Indonesia Negara Maritim Tetapi Hasil Laut Dibawah 22 Persen dari PDB

Jakarta, Bhirawa.
Menurut Letjen Purn. Nono Sampono, Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Mengutip pernyataan Bung Karno, Indonesia adalah bentangan laut yang ditaburi 17.500 pulau-pulau besar dan kecil. Jika dipetakan, dibanding Eropa, zona waktu Indonesia, lebih panjang 3 kali. Bila terbang dari Sabang sampai Papua, memakan waktu 7,5 jam.

“Meskipun pertahanan kelautan kita masih lemah, namunIndonesia harus bisa menguasai, mengelola dan mengamankan lautnya. SeBagai negara Maritim terbesar dunia, sayangnya Indonesia belum bisa menembus angka 22% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari hasil lautnya.Ini baru dari segi ekonomi saja,” papar Nono Sampono dalam diskusi 4 Pilar MPR RI bertajuk “Meneguhkan Kedaulatan Maritim NKRI” , Senin (27/9). Nara sumber lainnya, pengamat Kemaritiman yang Direktur NAMARIN, Siswanto Rusdi.

Nono Sampono lebih jauh; Laut kita harus dikelola untuk kepentingan nasional. Semua harus kita amankan, persoalan di laut harus kita kuasai lewat jalur hukum atau secara fisik. Jika kita diam-diam saja, akan menjadi masalah kedepannya. Kepentingan nasional kita dilaut masih banyak, bukan hanya ikan saja. Tetapi ada kepentingan politik, misalnya kedaulatan, teritorial dan kewilayahan.

“Satu hal yang harus kita atasi, yakni laut kita masih dimanfaatkan oleh pihak lain atau negara lain. Artinya, kita punya laut, tetapi orang lain yang lebih banyak memanfaatkan. Karena kita mengabaikan laut milik kita itu,” ungkap Nono Sampono dalam diskusi 4 Pilar MPR RI dengan tema “Meneguhkan Kedaulatan Maritim NKRI”, Senin (27/9). Nara sumber lain nya adalah pengamat Kemaritiman yang Direktur NAMARIN, Siswanto Rusdi.

Nono Sampono lebih jauh, berbicara masalah kemaritiman, kondisi Alutsista Indonesia tidak memadai. Disatu sisi, kekuatan Angkatan Darat Indonesia, relatif cukup memadai. Tetapi Angkatan Laut dan Angkatan Udara, kondisi ya sangat lemah. 

” Betul, kita tidak ingin menyerang negara lain.Tetapi kondisi wilayah kita yang begitu luas mengharuskan ada komponen yang digelar secara statis, kewilayahan. Seperti Kodam, Armada dan pemukul strategis, Kostrad, Marinir,” ungkap Nono Sampono.

Siswanto Rusdi menyatakan, kedaulatan di laut tidak mudah,terutama di laut lepas dari laut teritorial kita. Oleh karena itu, daripada ber konflik terus, ribut dengan batas laut yang gak jelas selain di peta. Ada baiknya kita mendekati konflik dengan bekerjasama. 

“Supaya tidak terjadi gesekan di laut, seperti di laut China Selatan saat ini. Dimana gesekan tinggi, memungkinkan perang terbuka, yang pasti akan melibatkan kekuatan besar dunia. China akan berhadapan dengan  Amerika bersama sekutu nya. Kerjasama kemaritiman dengan negara lain adalah solusi terbaik untuk menghindari konflik,” ujar Siswanto Rusdi. [ira]

Tags: