Investigasi Kecelakaan AirAsia , Komisi V Bentuk Panja

2-poto kakiSurabaya, Bhirawa
Kecelakaan yang menimpa pesawat AirAsia QZ8501 menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi komisi V DPR RI. Karena itu, lima anggota Komisi V yang terdiri dari Nizar Zahro (Fraksi Gerindra), Yudi Widia Asia (FPKS), Damayanti (FPDIP), Musa Zainuddin (PKB) dan Abdul Hakim (PKS) melakukan sidak ke pangkalan BUN Kalimantan tengah.
Selanjutnya komisi yang membidangi masalah perhubungan, telekomunikasi, pekerjaan umum, perumahan rakyat, pembangunan pedesaan dan kawasan tertinggal ini, berencana untuk membentuk Panitia Kerja (panja) investigasi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501, untuk mengetahui sebab – sebab terjadinya kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 secara konprehensif.
Nizar Zahro Anggota komisi V DPR RI menyampaikan akan mengusulkan ke pimpinan komisi V untuk membentuk panitia kerja (panja) investigasi kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Ini lantaran berdasarkan informasi yang diterimanya, pesawat AirAsia QZ8501 sebelum berangkat tidak meminta perkiraan kondisi cuaca ke Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
“Harusnya sebelum berangkat, AirAsia minta perkiraan kondisi cuaca yang terbaru ke BMKG atau sebaliknya BMKG memberikan informasi perkiraan kondisi cuaca yang terbaru. Ini malah, Air Asia baru meminta Jam 7 pagi ketika pesawat sudah tidak ditemukan atau pesawat menghilang. Jadi, kami menyangka ada kelalaian dari AirAsia, makanya komisi V akan membentuk Panja untuk menginvestigasi secara utuh peristiwa kecelakaan ini. Kami tidak ingin mencari siapa yang salah, kami hanya ingin mengetahui secara menyeluruh terkait kecelakaan pesawat air asia ini,” Kata Nizar Zahro Anggota DPR RI Dari Fraksi Partai Gerindra, Minggu (4/1)
Karena itu, ia juga akan mengusulkan agar secepatnya ada Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara komisi V DPR RI dengan kementerian perhubungan, Badan SAR Nasional(Basarnas), (BMKG), AirNavĀ  (Badan Navigasi), maskapai penerbangan dan pihak – pihak yang terkait. Ini bertujuan untuk mengantisipasi agar kecelakaan pesawat tidak terjadi lagi. “Seharusnya maskapai penerbangan lebih mementingkan keselamatan penumpang, bukan hanya mementingkan sisi komersialnya saja,” ujarnya
Namun lepas dari itu, Politisi dari dapil Madura ini mengapresiasi basarnas yang menemukan dengan cepat beberapa korban pesawat AirAsia. Hanya saja Nizar tetap menghimbau agar pencarian korban terus ditingkatkan lebih maksimal. Ini lantaran hingga berita ini ditulis, baru 18 korban dari 155 penumpang yang ditemukan.
“Sekarang sudah 6 hari tapi baru 18 korban yang ditemukan. Kami minta pemerintah untuk bekerja lebih keras lagi agar korban yang lain segera ditemukan,” paparnya.
Terpisah, pakar hukum pidana dari Universitas 17 Agustus (UNTAG) Surabaya, Kris Laga Kleden mengungkapkan penyidik Mabes Polri sudah saatnya turun untuk melakukan penyidikan terhadap diijinkannya terbang pesawat AirAsia QZ 8501 yang hilang di Pangkalan Bun Kalteng beberapa waktu lalu.
” Pihak Kemenhub menyatakan kalau AirAsia tidak memiliki ijin terbang saat itu dan kenyataannya pihak Bandara mengijinkan terbang. Padahal dua institusi ini memiliki keterkaitan satu sama lain dalam urusan penerbangan,”katanya saat dihubungi lewat ponselnya.
Diizinkannya terbang oleh Otoritas Bandara ataupun Kemenhub saat itu, kata Kris Kleden ini bisa disebut sebagai kelalaian yang menyebabkan kematian dan itu bisa dipidana. “Kalau saat itu tidak diijinkan terbang tentunya tidak akan ada peristiwa ini,”lanjutnya. Sedangkan untuk AirAsia, Kris Kleden mengatakan pihak AirAsia juga bisa dipidana karena kenekatannya menerbangkan pesawatnya. ”
Namun yang lebih bersalah saat ini adalah pihak Kemenhub dan Bandara yang menyebabkan AirAsia ini terbang. Polri harus menyidiknya untuk ini,”tandasnya.
Sebelumnya, Maskapai AirAsia QZ8501 di rute Surabaya-Singapura ternyata tidak memiliki izin terbang saat lost contact pada Minggu (28/12).Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, JA Barata, berdasarkan izin penerbangan yang dikeluarkan pada 24 Oktober 2014.
Maskapai yang dimiliki Tony Fernades itu hanya diizinkan melintas rute tersebut hanya pada hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu. “Namun, pada pelaksanaannya AirAsia terbang pada hari Minggu. Itu diluar izin yang diberikan Kemenhub,” ujar Barata. Bahkan.Barata menambahkan sebelum tanggal 24 Oktober pihaknya memang memberikan izin seminggu penuh kepada AirAsia untuk melintas rute tersebut. “Mungkin saja tidak ada koordinasi di tingkat bawah,”tandasnya. [cty]

Tags: