Hikayat Bre Redana Tentang Kerajaan Majapahit

Bre Redana bersama Binhad Nurrohmat pada acara bertajuk Perjamuan Muharram Kidung Anjampiani. [Arif Yulianto]

Relevan sebagai Penggambaran Simbolisme Problematika Bangsa Saat Ini
Kab Jombang, Bhirawa
Penulis Bre Redana atau Don Sabdono memiliki beberapa cara pandang dan alasan menggambarkan tentang Kerajaan Majapahit. Selain alasan personality bahwa ia menyukai Majapahit, faktor ideologis juga menjadi alasan bagi Bre Redana. Tentu pada akhirnya, alasan-alasan ini kemudian menguatkan dirinya menelorkan beberapa buku dalam bentuk novel.
Ada beberapa novel Bre Redana yang ditulis dengan latar sejarah dan Kerajaan Majapahit. Sejumlah novel telah diciptakannya. Seperti yang berjudul Majapahit Milenia, Dia Gayatri, maupun Kidung Anjampiani.
“Aspek ideologis, saya melihat, Majapahit ini menurut saya, sebuah sebuah simbolisme, kalau diangkat ke novel, yang sangat cocok dalam diri saya, untuk menggambarkan problematik bangsa ini, hari ini,” kata Bre Redana, saat berada di Jombang, Jumat sore (5/8) lalu.
Terkait itu, Bre Redana menggambarkan dan mencontohkan tentang cita-cita Nusantara dalam warna merah dan putih yang ada pada bendera Majapahit. “Bendera Majapahit kan merah putih kayak bendera Amerika tanpa bintang, itu kan konsep Kenusantaraan Majapahit, itu kan kuat sekali,” ulas dia.
“Sebenarnya, yang namanya Nusantara kan memang kita ambil dari sana, kata Nusantara pertama kali itu kalau dalam Historiografi, kalau kita teliti, pertama kali adanya di Singasari, Kertanegara. Yang kemudian dilanjutkan oleh Raden Wijaya sebagai menantu, Majapahit,” lanjutnya.
Dari aspek Ideologis tentang Majapahit jika diambil sebagai sebuah karya, menurut Bre Redana, sangat relevan di mana, problematikanya persis yang dialami bangsa ini sekarang.
“Dari yang katakanlah mengancam gagasan Kenusantaraan sekarang, yakni katakanlah yang dirumuskan orang sebagai simbol-simbol Wahabisme. Ini kan sebuah pertarungan yang sampai sekarang belum usai dan saya kira tidak pernah usai,” ulasnya lagi.
Namun dalam hal ini, sebagai penulis buku bernuansa novel, tulisan-tulisan dia tentang kesejarahan dan kemajapahitan tentu saja tidak bersifat dogmatik, namun lebih bernuansa mendongeng. ‘Kalau toh orang tidak menangkap aspek Ideologisnya, setidaknya orang menikmati dongengnya, gitu aja kan,” ucap dia.
Sementara, dari sisi personality, mantan wartawan Kompas yang pernah belajar jurnalisme di School of Jounalism and Media Studies, Darlington, Inggris ini mengemukakan, ia sendiri memang tertarik kepada nilai-nilai yang ada pada sejarah yang ada di Nusantara, salah satunya sejarah Majapahit. “Yang namanya sejarah itu bukan hanya kronologi sejarah, tapi kronologi kesadaran,” tandas dia lagi.
Bre Redana saat ini diketahui tengah melakukan riset di Trowulan, Mojokerto tentang kemajapahitan, meskipun bukan riset yang sangat empiris. Hasilnya, diperkirakan menjadi bagian dalam tulisan-tulisan novel karya dia selanjutnya.
Saat berada di Jombang, Jumat sore (7/8) kemarin, Bre Redana hadir sebagai pembicara di sebuah acara bertajuk Perjamuan Muharram Kidung Anjampiani bersama sastrawan Binhad Nurrohmat di Bait Kata Library di Jalan KH Hasyim Asy’ari 171 Mojosongo, Balongbesuk, Diwek, Jombang. [Arif Yulianto]

Tags: