Hindari Eksploitasi Buruh

Karikatur Buru (1)KELEBIHAN May-day (hari buruh se-dunia) tahun ini adalah, pekerja memperoleh libur panjang akhir pekan. Sehingga dapat pulang kampung lebih awal, menikmati liburan dengan keluarga. Hari buruh menjadi hari damai, nampaknya sudah mulai terwujud. Walau sebenarnya, UMK (Upah Minimum Kabupaten dan Kota) belum sepenuhnya terealisasi. Kini, lebih banyak buruh memilih bekerja keras, lembur, agar memperoleh penghasilan lebih.
Situasi kawasan urban di Sidoarjo (Jawa Timur), Bekasi (Jawa Barat), dan Tangerang (Banten), umumnya kondusif. Jelang peringatan hari buruh se-dunia (Jumat, 1 Mei 2015) nyaris tiada rencana aksi besar. Juga tiada agitasi awal untuk menggiring pelaksanaan unjukrasa sampai menutup ruas jalan protokol. Apalagi sampai menutup akses jalan tol maupun bandara dan pelabuhan. Ancamanan anarkhisme tidak akan terjadi.
May-day, kini lebih diperingati dengan berdoa, serta menggelorakan semangat bekerja keras tanpa henti. Memang masih terdapat beberapa isu perburuhan yang menjadi beban pemerintah. Diantaranya: hak kesejahteraan buruh, pekerja outsourcing, serta perlindungan buruh migran (TKW dan TKI). Pemerintah (dan Pemda) masih harus membuka mata lebar-lebar, karena ternyata masih banyak buruh tidak menerima hak-hak konstitusionalnya.
UUD pasal 28D ayat (2) menyatakan “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.” Kenyataannya nasib buruh masih tetap di ambang kemiskinan. Sedangkan kelompok majikan bisa terus menumpuk keuntungan dan menambah perusahaan. Majikan memperoleh kemudahan investasi dan restitusi pajak. Sedangkan buruh hanya diberi penghasilan pas-pasan dengan KHL (kebutuhan hidup layak), tidak bisa menabung.
Kondisi buruh yang mesti lebih diperhatikan adalah para penjaga toko, termasuk di supermarket (toko moderen), mal dan hypermarket. Golongan ini nampak seolah-olah perlente dan berdandan menor. Tetapi rata-rata gajinya masih dibawah UMK. Andaipun telah sesuai UMK, beberapa hak tunjangan tidak pernah ditunaikan oleh majikan. Terutama uang lembur atau kerja ekstra pada hari libur dan hari raya keagamaan serta hari raya/libur nasional. Lebih lagi, penjaga toko tidak tergabung dalam serikat buruh.
Itu keadaan perburuhan dalam negeri. Yang di luar negeri lebih ter-marjinal lagi. Bahkan banyak ahli hukum (dan anggota DPR) tidak memahami kewajiban pemerintah dalam melindungi hak TKW/TKI. Hal itu nampak pada silang pendapat tentang pembayaran diyat. Seolah-olah pemerintah “haram” untuk menunaikannya. Padahal muqadimah UUD alenia keempat nyata-nyata mengamanatkan perlindungan warga negara.
Lebih dari itu APBN memiliki dana cadangan dengan nomenklatur perlindungan WNI sebesar ratusan milyar rupiah per-tahun. Namun sebenarnya, alokasi APBN itu sangat kecil jika dibanding devisa yang dihasilkan oleh TKI (dan TKW). Devisa TKI dan TKW mencapai Rp 3 trilyun per-bulan! Maka pembayaran diyat atau segala macam denda lain untuk advokasi hukum WNI diluar negeri, merupakan kewajiban negara, dan legal secara yuridis.
Karena ke-enggan-an pemerintah dalam advokasi, menyebabkan banyak TKI/TKW tidak terlindungi. Terutama di Hongkong. Sebagaimana terjadi pada Erwina, TKW asal Sragen, di Hongkong. Amnesty internastional mencatat  Hongkong sebagai negara paling kejam di dunia dalam hal perlakuan terhadap pembantu rumahtangga, bagai perbudakan.
Penempatan tenaga kerja keluar negeri, masih sangat memerlukan perbaikan, kompetensi dan advokasi. Sedangkan problem di dalam negeri masih bergelut pada ketimpangan antara keuntungan majikan dengan upah yang berkeadilan. Juga masih banyak industri men-siasati UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dalam hal sistem tenaga kontrak (outsourcing). Tetapi banyak Pemerintah Daerah tutup mata.
Pemerintah diharapkan segera merealisasi program infrastruktur, termasuk pembukaan lahan pertanian. Sekaligus meng-inisiasi buruh tani sebagaimana buruh pabrik dan pekerja formal sektor jasa.

                                                                                                                      ————— 000 —————

Rate this article!
Hindari Eksploitasi Buruh,5 / 5 ( 1votes )
Tags: