Hidupkan Tradisi Tombhuk, Hujan Turun dan Tanaman Tumbuh Subur

Salah satu masyarakat adat Padukuhan Lowa di Dusun Selatan Desa Bantal Kecamatan Asembagus Situbondo memperagakan tradisi kebudayaan kuno bernama Tombhuk. [sawawi]

Cerita Kebudayaan Kuno Masyarakat Adat Lowa di Situbondo
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Di wilayah Kabupaten Situbondo timur ternyata ada sebuah komunitas adat kuno. Disana juga ada kebudayaan adat kuno yang berkumpul dalam lingkungan masyarakat bernama tradisi Tombhuk. Persisnya perkumpulan mereka terletak di Padukuhan Selatan Dusun Lowa Desa Bantal Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo. Selain banyak menyimpan adat istiadat kuno, masyarakat Lowa juga hidup sangat rukun dan harmonis meski berada di pelosok desa.
Kebudayaan Tombhuk merupakan sebuah adat kebiasaan masyarakat kuno yang tumbuh dan berkembang di sekitar hutan Padukuhan Lowa Dusun Selatan Desa Bantal Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo. Dalam kehidupan adat disana mereka kerapkali melakukan ritual dengan menjaga air yang diisi ke dalam botol atau guci. Kegiatan unik yang penuh dengan budaya kuno itu biasanya digelar pada bulan Sapar (penanggalan Jawa).
“Momen kegiatan adat ini rutin diadakan menjelang puncak musim kemarau,” ujar Agung Hariyanto salah satu pemerhati budaya di Kota Santri Situbondo.
Menurut Agung, dalam kegiatan budaya itu dilakukan dengan durasi yang cukup lama. Kata Agung, kegiatan sakral itu biasa dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB hingga matahari tepat berada diatas bayangan botol. Jika botol atau guci yang dijaga oleh masyarakat atau salah satu warga tersebut tepat pada matahari diatas kepala, aku Agung, maka selanjutnya warga akan terus memandangi dan mengamati botol atau guci tersebut. “Ritual ini dilakukan hingga menimbulkan gelembung udara. Biasanya lambat laun, muncul gelembung. Ini dipercaya sebagai simbol hujan akan segera turun. Artinya musim hujan akan segera datang,” kupas Agung Hariyanto.
Masih kata Agung, tradisi budaya bernama Tombhuk ini kembali dihidupkan bertujuan untuk meramal perubahan cuaca dari musim panas menuju musim hujan. Ini, kupas Agung lagi, sebuah pertanda yang akan disebarluaskan kepada masyarakat Kabupaten Situbondo dan sekitarnya untuk segera menyiapkan peralatan dan bahan baku bibit manakala akan melakukan penanaman palawija.
“Jika tidak ada gelembung udara (aing ngalkal, bahasa Madura) pada botol atau guci tersebut maka warga percaya musim hujan akan tertunda. Istilahnya hujan akan turun dalam waktu cukup lama,” tutur Agung.
Lebih jauh Agung Hariyanto menambahkan, pada duhulu kala hampir semua masyarakat yang ada disana selalu intens melakukan ritual Tombhuk. Tanda tandanya, kata Agung, biasanya ritual itu selalu diawali oleh Ketua masyarakat adat Lowa atau sesepuh dari keturunan pembabat hutan pertama kali di sana.
Dikisahkan Agung, ketua masyarakat adat biasanya pertama akan memasukkan air ke dalam botol atau sebuah guci. Nah, jika alat itu sudah mengeluarkan gelembung maka selanjutnya akan dituangkan ke dalam kendi agar tersimpan dengan aman.
Baru pada saat menjelang musim hujan, tutur Agung, masyarakat Padukuhan Lowa akan melakukan selamatan dan doa bersama disetiap persimpangan jalan. “Mereka membawa sesajen dan berbagai macam jenis makanan yang akan di doakan secara bersama-sama. Kegiatan ini diberi nama arokat bumi (sedekah bumi),” terang Agung.
Rekan Agung Hariyanto, bernama Irwan Rakhday juga menimpali, para tetua adat disana selalu membaca doa tatkala pagelaran acara ritual selamatan dimulai. Selanjutnya, papar Irwan, mereka meniupkan ke dalam air yang ada dalam botol atau guci. Selanjutnya, air tersebut dituangkan ke dalam sebuah kendi yang dipercaya sebagai wadah air suci (air tombhuk). Nah dari sanalah, urai Irwan, keberadaan sebagian air Tombhuk itu bisa disiramkan di areal lahan atau ladang milik masyarakat yang hendak ditanami palawija. “Sedangkan sisa airya disiramkan kepada lahan bibit lain yang akan mulai ditanam,” kupas Irwan.
Irwan menegaskan, dari ritual itu banyak harapan yang ingin dicurahkan masyarakat adat setempat. Sebab, aku Irwan, melalui sarana ritual selamatan Tombhuk tersebut, tanah lahan pertanian mereka diyakini akan tumbuh subur. Selain itu, imbuh Irwan, kedepan mereka meyakini lahan tanamannya akan bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah meski tanpa menggunakan pupuk seperti masyarakat petani saat itu.
“Dari ritual Tombhuk ini masyarakat adat Lowa juga meyakini ritual itu dapat memberikan keselamatan. Misalnya masyarakat dijauhkan dari gangguan hama sehingga warga Padukuhan Lowa hidup lebih sejahtera,” sambung Irwan.
Tradisi adat seperti ini dalam pandangan Irwan, saat ini sudah jarang ditemui. Bahkan, kupas Irwan, tradisi kebudayan kuno yang ada ditengah masyarakat Situbondo itu nyaris punah seiring dengan perkembangan jaman modern dan digitalisasi.
“Kalau tidak dihidupkan, saya meyakini adat istiadat kebudayaan kuno bernama tradisi Tombhuk ini akan terkikis habis dari sendi kehidupan masyarakat. Bahkan jika terus dibiarkan, maka kebudayaan yang sudah berlangsung turun temurun dari para leluhur itu akan musnah dan hilang dari kehidupan anak cucu kita,” pungkas Irwan. [sawawi]

Tags: