Indonesia Peringkat Ke-13 Dunia Soal Keamanan Cyber

Keamanan CyberJakarta, Bhirawa
Indonesia ditetapkan berada pada peringkat ke-13 dari 193 negara di dunia dalam keamanan “cyber” atau Global Cyber Security Index yang dirilis International Telecommunication Union bersama ABI Research.
Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Rudi Lumanto di Jakarta, Kamis, mengatakan pengumuman peringkat itu dilaksanakan bersamaan dengan acara tahunan ITU Telecom World yang diadakan di Doha, Qatar, 10 Desember 2014.
“Dari sekitar 193 negara yang di ukur tingkat keamanan ‘cyber’-nya oleh badan telekomunikasi dunia atau ITU, Indonesia menempati peringkat ke-13,” katanya.
Wakil Asia yang masuk dalam peringkat lima terbaik dunia hanya Malaysia, yang menduduki peringkat ke tiga bersama dengan Australia atau hanya satu peringkat di bawah Amerika dan Kanada.
Malaysia bahkan sanggup mengalahkan Jepang dan Korea dalam penilaian ini.
“Ada lima komponen utama yang dinilai dalam index ini yaitu ukuran legal, ukuran teknis, ukuran kelembagaan, peningkatan kapasitas, dan kerja sama,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam hal ukuran legal maka penilaian dilakukan dari lengkap tidaknya atau ada tidaknya perundangan, regulasi dan turunannya terkait “cyber crime”.
Ukuran teknis diukur dari ada tidaknya organisasi semacam CERT/CIRT/CSIRT, ada tidaknya standar dan penerapannya, serta keberadaan jenis sertifikasi.
Sementara ukuran kelembagaan dilihat dari kebijakan terkait kelembagaan, roadmap pengelolaan, badan atau lembaga yang bertanggung jawab dan benchmarking nasional.
Ukuran peningkatan kapasitas dilihat dari ada tidaknya pengembangan standar, pengembangan SDM terampil, sertifikasi profesional, dan sertifikasi kelembagaan.
Sedangkan ukuran kerja sama dinilai dari ada tidaknya kerja sama dalam negeri, kerja sama antar lembaga, kerja sama swasta, dan pemerintah serta kerja sama internasional.
Di Indonesia sendiri, ID-SIRTII yang merilis laporan tahunan dalam acara National Security Days di Bandung pada November 2014, sudah merilis kondisi kemanan “cyber” nasional dengan beberapa indikator yang berada pada ruang lingkupnya.
“Sejumlah ruang lingkup itu seperti jumlah serangan ‘cyber’dan karakteristiknya di Indonesia, kegiatan pembangunan CERT, kegiatan peningkatan kapasitas dan kegiatan kerja sama, yang semua ini hanya masuk dan berkontribusi pada tiga ukuran ‘global cyber security index’,” katanya.
Menurut laporan tahunan ID-SIRTII tersebut, Indonesia yang mendapat serangan “cyber” lebih dari 42 juta sepanjang 2014 ini, masih memiliki risiko yang besar akan dampak keamanan “cyber” yang lemah.
“Acara yang dilakukan beberapa hari dengan berbagai kegiatan mulai dari teknikal workshop, internasional seminar, lomba hacking nasional CyberJawara dan talkshow yang dihadiri total lebih dari 1.000 orang itu bermaksud untuk juga menjadi pengungkit tingkat kesadaran keamanan ‘cyber’ nasional,” katanya.
Menurut dia, dari tahun ke tahun acara ini mengalami peningkatan yang signifikan dilihat dari partisipasi peserta dan apresiasinya.
“Bahkan lomba hacking nasional CyberJawara sebagai salah satu bentuk dan wadah peningkatan kapasitas dan kesadaran keamanan ‘cyber’ mendapat apresiasi dari pemerintah Jepang dan menjadi usulan untuk diperbesar ruang lingkupnya menjadi tingkat ASEAN di tahun 2015,” katanya.
Ia berpendapat perlu keseriusan berbagai pihak khususnya pemerintah dalam memperkuat lima komponen ukuran global cyber security index.
“Ini semata bukan hanya sebagai indikator berapa tingkat keamanan ‘cyber’ Indonesia dibandingkan negara lain tapi juga memperkuat rantai keamanan ‘cyber’ nasional secara riil,” katanya. [ant.ira]

Tags: