Hasilkan Lulusan Berkompeten, Smekdor’s Libatkan Tenaga Profesional Industri Film

Ketua KFT dan BPI, Gunawan Paggaru (kanan), Kepala SMK Dr Soetomo Juliantono dan perwakilan salah satu kelompok tugas akhir berbincang terkait proses pembuatan film pendek.

Empat Film Pendek karya 29 Siswa di Assesmen
Surabaya, Bhirawa
Tugas akhir jadi syarat kelulusan siswa SMK. Karenanya, beberapa sekolah sering melibatkan tenaga profesional dari industri untuk melakukan asesmen karya siswa. Salah satunya yang dilakukan SMK Dr Soetomo Surabaya (Smekdor’s). Dalam assesmen ini, sekolah menggandeng Ketua Umum KFT (Karyawan Film Televisi) dan BPI (Badan Perfilman Indonesia), Gunawan Paggaru.
Pada gelar karya tugas akhir, sebanyak 29 siswa kelas XII melakukan screening film pendek yang merupakan hasil karyanya terakhir selama belajar di Smekdor’s. Selanjutnya setelah lulus SMK para siswa bisa terjun di dunia film secara profesional.
Salah satu screening karya yang ditampilkan adalah film pendek Kulo Nuwun, yang merupakan karya kelompok 1. Ketua kelompok, Putri Nurrahma Maulidia mencerita, karya film ini bercerita tentang remaja yang diterima kerja di tempat baru. Namun, di tempat itu dia tidak permisi dan dihantui dengan makhluk lain.
“Jadi yang ingin kami sampaikan film ini adalah dimanapun kita berada semua harus permisi, dan orang harus tahu sopan santun di tempat baru,” jelasnya, Rabu (18/5) usai screening film di CGV Marvel, Surabaya.
Meski begitu, Putri mengakui ada beberapa persoalan teknis yang menjadi kendala. Seperti editing dan adegan yang kurang sesuai. Sehingga harus dilakukan take ulang. Selain itu, ada persiapan khusus seperti penggunaan audio yang lebih jelas dan pengaturan color bridge untuk diputar di layar bioskop.
Ketua Assesmen, sekaligus Ketua Umum KFT dan BPI, Gunawan Paggaru mengungkapkan, aspek penilaian dalam assesmen karya tugas akhir ini meliputi pengetahuan, skill dan attitude.
“Kita nilai aspek ini, dalam menilai karya siswa. Karena tiga elemen ini sangat penting dan berpengaruh dalam industri perfilaman. Dari hasil screening ini juga bisa untuk melihat bahwa para memang kompeten,” ujarnya.
Hal itu terbukti dari hasil evaluasi tahun lalu, di mana rata – rata kompetensi siswa sudah memenuhi standart. Apalagi, imbuh Gunawan, para siswa di SMK Dr Soetomo ini selalu dilibatkan sekolah untuk berkolaborasi membuat karya dengan tenaga profesional dari industri film.
Assemen dengan melibatkan tenaga profesional, kata Gunawan, akan sangat menguntungkan bagi siswa. Jaminan kelulusan siswa lebih besar dengan kompetensi yang sudah terverifikasi dari pihak profesional. Selain itu, saat lulus industri akan melihat portofolio, yang tentu saja akan berpengaruh pada penerimaan kerja.
Sementara itu, Kepala Smekdor’s, Juliantono mengungkapkan, ada empat karya film yang dibuat oleh empat kelompok siswa. Karya ini sebagai syarat dalam penentuan kelulusan.
Untuk tema, siswa dibebaskan membuat karya dengan tema apapun. Sebab, diakui Juliantono, berkaca dari tahun sebelumnya, siswa kesulitan dalam memproduksi film pendek karena pandemi.
“Setelan screning film. Akan dilakukan assesmen dari pihak KFT dan BPI, hasil itu akan menyatakan siswa lulus dengan sertifikat tim penilai dari pihak profesional, terang Juliantono, karena dalam penilaian kompetensi jurusan perfilman lebih detail. Seperti penilaian sutradara, penilaian lighting dan sebagainya.
“Sejauh ini keterserapan lulusan dalam industri film ini cukul tinggi. Dua angkatan lulusan kebanyakan masuk di industri film. Seperti keterlibatan lulusan dalam produksi film Yowes Ben film karya sineas Surabaya dan Jogjakarta,” tandasnya. [ina.fen]

Tags: