Hutan dan Kearifan Lokal

Oleh :
Dewi Ayu Larasati
Staf Pengajar di Universitas Sumatra Utara

Kualitas lingkungan di suatu tempat sangat bergantung pada tingkat kelestarian hutan di daerah yang bersangkutan. Artinya, antara hutan dan lingkungan terjadi hubungan linear, dan peranan manusia dalam menjaga kelestarian hutan ataupun lingkungan sangat signifikan.

Semakin tinggi tingkat kelestarian hutan, semakin tinggi pula kualitas lingkungan, dan sebaliknya, semakin rusak kawasan hutan, semakin rendah pula kualitas lingkungannya. Hal itu sangat terkait dengan fungsi hutan sebagai paru-paru bumi.

Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai kawasan hutan tropis terluas di dunia. Hutan Indonesia juga menjadi habitat bagi spesies flora dan fauna penting dunia. Keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya luar biasa tinggi, meliputi 11 persen spesies tumbuhan dunia, 10 persen spesies mamalia, dan 16 persen spesies burung (dikutip dari laman wri-indonesia.org).

Secara ekonomi, sejak tahun 1980-an, sumber daya hutan telah banyak memberi sumbangan terhadap peningkatan Produk Nasional Bruto (PNB) Indonesia yang cukup pesat. Oleh karena itu, hutan sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui memiliki peran dan kontribusi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia secara lintas generasi.

Karena perannya yang begitu besar, menjadi sangat penting bagi masyarakat Indonesia untuk mengelola dan memanfaatkan hutan secara efektif dan optimal, baik dalam konteks ekonomi, ekologi dan sosial.

Sayangnya, penebangan liar, kebakaran hutan, konversi lahan hutan, perluasan lahan pertanian yang tak terencana, reformasi politik dan kesenjangan sosial menjadi penyebab utama terjadinya degradasi kawasan hutan. Sebagian besar habitat hutan menghadapi ancaman krisis.

Apalagi Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang paling banyak kehilangan hutan primer di dunia dan mengambil peran dalam perubahan iklim global. Berdasarkan data Global Forest Watch (GFW) seperti yang dikutip dari databoks.katadata.co.id (4/11/2021), Indonesia memiliki lahan hutan primer seluas 93,8 juta ha pada 2001. Jumlah tersebut lebih dari separuh luas daratan. Namun, sepanjang periode 2002-2020, Indonesia telah kehilangan sekitar 9,75 juta ha lahan hutan primer. Kondisi tersebut membuat Indonesia kehilangan 36% lahan tutupan pohon pada periode yang sama.

Kebakaran yang disengaja maupun tidak disengaja menjadi salah satu penyebab gundulnya lahan hutan primer di Indonesia. Perluasan lahan sawit, perluasan lahan pertanian masyarakat di pingiran hutan, dan eksplorasi lahan pertambangan menjadi penyebab tergerusnya lahan hutan primer.

Kehilangan lahan hutan primer terbesar di Indonesia setara dengan menyumbang emisi karbon sebesar 208 metrik ton (mt). Selain itu, degradasi hutan juga berlanjut pada krisis ekologi yang menimbulkan bencana. Tren meningkatnya bencana banjir dalam beberapa tahun terakhir justru berbanding lurus dengan tren deforestasi hutan. Banjir bandang yang menjadi langganan tiap tahun di beberapa daerah justru dipicu oleh kondisi hutan yang kritis.

Seperti halnya penyebab banjir terbesar di Sintang Kalimantan Barat akhir-akhir ini Penyebab banjir diduga akibat degradasi lingkungan khususnya kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang kritis. Adanya perubahan tata guna lahan atau pemanfaatan lahan hutan menyebabkan risiko banjir besar terulang kembali. Hal ini seperti yang diungkapkan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar Nikodemus Ale (dikutip dari kompas.com, 7/11/2021) bahwa sebagian besar daerah penyangga DAS Kapuas mengalami deforestasi karena pembukaan tutupan hutan untuk aktivitas ekstraktif.

Banjir bandang di Kota Batu Malang, pada Kamis, 4 November 2021 juga diduga disebabkan adanya alih fungsi hutan lindung di lereng Gunung Arjuno. Terjadi alih fungsi hutan lindung menjadi kebun sayuran telah berlangsung bertahun-tahun.

Menurut Ketua Protection of Forest & Fauna (ProFauna), Rosek Nursahid dikutip dari nasional.tempo.co, (5/11/ 2021) bahwa sekitar 90 persen tutupan hutan lindung di lereng Gunung Arjuno telah habis. Hutan lindung, katanya, berubah fungsi menjadi lahan pertanian dengan komoditas aneka sayuran seperti kol, wortel dan kentang. Alih fungsi diduga terjadi selama bertahun-tahun, lokasinya curam dan kemiringan tajam. Sehingga tidak layak digunakan untuk lahan pertanian. Saat curah hujan tinggi, tanah tergerus menutupi jalan air di Pusung Lading, Sumbergondo, Bumiaji.

Berdasarkan data-data tersebut, perihal faktor penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor tidak semata-mata oleh anomali cuaca dengan curah hujan ekstrem, tetapi disebabkan karena semakin berkurangnya areal hutan akibat maraknya alih fungsi lahan yang berdampak terhadap areal resapan air.

Hutan dan Kearifan Lokal

Saat ini kita dihadapkan pada situasi patologi ekologis dan bencana yang akan menjadi petaka kehidupan. Bahkan diprediksi, krisis ekologi ke depan akan semakin hebat, alam dan lingkungan hidup akan semakin rusak sejalan dengan kebijakan pembangunan yang semakin serakah dan eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali dan tanpa perencanaan dan perhitungan ekologi.

Kita berulang menghadapi banjir, kekeringan, dan kejadian-kejadian yang berawal dari penggundulan dan kerusakan hutan. Agar kondisi hutan tetap terpelihara sehingga kehidupan masyarakat tidak semakin terancam, pemerintah perlu menumbuhkan dan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam proses pembangunan. Hal ini masih luput dari perhatian pemerintah, karena pemerintah cenderung memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan investasi tanpa memprioritaskan kebijakan adaptasi dan mitigasi bencana.

Kearifan lokal seharusnya menjadi acuan dalam mengelola lingkungan sehingga keseimbangan ekologi terpelihara dan bencana alam dapat dihindari. Apalagi masing-masing etnik di Indonesia mempunyai nilai kearifannya sendiri-sendiri yang berangkat dari tradisi dan aturan-aturan tertentu soal bagaimana memberlakukan alam lingkungannya. Dalam diri mereka ada hubungan emosional dengan hutan dan lingkungan pada umumnya. Sehingga kelestarian hutan menjadi sebuah keharusan.

Seperti halnya jika berbicara tentang masyarakat adat Punan Adiu di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tentu identik dengan berbicara tentang alam (hutan). Punan dan alam lingkungan merupakan dua sisi dari satu keping mata uang yang tak terpisahkan. Bagi masyarakat adat Punan Adiu, hutan adalah sumber vital kehidupan mereka. Bentuk kearifan lokal ‘Hutan adalah air susu ibu’ atau dalam bahasa lokal disebut Lunang t’lang ota ine’ masih konsisten dipegang teguh oleh masyarakat adat. Turun-temurun, mereka menjaga hutan adatnya dari para perambah yang ingin mengubah menjadi kebun sawit dan tambang. Sehingga ada ungkapan kalau hutan hilang kehidupan Punan Adiu pun akan berhenti.

Masyarakat Adat Sumbawa di Nusa Tenggara Barat juga memiliki kesepakatan dalam merawat dan menjaga hutan yang dinamakan Adat Mungka. Dalam aturan yang tak tertulis, tetapi efektif dipatuhi semua warga itu, disepakati bahwa siapa pun yang menebang pohon harus menanam 3 batang pohon sebagai gantinya. Dengan demikian tidak terjadi penggundulan hutan.

Di Kepulauan Maluku, terdapat kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan alam yang dinamakan Sasi. Sasi adalah larangan kepada warga agar tidak sembarang mengambil hasil hutan setiap saat melainkan ada waktu-waktu khusus. Durasi sasi biasanya 3-6 bulan, bahkan kadang-kadang bisa sampai 1 tahun. Selepas waktu sasi selanjutnya masyarakat bisa mengambil hasil hutan sesuai keperluannya secara wajar. Jika ada orang yang melanggar Sasi, ia akan dikenakan denda. Sanksi yang paling menakutkan adalah kutukan dari leluhur lewat penyakit yang sulit disembuhkan hingga kematian mendadak.

Bukan hanya di Maluku, ternyata Sasi juga dikenal menjadi tradisi masyarakat Papua yang tidak boleh sembarangan mengambil hasil hutan dan laut. Ada waktu-waktu tertentu saat penduduk tidak boleh seenaknya sendiri mengambil hasil laut dan hutan. Dengan demikian, Sasi bertujuan untuk menjaga alam dari keserakahan manusia.

Dalam kebudayaan Jawa terdapat ungkapan manunggaling jagad cilik dan jagad gede untuk melambangkan keharmonisan antara manusia dengan alam. Keharmonisan ini dilambangkan oleh “gunungan” pada wayang kulit. Lambang atau simbol ini mengungkapkan bentuk kesadaran tertinggi masyarakat Jawa, yang selalu berusaha untuk menjalin hubungan yang serasi, seimbang, dan harmonis dengan berbagai komponen lingkungan hidup.

Bagi masyarakat Bali, terdapat norma yang harus ditaati anggota masyarakat yang disebut dengan awing-awing (peraturan adat desa). Awing-awing ini berkaitan dengan lingkungan alam, seperti larangan mencuri buah-buahan di hutan, larangan mengambil kayu yang tumbang di hutan, dan sebagainya. Bagi anggota masyarakat yang melanggar awing-awing dikenakan sanksi adat. Awing-awing tersebut berjalan secara turun temurun, yang juga banyak kesamaan dengan nilai-nilai agama Hindu.

Mencermati bencana yang terus mengintai, kearifan lokal sejatinya perlu diberdayakan untuk menjaga kelestarian hutan. Apalagi hal tersebut merupakan langkah bijak untuk memastikan sumber daya alam digunakan secara berkelanjutan. Karena kearifan lokal pada dasarnya punya tiga konsep kunci yaitu penghargaan terhadap alam, manusia dan Tuhan.

———- *** ———–

Rate this article!
Hutan dan Kearifan Lokal,5 / 5 ( 1votes )
Tags: