Ikhtiar Perlindungan Anak di Masa Pandemi

Refleksi Hari Anak Nasional
Oleh :
Yunita Putri Wulansari
Promotor Kesehatan RSU Haji Surabaya
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini harus dimaknai sebagai bentuk rasa empati serta bentuk rasa kepedulian kepada seluruh Bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar dapat terus tumbuh dan berkembang secara optimal.

Pemerintah Indonesia sangat serius ingin menjadikan keluarga sebagai lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak. Diyakini upaya ini akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air.

Akan tetapi, di masa pandemi seperti Covid-19 (C-19) kali ini, harus dijadikan landasan sekaligus ikhtiar untuk meningkatkan rasa kepedulian yang tinggi sebagai benteng yang tangguh, sekaligus jadi pilar bangsa dan negara, pilar bagi orang tua, masyarakat, lingkungan, keluarga dunia usaha, media massa terhadap pemenuhan kebutuhan hak dan perlindungan kepada anak.

Berdasarkan kasus konfirmasi Covid-19, menurut data Satgas Covid-19 per tanggal 19 Juli 2020, ada 8,1 persen atau 7.008 anak terjangkit Covid-19. Sementara itu, 8,6 persen dirawat, 8,3 persen sembuh, dan 1,6 persen lainnya meninggal dunia. Jumlah tersebut termasuk dari tambahan kasus positif sebanyak 1.639 sehingga total menjadi 86.521 kasus pada Minggu (19/7/2020). Data tersebut menunjukkan laju pertambahan kasus Covid-19 pada anak mencapai 100 kasus per hari.

Dilansir dari VOA Indonesia, Ketua Ikatan Doker Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan bahwa tingkat kematian anak akibat virus corona di Tanah Air merupakan yang tertinggi di negara ASEAN. “Kalau dibandingkan negara lain, kita paling tinggi (tingkat kematian) dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam,” ungkap Aman.

Tingginya jumlah kematian pada anak di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh kasus terlambat deteksi, sehingga ketika datang ke rumah sakit dalam kondisi berat. Tak hanya itu, pemeriksaan C-19 yang diperuntukkan bagi anak Indonesia masih sangat rendah. Anak hanya akan diperiksa ketika orang tuanya, lingkungan sekitar tempat tinggalnya terbukti positif Covid-19. Kondisi lain, sebagian besar populasi anak Indonesia memiliki riwayat komorbit atau penyakit penyerta seperti kurangnya gizi, anemia, diare dan pneumonia.

Meskipun, sebagian besar anak berada di rumah, bukan tidak mungkin para orang tua atau anggota keluarga yang berada tinggal bersama sang anak yang harus menjalankan aktivitas di luar rumah membawa virus ke dalam rumah sehingga potensi penularannya semakin mengkhawatirkan. Dari keadaan seperti itulah, penularan C-19 muncul dan penyebarannya tidak terkontrol. Terlebih, ketika orang tua yang membawa virus melakukan kontak langsung dengan sang anak sebelum membersihkan diri.

Keadaan ini, diperparah jika tidak dilakukan pengawasan pada aktivitas anak. Dibeberapa perkampungan, desa dan perumahan banyak anak yang memilih bermain dan berkegiatan di luar rumah tanpa menggunakan masker yang baik dan benar. Ditambah, kurang pengetahuan masyarakat terhadap lingkungan sekitar terhadap penerapan protokol kesehatan yang ada.

Sebuah riset yang terbit bulan Mei di JAMA Pediatrics, mengungkap bahwa anak-anak dan remaja memiliki risiko lebih besar untuk mengalami komplikasi dan kondisi yang parah jika terpapar Covid-19. John Williams, pakar penyakit menular anak dari University of Pittsburgh Medical Center menyebut, infeksi tanpa gejala adalah hal yang umum pada anak dan rentan terjadi pada 10-13 persen kasus.

Dalam kondisi pendemi Covid-19 yang penuh keprihatinan ini peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini harus dimaknai sebagai bentuk rasa empati serta bentuk rasa kepedulian kepada seluruh Bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar dapat terus tumbuh dan berkembang secara optimal.

Penerapan adaptasi normal kehidupan baru harus memperhatikan protokol kesehatan secara ketat yang disesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak, karena tumbuh kembang anak yang optimal akan berpengaruh pada kualitas generasi bangsa di masa depan.

Kebutuhan dasar tumbuh kembang anak seperti pemenuhan nutrisi, stimulasi, deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang harus tetap terpenuhi sesuai dengan periode pertumbuhan dan perkembangannya. Karena masa-masa tumbuh kembang anak tidak dapat terulang dan jika terlewat maka akan berpengaruh pada kualitas seorang anak di masa yang akan datang.

Kegiatan pendidikan dan pembelajaran anak sebaiknya dilakukan di rumah sebagai upaya pengendalian transmisi Covd-19, mengingat kondisi imun tubuh anak nyang masih rendah sehingga memiliki risiko tinggi untuk terjadi penularan.

Dalam implementasi interaksi sosial pada tatanan kehidupan normal baru harus mengutamakan perlindungan kesehatan anak. Orang tua dan masyarakat diharapkan memiliki kesadaran tinggi seperti tinggal beribadah, belajar, dan berkegiatan di rumah meski di hari libur sekalipun. Menghindari kontak fisik yang berisiko penularan, seperti mencium bayi sebelum membersihkan diri.

Anggota keluarga yang terpaksa keluar rumah untuk bekerja, terutama yang berisiko misalnya nakes, pengguna angkutan umum, bekerja di tempat keramaian,dan sebagainya, harus tetap melakukan pengendalian infeksi baik saat di tempat bekerja maupun saat tiba di rumah.

Hakikat Anak sebagai manusia yang merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang lebih tinggi dari kedudukan harta dan benda, bahkan jauh lebih berharga di atas segala sesuatu yang kita miliki. Di dalam diri mereka telah melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak. Pada masa pandemi seperti Covid-19 (C-19) kali ini, keluarga menjadi ujung tombak serta sebagai benteng yang tangguh dalam melindungi anak Indonesia.

Menanamkan sikap dan rasa optimisme dapat melalui masa kritis pandemi C-19 di Indonesia menjadi kata kunci yang sangat penting. Optimisme perlu dijaga dengan menentukan dengan siapa saja kita bergaul dan berinteraksi. Tayangan seperti apa yang ingin kita dan anak kita tonton dan resapi setiap hari

Setiap orang tua memiliki tugas dalam penyiapan masa depan anak melalui proses pendidikan baik formal maupun non formal. Pandemi Covid -19 menyingkapkan sejumlah persoalan genting yang harus segera diatasi karena menyangkut keberlangsungan dan kualitas hidup anak.

Semoga pandemi Covid 19 bisa segera diangkat dari Bumi Indonesia, kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai mahkluk yang telah mengajarkan pentingnya rasa kekeluargaan, kegotong royongan, rasa saling mencintai dan menjaga antar sesama.

Mari kita terus bergandeng tangan, terus menebarkan rasa kepedulian, menyebarkan virus virus kebaikan dan menebarkan pola hidup bersih di segala aktifitas dan lini kehidupan di era pandemi Covid-19 ini. Semoga anak anak Indonesia terus tumbuh dan bisa menjadi benteng tangguh dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta. Selamat Hari Anak Indonesia ‘Anak Terlindungi Indonesia Maju’.

—————- *** ——————

Tags: