Ingin Tahu Seni Budaya Trenggalek

2-poto kaki hal 2Disbudpar Jatim, Bhirawa
Trenggalek mempunyai banyak tempat peristirahatan dan tempat wisata yang mempunyai keindahan yang masih asli belum terubah oleh keadaan zaman, misalnya goa, pantai, dan pegunungan yang asri. Dibalik itu menyimpan seni dan budaya yang harus selalu dilestarikan.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai seni budaya di Trenggalek, selama Jumat-Sabtu (20-21/5) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim melalui UPT Taman Budaya Jatim menggelar Gelar Seni Budaya Daerah. Kali ini berkesempatan menampilkan seni budaya daerah adalah Kabupaten Trenggalek.
Kabupaten Trenggalek akan menampikan fragmen tari Cakrik, yang mengisahkan asal usul kesenian Jaranan khas Trenggalek Turangga Yaksa, dipentaskan di Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Gentengkali 85 Surabaya, Jum’at malam (20/5).
“Ingin tahu seperti apa fragmen tersebut dan seni budaya yang ada di Trenggalek, silahkan datang saja ke Taman Budaya Jatim. Gratis tanpa dipungut biaya,” kata Kepala Disbudpar Jatim, Dr H Jarianto MSi, di Surabaya, Kamis (19/5).
Dalam kesempatan ini, Kabupaten Trenggalek juga berencana akan menampilkan juga kesenian khas lain yang disebut Musik Banthong, Beksan Asri Trunggali dan Jaranan. Nantinya gelar seni budaya ini akan diakhiri pergelaran wayang kulit padat gaya Surakarta bersama dalang Ki Genit Santoso dengan lakon “Mustika Pringgodani”, Sabtu malam (21/5).
Sementara Kepala UPT Taman Budaya Jatim, Sukatno SSn menambahkan, sajian yang menarik lain yaitu arak – arakan “Musik Banthong” dan sajian berupa Lagu Daerah “Mangga Tindak Trenggalek”, dan disertai juga tari “Beksan Asri Trunggali”.
Ia menambahkan, gelar seni dan budaya yang rutin dilaksanakan dan bertujuan menjaga dan melestarikan keberadaan seni budaya sehingga tidak tergerus dengan budaya asing yang masuk di Indonesia.
Menurutnya, pelaksanaan pagelaran seni dan budaya  yang rutin, maka akan mendorong penguatan promosi budaya daerah sehingga keberadaannya turut memajukan kesenian yang ada di Jatim.
“Masyarakat bisa mengunjungi stan – stan pameran, membeli sovenir dan oleh – oleh sekaligus mengisi malam tahun baru dengan menikmati hiburan seni budaya yang tak kalah menarik dengan pertunjukan di tempat – tempat lainnya,” ujar Sukatno.¬† [rac]

Rate this article!
Tags: