Inflasi Jember Tertinggi, Banyuwangi Terendah

4-inflasiJember, Bhirawa
Inflasi di Kabupaten Jember yang mencapai 1,92 persen membuat daerah yang dikenal dengan makanan khas suwar suwir menempati urutan pertama di Jatim. Sedangkan inflasi terendah Banyuwangi dengan 1,22 persen.
Salah satu pemicu inflasi di Jember yakni naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp2.000 per liter memicu laju inflasi di Kabupaten Jember, Jatim, sebesar 1,92 persen.
“Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi di Jember di antaranya komoditas bensin, angkutan dalam kota, beras, angkutan luar kota, dan cabai rawit,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Wahyudi, Selasa (2/12).
Menurut dia, kenaikan harga premium dan solar memengaruhi harga sejumlah komoditas kelompok pengeluaran antara lain kelompok bahan makanan sebesar 1,27 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 2,38 persen.
Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,55 persen; kelompok kesehatan 2,12 persen; pendidikan rekreasi dan olahraga sebesar 0,08 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 4,92 persen.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi di antaranya komoditas daging ayam ras, emas perhiasan, dan telur ayam ras karena harga sejumlah komoditas tersebut turun. “Angka inflasi di Jember pada bulan November 2014 melebihi angka inflasi Jatim sebesar 1,38 persen dan tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di Jatim,” katanya.
Semua kabupaten/kota di Jatim mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Jember sebesar 1,92 persen, diikuti Kediri sebesar 1,66 persen, Malang dan Madiun masing-masing sebesar 1,51 persen, Probolinggo sebesar 1,31 persen.
Kemudian Sumenep sebesar 1,28 persen, Surabaya sebesar 1,27 persen, dan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 1,22 persen.
Kabupaten Jember pada bulan November 2014 menempati urutan ke-15 dari 82 kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional yang mengalami inflasi.
Secara umum, terjadinya inflasi seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur pada bulan November sangat dipengaruhi oleh kenaikan pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan. “Kenaikan harga BBM yang ditetapkan pemerintah pada tanggal 18 November 2014 memberikan dampak yang nyata pada kelompok-kelompok yang lain,” ucapnya.

Inflasi di Malang
Kepala Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini, Selasa, menilai tingginya angka inflasi November cukup wajar karena banyak komponen yang terkena dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hampir semua komponen kebutuhan, mulai dari pangan, transportasi dan perumahan terkena dampak kenaikan harga BBM tersebut.
“Padahal kami menghitung kenaikan harga berbagai komoditas itu setelah adanya kebijakan kenaikan harga BBM atau pada periode 18-30 November 2014. Bahkan, angka inflasi pada Desember akan lebih tinggi karena efek BBM masih terasa, apalagi ada kenaikan tarif PDAM mulai November yang dibayarkan pada Desember,” ujarnya.
Sepuluh komoditas yang mengerek angka laju inflasi November 2014, di anatranya adalah premium (bensin), angkutan dalam kota (angkot), cabai rawit, cabai merah (besar), angkutan antarkota, ikan laut, tarif listrik, beras, dan biaya administrasi Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dari perbankan.
Sementara sejumlah komoditas yang mengalami penurunan, di antaranya adalah angkutan udara, daging ayam ras, bawang merah, batu bata, bawang putih, AC, kangkung, telur ayam ras serta emas perhiasan. [Efi,mut,ant]

Inflasi di Kabupaten/Kota di Jatim
No  Kabupaten/Kota    Inflasi (%)
1  Jember       1,92
2  Kediri         1,66
3  Malang       1,51
4.   Madiun       1,51
5  Probolinggo       1,31
6   Sumenep       1,28
7  Surabaya       1,27
8  Banyuwangi       1,22 (terendah di Jatim)

Tags: