Ibu dan Pendidikan Lingkungan bagi Anak

Aan EffendiOleh:
A’an Efendi
Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember

“My mother was the most beautiful women I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute all my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her”.
George Washington
Rentetan bencana lingkungan sambung menyambung menjadi satu datang silih berganti. Baru usai kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera, kini giliran banjir banding dan tanah longsor melanda beberapa wilayah tanah air. Bahkan tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, merenggut puluhan nyawa dan mengubur harta benda seperti rumah, mobil, dan sepeda motor. Musim hujan yang harusnya penuh keberkahan berubah menjadi tangis mengharukan. Begitu musim hujan nanti berakhir, bencana kekeringan dan kekurangan air bersih pun siap datang dengan segala akibat buruknya. Bencana lingkungan terus berulang dari waktu ke waktu.
WALHI mencatat, bencana ekologis pada tahun 2013 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Jika pada tahun 2012 banjir dan tanah longsor hanya terjadi 475 kali dengan korban jiwa 125 orang, pada tahun 2013 secara kumulatif menjadi 1392 kali atau setara 293 persen. Bencana tersebut telah melanda 6727 desa/kelurahan yang tersebar 2787 kecamatan, 419 kabupaten/kota dan 34 propinsi dan menimbulkan korban jiwa sebesar 565 orang.
Bencana lingkungan tidak karena alam sedang mengumbar amarah kepada manusia. Sebaliknya, ada yang salah dengan cara manusia memperlakukan alam. Manusia semena-mena terhadap lingkungannya. Bahkan Rachel Carson, penulis buku Musim Bunga yang Bisu (Silent Spring) yang fenomenal itu mengatakan bahwa kehadiran spesies yang bernama manusia dalam waktu sekejap telah mengubah sifat lingkungan. Hutan yang lebat telah dibabat. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012 yang dirilis akhir 2013 menyebutkan luas kawasan hutan Indonesia berkurang drastis sejak 1970-an. Tutupan hutan mengalami penurunan dari 104.747.566 hektar pada 2000, menjadi 98.242.002 hektar pada 2011. Indonesia kehilangan hutan seluas 0.48 juta hektar per tahun pada periode 2009-2010. Kementerian Kehutanan menyebutkan bahwa laju penggundulan hutan di Indonesia mencapai 1,08 juta per tahun. Gundulnya hutan mengakibatkan air hujan kehilangan tempat persemayamannya. Dataran tinggi yang gundul membuat air hujan bebas meluncur tanpa penghalang.
Untuk membendung laju dan mengakhiri episode bencana lingkungan, langkah strategis yang dapat ditempuh adalah mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan sejak usia dini. Pendidikan lingkungan harus dimulai saat usia dini. Pendidikan lingkungan adalah pendidikan dari, tentang dan untuk lingkungan (A. Nag & K. Vizayakumar; 2005). Pendidikan lingkungan bertujuan untuk menghasilkan individu yang memahami lingkungan beserta persoalan yang menyertainya, kesadaran bagaimana untuk menyelesaikan persoalan itu dan mendorong untuk menyelesaikannya (John Ramsey & Harold R. Hungerford, 2002). Pendidikan lingkungan untuk mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik dalam memperlakukan lingkungannya. Dalam pendidikan lingkungan untuk anak usia dini peran keluarga terutama orang tua dan khususnya ibu sangat vital. Ibu adalah orang pertama dan yang paling banyak bersentuhan dengan anak. Ibu adalah guru pertama bagi anak sebelum anak mengenal guru di pendidikan formal. Ibu adalah guru sehari-hari bagi anaknya yang tak terbatasi oleh tempat dan waktu serta kurikulum yang kerap berubah itu. Ibu menjadi prototipe bagi perilaku anak kelak saat dewasa nanti. Ibarat pepatah “buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”. Pelajaran pendidikan lingkungan dari seorang ibu yang ditangkap dan direkam oleh anaknya berwujud perilaku-perilaku konkrit dalam keseharian seorang ibu yang dilihat dan didengar oleh anaknya. Sedernana namun tercatat kuat dalam memori anak dan tidak akan terhapus sampai kapanpun usia si anak.
Dalam ilmu psikologi dikenal apa yang disebut dengan teori imitasi (theory of imitation) atau teori peniruan yang mengajarkan bahwa perilaku seseorang sangat ditentukan karena adanya rangsangan atau stimulasi dari perilaku serupa oleh orang lain. Perilaku seseorang tidak otonom berasal dari kehendak diri sendiri akan tetapi mendapatkan pengaruh dari perilaku orang lain. Bahasa mudahnya perilaku seseorang sangat dipengaruhi atau kecenderungan meniru perilaku yang sama dari orang lain. Perilaku meniru jamak dilakukan orang dan teruma oleh anak-anak. Anak-anak adalah individu yang sangat mudah meniru perilaku orang lain yang dilihat dan didengarnya. Oleh karena itu masa anak-anak adalah periode emas (golden period) bagi seorang ibu untuk membentuk karakter anaknya. Menurut Plutarch karakter adalah kebiasaan sederhana yang berlangsung terus menerus. Karakter berkaitan dengan pilihan-pilihan baik dan tindakan positif serta melakukan hal-hal baik. Karakter menunjukkan perilaku seseorang dan melibatkan hati nuraninya. Karakter adalah pintu dari ditetapkannya putusan, hati, dan pikiran manusia. Bila ibu ibarat orang yang sedang memegang pulpen dan anaknya adalah kertas maka terserah si pemegang pulpen mau diisi tulisan apa kertas itu. Masa anak-anak adalah masa yang paling ideal bagi manusia untuk dibentuk karakternya.
Pada masa anak-anak inilah seorang ibu harus memberikan contoh perilaku yang baik. Dalam konteks pendidikan lingkungan misalnya seorang ibu mencontohkan perilaku sederhana selalu membuang bungkus makanan pada tempat sampah yang telah disediakan, mematikan keran air setiap selesai memakainya, menanam tanaman di halaman rumah dan merawatnya dengan cara menyiramnya setiap hari, membersihkan halaman rumah tiap hari, membersihkan saluran air dari sampah, dan masih banyak contoh perilaku baik lainnya yang dapat diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Selain wujud perbuatan nyata, pendidikan lingkungan dapat pula diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya dalam bentuk pitutur-pitutur bijak. Misalnya ibu menasehati anaknya bahwa membuang sampah ke sungai atau selokan air adalah perbuatan tidak baik karena dapat menyebabkan banjir saat musim hujan. Untuk merangsang anak agar melakukan apa yang dicontohkan oleh sang ibu perlu ditetapkan reward and punishment. Anak yang mau mematikan keran air setelah ia memakainya diberikan pujian dan ditegur apabila tidak mematikannya. Reward adalah rangsangan yang sifatnya positif sedangkan punishment rangsangan yang bersifat negatif.
Persoalannya mau dan mampukah seorang ibu melakukan semua itu untuk anak-anaknya. Pada era modern seperti sekarang ini banyak ibu yang sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendidik buah hatinya. Ibu lebih mempercayakan anaknya kepada pengasuh atau tempat penitipan anak dari pada merawatnya sendiri dengan sentuhan lembut kasih sayangnya. Tak ayal periode emas untuk membentuk karakter anak yang datangnya hanya sekali pun lewat begitu saja. Tentu tidak ada larangan bagi seorang ibu untuk bekerja atau menjadi wanita karir. Tetapi hal itu jangan sampai menjadi penghalang seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya. Di tangan seorang ibulah masa depan anak dirancang dan dipersiapkan. Ayo ibu didik anak-anakmu untuk mencintai lingkungan demi hidupnya yang sehat pada masa mendatang. Selamat hari ibu.

                                          —————– *** —————-

Tags: