Imaji Konflik “Syiah” dan”Sunni”

Judul: Syiah-Sunni dalam Konstelasi Politik Timur Tengah
Penulis: Ahmad Sahide
Penerbit: UMY Press, Yogyakarta
Cetakan: Agustus, 2020
Tebal: 136 halaman
ISBN: 978-6239168223
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih
Alumnus Madrasah Ibtidaul Falah, Kudus

Saya perlu menggunakan tanda kutip pada kata “Syiah” dan “Sunni” di judul resensi ini. Buku ini mengurai muasal konflik dua sekte besar dunia muslim. Lebih-lebih menyorot keterkaitan dua aliran ini atas dinamika konflik Timur Tengah, dulu hingga kini. Sebagaimana kita tahu, pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, terdapat sejumlah orang menginginkan Ali bin Abi Thalib-lah selayaknya menjadi pengganti Nabi Saw. Sebaliknya, banyak kelompok berbeda suara. Rampung bermusyawarah, Abu Bakar lantas terdaulat sebagai khalifah.

Apa respons Ali? Dalam sejumlah catatan, beliau menerima saja apa yang menjadi kesepakatan umat. Beliau juga menerima kepemimpinan Umar bin Khattab dan Usman bin Affan. Selama kurun kepemimpinan ketiga khalifah, Ali tidak pernah melakukan kudeta atau pemberontakan. Ali amat mendukung mereka.

Jika Sunni diartikan kelompok yang selalu mendasarkan pada laku Nabi Saw, tentu tiap muslim akan demikian. Bila Syiah selalu disematkan sebagai pecinta Ahlul Bait, semua muslim juga akan mendaku demikian. Apakah Sunni dan Syiah adalah sekadar imaji yang membelenggu dalam sekat untuk selalu harus berbeda dan tragisnya, kerap tertumpah darah?

Bila mengacu sejarahnya, Sunni dan Syiah berawal dari urusan politik. Kalangan muslim seakan terpolarisasi dan kemudian meluas ke seluruh babakan: akidah hingga fikih; termasuk urusan politik (sekali lagi) di saban tempat dan tempo. Egoisme/fanatisme dalam menafsirkan sabda Nabi Saw, turut melanggengkan perseteruan hingga anak-cucu. Syiah yang minoritas, tentu saja menjadi kelompok marjinal. Hingga pada abad ke-16 M, sejumlah pengikut Syiah membangun kekuasaannya di tanah Persia dan kokoh hingga kini bersebut Iran.

Tak ada yang ajeg. Syiah sebagai sebuah sekte, di dalamnya terdapat cabang/sekte lagi. Ada yang moderat hingga ekstrem. Pun, di Sunni; banyak mazhab. Pun, ada yang moderat hingga ekstrem. Ada satu kesamaan dari dua golongan ini: berpunya “oknum” yang gemar mengkafirkan (takfiri). Konsekuensi takfiri, menganggap yang di luar kelompok dirinya sebagai musuh. Tak peduli meski sesama golongan, baik Sunni atau Syiah. Kelompok inilah yang sebenarnya membikin kacau dan terus menggelorakan permusuhan. Kelompok ini pula yang mencoreng wajah Islam.

Perseteruan Iran dan Saudi, misalnya, tidak menampik adanya faktor lain. Bukan melulu soal bahwa Iran merupakan negara Syiah dan Saudi representasi negara Sunni. Saya menduga, ada faktor kontestasi ras dan etnisitas. Yakni, peradaban besar Persia dan Arab. Sedangkan faktor Sunni dan Syiah hanyalah tempelan. Konflik keduanya juga amat dipengaruhi faktor eksternal, yakni intervensi negara asing. Walhasil, konflik berlandaskan sekte pada hari ini, kiranya hanya pepesan kosong lantaran misi utama adalah soal pengaruh kekuasaan politik dan sumber daya alam.

Irak dihuni amat banyak pengikut Syiah. Namun, (pernah) dipimpin begitu lama oleh Saddam Husein yang seorang Sunni. Pun, di Suriah; Bashar al-Assad, seorang Syiah di negara yang mayoritas berpaham Sunni. Terlepas dari sosok keduanya yang kontroversial, tetapi relasi keakraban di tingkat akar rumput (rakyat) antara Syiah dan Sunni, toh dapat terwujud. Tidak ada konflik horizontal berkepanjangan gegara aku Sunni-kamu Syiah.

Buku ini secara cermat mengurai konflik yang “diduga” disebabkan murni urusan paham keagamaan. Bila konflik keduanya pada abad-abad lampau, boleh jadi, unsur sekte menjadi pemicu yang “cukup” signifikan; alias masih didominasi urusan lain yakni, politik/hasrat kekuasaan yang “lebih” signifikan. Sementara di era kekinian, sengkarut Syiah dan Sunni telah mencair alias tidak relevan lagi. Bila pun masih digunakan, kita bisa melihatnya sebagai alat propaganda murahan yang disematkan oleh aktor-aktor politik negara/internasional. Pun, ditambah dengan intervensi asing yang “sangat” signifikan.

Iran sebelum pecah revolusi tahun 1979, hubungannya dengan banyak negara Arab, tidak berlangsung tegang. Namun, setelah revolusi, relasinya dengan sejumlah negara Arab berlangsung panas. Terlibat perang dengan Irak pada Perang Teluk sebagai puncaknya. Kita pun bisa mengarahkan telunjuk pada negara adidaya (Barat) yang turut menjadi aktor berlangsungnya sengkarut tersebut; hingga hari ini. Revolusi Islam Iran tahun 1979 dianggap ancaman oleh para pemimpin negara Arab. Yakni, menjadi inspirasi rakyatnya untuk mendongkel mereka dari tampuk kekuasaan.

Lebih-lebih setelah Arab Spring, negara-negara Arab mengalihkan konsentrasinya dari melawan Israel –yang menjajah Palestina– kepada gerak-gerik Iran. Lantas, segala langkah Iran asal pokok harus dianggap berlawanan. Padahal Iran amat fokus terhadap perjuangan Palestina sebagaimana negara-negara Arab. Sekali lagi yang bertikai adalah para elite negara demi ambisi politik dan kuasa ekonomi. Sementara sisi lain, sebagaimana uraian buku ini, semacam rekonsiliasi dan gelar dialog antara ulama Syiah dan Sunni terus berlangsung intensif sekira dua dekade ini. Banyak capaian dan keputusan yang dihasilkan menyimpan segudang optimistis bagi tujuan persaudaraan sesama muslim. Karena itu, umat/masyarakat internasional mestilah menengok kepada mereka sebagai yang sebenarnya patut menjadi referensi berpijak atas isu-isu keberagamaan cum politik Timur Tengah.

Karen Armstrong dalam Fields of Blood memberikan simpulan menarik, bahwa nyaris tidak ada konflik yang disebabkan murni agama. Yang ada hanyalah agama dibuat kedok menutupi sebab utama yakni, politik-kekuasaan dan ekonomi. Apakah buku ini setali tiga uang menyimpulkan hal sama atas konflik abadi antara “Syiah” dan “Sunni”? Kalau betul demikian, Syiah dan Sunni hanyalah imaji yang mengkotak-kotakkan umat muslim selama empat belas abad.

——— *** ———-

Tags: