya mulai menerapkan PPKM,” kata salah seorang petugas Satlantas Polrestabes Surabaya di Budaran Waru sisi Surabaya, Senin (11/1).
Dalam penyekatan ini ternyata banyak pengendara roda dua yang terlihat salah jalur. Mereka rata-rata menerobos melalui jalur utama untuk kendaraan roda empat. Beruntung banyak petugas yang berjaga. Mereka kemudian diputarbalikkan menuju jalur frontage Ahmad Yani.
Ada beberapa kendaraan roda dua terjaring tidak menggunakan masker. Mereka lansung diberi surat tilang dan KTP mereka disita. “Karena tidak menggunakan masker, KTP disita. Tolong ke depan maskernya dipakai,” kata salah satu petugas Satpol PP Kota Surabaya di Bundaran Waru.
Bagi pelanggar protokol kesehatan yang disita KTP-nya akan dikenakan denda administratif sebesar Rp 150 ribu, sesuai aturan di Perwali Nomor 67 Tahun 2020. Mereka juga diharuskan membayar via transfer karena masuk dalam kas daerah. Sebab petugas di lokasi tidak menerima pembayaran secara langsung.
Kasatpol PP Kota Surabaya Eddy Christijanto, mengatakan, jika PPKM hari pertama baru dalam tahap sosialisasi. Namun demikian, penengakan Perwali Nomor 67 tahun 2020 tetap berjalan. “Iya masih tetep dijalankan penengakan Perwali Nomor 67 Tahun 2020 terkait Protokol Kesehatan,” kata Eddy.
Sementara itu Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengatakan, penyekatan sudah dilakukan di tiga titik pintu keluar masuk Surabaya. Diantaranya di Bundaran Waru, Terminal Osowilangon MERR.
“Penyekatan ini bertujuan untuk mengurangi penyebaran kasus Covid-19. Kami juga kembali menghidupkan Kampung Tangguh Semeru,” kata Gatot.
Gatot menjelaskan, sebanyak 1.667 personil Satuan Tugas (Satgas) PPKM dikerahkan dalam patroli kepatuhan masyarakat dalam menerapkan aturan PPKM. Jumlah tersebut terdiri dari 837 personil dari Polda Jatim, 445 personil cadangan Polda Jatim, 335 personil TNI dan 492 personil dari instansi lain. [iib.bed]

Tags: