Hikmah Ramadhan dalam PSBB Ketat

(‘Khusyu’ Ibadah di Rumah Menunggu Lailatul Qadar)

Oleh :
Yunus Supanto
Wartawan Senior Penggiat Dakwah Sosial Politik

Rasulullah bersabda, “… Jika kalian mendengar tentang wabah penyakit di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,”
(Hadits shahih, riwayat Bukhari dan Muslim)
Puasa Ramadhan 1441 Hijriyah sudah berjalan separuh waktu. Terasa berbeda, karena ada sanak keluarga yang tidak bisa berkumpul, karena tidak bisa mudik lebaran. Tetapi bisa dipahami, karena suasana bulan puasa tahun ini sangat bersamaan wabah virus corona yang meng-global. Pandemi telah memapar 215 negara di dunia. Termasuk Indonesia, seluruh daerah (34 propinsi) mengalami pewabahan CoViD-19. Pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Sehingga seluruh kegiatan setiap orang (termasuk bekerja, dan beribadah) dilakukan di rumah. Tak terkecuali ibadah khas Ramadhan: shalat tarawih berjamaah, dianjurkan dilakukan di rumah, bukan di mushala dan masjid. Tak terkecuali di masjid nasional (milik Negara) Istiqlal, shalat tarawih ditiadakan. Kegiatan di masjid Istiqlal, sangat terdampak, karena lokasinya berada di Ibukota. Jakarta mengawali status PSBB, sekaligus sebagai pusat pewabahan terbesar nasional. Seluruh tempat ibadah (gereja, katedral, vihara, dan kelenteng) juga “disunyikan.”
Penghentian ibadah bersama (berjamaah) juga dilakukan di masjid negara Al-Akbar, di Surabaya. Ibadah shalat Jumat berjamaan, telah ditiadakan sejak 3 kali Jumatan sebelumnya (sejak 17 April 2020). Termasuk shalat fardlu lima kali sehari, ditiadakan. Pintu gerbang masjid ditutup. Tetap dikumandangkan adzan yang terpancar melalui menara. Namun shalat berjamaah hanya diikuti imam, dan beberapa pengurus masjid.
Tetapi sebagian masjid, dan mushala di berbagai daerah, tetap menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah. Walau dengan pembatasan, berupa pengurangan jumlah (kuantitatif) shalat, dan tanpa ceramah. Misalnya, pada destinasi peziarahan paling kesohor di pulau Jawa, masjid Ampel, masih dilakukan shalat tarawih berjamaah. Nampak sangat berbeda (sepi). Karena biasanya diikuti ribuan jamaah hingga meluber ke teras dan halaman masjid.
Shalat tarawih berjamaah dengan memperhatikan protokol pencegahan penyebaran virus corona. Antaralain, masjid telah disemprot dengan disinfektan, tanpa gelar karpet (membawa sajadah masing-masing), dan pemberian hand-sanitizer. Serta wajib mengenakan masker, dan men-jarang-kan jarak shaf. Juga mengurangi shalat tarawih, bisa dilanjutkan di rumah, dengan kuantitas rakaat lebih banyak. Tidak mengurangi pahala (kualitas) ibadah.
Ibadah di Rumah
Sedangkan lokasi makam Sunan Ampel, lebih sering ditutup. Hanya dibuka pada setiap malam Jumat, dengan melaksanakan penjarangan jarak antar-orang, dan wajib mengenakan masker. Pada jalan masuk kompleks makam Sunan Ampel terpampang (banner) warning pemberlakuan protokol PSBB. Untuk ketenteraman masjid disiagakan petugas keamanan (Polisi dan TNI) berseragam. Penjagaan oleh aparat sebagai jaminan kepatuhan masyarakat, termasuk kerumumnan di warung makan.
Protokol yang sama juga dilakukan pada masjid jami’ (masjid besar utama) di berbagai daerah. Antaralain pelaksanaan shalat tarawih (berjamaah) di masjid Raya Al-Mahsun, Medan, Sumatera Utara. Bahkan setiap jamaah di-wajib-kan masuk bilik penyemprotan dis-infektan, dan cuci tangan dengan hand sanitizer. Suasana beribadah berjamaah di masjid memang memberi nuansa khusyu’ sembari memperkuat aspek dakwah. Namun ibadah berjamaah bersama keluarga di rumah tidak mengurangi nilai pahala. Lebih lagi pada suasana wabah penyakit. Di dalam rumah lebih menenteramkan.
Seruan ibadah Ramadhan di rumah, menjadi tekad sekaligus protokol wajib setiap orang. MUI (Majelis Ulama Indonesia) beserta ormas keagamaan terbesar, NU dan Muhammadiyah, juga telah menerbitkan tuntunan ibadah Ramadhan di rumah. Beberapa ahli agama kesohor, juga menyiarkan video tentang hikmah ibadah Ramadhan di rumah. Diantaranya, KH Afifuddin Muhajir (Rais Syuriyah PBNU), Tuan Guru Bajang (TBG) Dr. H.M. Zainul Majdi, MA, dan Ustadz Abdul Somad (UAS).
Bahkan seorang ulama muda, Ketua Aswaja Center Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, menukil AlQuran surat Al-Baqarah ayat 243 (2:243). Isinya tentang cemooh Allah tentang serombongan (4 ribu orang) umat yang lari meninggalkan daerahnya yang terkena wabah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 243, disebutkan, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang jumlah mereka beribu-ribu, karena takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka: Matilah kamu… .”
Maka konsep PSBB, sesungguhnya tidak asing bagi kalangan ulama. Prosedur yang diajarkan berdasar Al-Quran dan Al-Hadits, sesuai dengan protokol yang disusun oleh Gugus Tugas Nasional Penanggulangan CoViD-19. Konsep utamanya adalah: diam di rumah, tidak meninggalkan area wabah (karena bisa menularkan), dan tidak menuju area wabah (karena bisa tertular). Karena realitanya, kerumunan banyak orang dalam kegiatan dakwah keagamaan terbukti menjadi penyebaran CoViD-19.
Tanggungjawab Pemerintah
Bahkan kerumunan orang berjamaah berdoa untuk lepas dari wabah, bisa menyebabkan penyebaran penyakit. Dalam kitab (Badzl Ma’un, halaman 329) yang dinukil KH Ma’ruf Khozin, dicatat kisah pewabahan makin besar. “Ketika terjadi thaun di Damaskus pada tahun 49 H, penduduk Damaskus dan sebagian besar penduduk negerinya menuju lapangan, mereka berdoa dan meminta pertolongan. Ternyata wabah thaun makin membesar dan banyak, padahal sebelumnya sedikit.”
Realitanya dalam pewabahan pandemi CoViD-19, ditemukan penularan di Brunei, Malaysia, dan Singapura oleh jamaah dakwah dari Indonesia. Bisa jadi, jamaah tabligh akan menjadi super spreader (penularan terbesar) di Indonesia, setelah pelaksanaan berbagai ijtimak (pertemuan). Sampai pemerintah akan memulangkan seluruh WNI jamaah tabligh yang berada di India (markas jamaah tabligh sedunia). Jamaah tabligh memiliki ajaran utama berlatar khuruj (keluar berdakwah) hingga lintas batas negara.
Kerumunan berjamaah patut dikhawatirkan sebagai media penularan besar. Selain kerumunan orang di pabrik (dalam proses produksi), serta kerumunan di mal, pusat perbelanjaan, dan area publik lain (terutama tempat hiburan, dan area wisata). Maka diam (bersabar dan beribadah) di rumah menjadi pilihan berdasar syar’i (ajaran agama). Tiada muslim rela ketinggalan momentum Ramadhan. Inilah masa selama 30 hari yang paling ditunggu-tunggu di Indonesia. Juga di berbagai belahan dunia.
Tetapi bulan puasa tahun (2020) ini disongsong wabah pandemi global. Seluruh bangsa-bangsa di dunia terlibat kerjasama upaya penanggulangan wabah pandemi virus corona. Termasuk negara mayoritas muslim yang warganya terpapar CoViD-19. Terutama Arab Saudi, Bahrain, dan Iran. Di Indonesia, MUI, NU (Nahdlatul Ulama), dan Muhammadiyah, sepakat dengan social distancing, diberlakukan pada ritual ibadah. Toh tetap berkesempatan meraih berkah lailatul qadar (kemuliaan yang bernilai lebih dari seribu bulan).
Pemerintah tidak bekerja sendiri menangani wabah pandemi CoViD-19. Tokoh agama, dan tokoh adat, juga aktif berpartisipasi. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) meng-apresiasi keterlibatan relawan sebanyak 25 ribu orang di Indonesia membantu pemerintah menangani CoViD-19. Perusahaan swasta nasional juga bergerak memberi bantuan dan donasi. Terutama APD (Alat Pelindung Diri) telah banyak diberikan ke rumahsakit. Dibutuhkan sebanyak 3 juta-an APD per-bulan. Sedang kapasitas produksi nasional masih sebanyak 1,7 juta per-bulan.
APD sangat dibutuhkan tenaga medis yang berjuang pada “garis terdepan” pencegahan CoViD-19. Sudah dilakukan impor besar-besaran APD dari Korea Selatan, sehingga akan cukup sampai tiga bulan PSBB (hingga akhir Juni 2020). Namun masih terdapat tanggungjawab besar pemerintah, yang wajib segera direalisasi. Yakni, bantuan sosial (bansos) yang bersumber dari dana APBN, APBD propinsi, APBD kabupaten dan kota, serta Dana Desa.
Rakyat telah mematuhi pemerintah, dengan diam di rumah, dan kehilangan nafkah, sampai kehilangan pekerjaan. Itu bukan hal mudah, sebagai bentuk pengorbanan masyarakat. Bansos menjadi pengharapan sekaligus penglipur dahaga ekonomi. Kelambatan (dan ke-enggan-an) pemerintah daerah merealisasi bansos bisa menjadi komando kericuhan sosial.
——— 000 ———

Rate this article!
Tags: