Izinkan Salat Idulfitri, Pemetaan Zonasi Berbasis PPKM Mikro

Jamaah yang tak memiliki ID Card, tidak diperkenankan mengikuti Salat Idulfitri di MAS.

Pemprov, Bhirawa
Pelaksanaan salat Idulfitri 1442 dipastikan dapat digelar sesuai pemetaan zonasi berbasis Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Hal ini dipastikan setelah Gubenur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Jatim Nomor : 451/10180/012.1/2021Tentang Penyelenggaraan sholat Idulfitri Tahun 1442 Hijriah / 2021 di saat masa pandemi covid-19 di Jatim, Senin (10/5).
Dengan SE tersebut menegaskan penyelenggaraan salat Idulfitri bukan menggunakan zonasi kabupaten/kota. “Kalau menggunakan skala mikro, Kepala Desa, Lurah, dengan melibatkan Babinsa dan Babinkamtibmas lebih mudah melakukan pemetaan. Ini menjadi penting, utamanya kemungkinan shaf yang rapat dapat dihindari karena jamaah akan dipecah di beberapa tempat ,” Gubernur Khofiah.
Keputusan tersebut keluar dari hasil Rapat Koordinasi Persiapan Sholat Idulfitri 1442 Hijriyah di Gedung Negara Grahadi, Minggu (9/5) malam. Rakor yang dipimpin Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa tersebut juga diikuti secara luring Plh. Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono, Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI Agus Setiawan, Wakapolda Jatim Brigjen Pol. Slamet Hadi Supraptoyo, Kepala Kanwil Kemenag Jatim Ahmad Zayadi, Ketua PW Muhammadiyah Jatim M. Saad Ibrahim, Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, Ketua LDII Jatim M. Amrozi Konawi, dan Sekretaris MUI Jatim Hasan Ubaidillah.
Lebih lanjut ia menambahkan, dipilihnya format salat Idulfitri berbasis PPKM Mikro dikarenakan lebih fokus memonitor pendisiplinan kepada sub basis di tingkat RW dan desa. Sehingga, langkah tersebut dapat mengatur para warga agar bisa mengatur ibadah dengan baik.
Dalam koordinasi tersebut, Gubernur Khofifah menambahkan, khutbah yang dilakukan hanya 7 hingga 10 menit serta surah yang dibacakan kategori pendek seperti surah Al Ikhlas dan Al Kafiruun. Untuk kegiatan takbiran, hanya dilakukan di masjid dengan jumlah 10 % jamaah dari total kapasitas. Sementara takbir di jalan raya tidak akan diperkenankan.
“Artinya bahwa rasa untuk bisa melaksanakan Sholat Id bisa terpenuhi, namun protokol kesehatan bisa terjaga. Dan kalau ada panitia yang dibentuk, senantiasa bisa mengingatkan untuk tidak bersalaman,” jelas Khofifah.
Dirinya juga mengimbau, agar mulai dari lini terbawah untuk menyiapkan masker. Termasuk menyediakan fasilitas cuci tangan bagi para jamaah sebelum memasuki masjid atau di lapangan. “Kita akan menggunakan zonasi PPKM mikro. Tetap dikawal agar tidak terjadi kerumunan dan interaksi di lini bawah,” tegasnya.
Selain itu, Gubernur Khofifah juga mengatakan, dalam pelaksanaan salat Idulfitri, protokol kesehatan (Prokes) diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik. Termasuk diimbangi dengan dibentuknya kepanitiaan tingkat mikro.
“Mohon ini dilihat dari satu kesatuan. Saya mohon unjung-unjung (berkunjung) antar tetangga tidak dilakukan, berwisata juga sangat dibatasi karena ini menjadi satu kesatuan proses yang dihawatirkan berdampak terhadap penyebaran covid – 19 jika tidak di waspadai bersama, karena mobilitas masyarakat,” jelas Khofifah.
Sementara itu Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengaku bersyukur, pelaksanaan Salat Idul Fitri 1442 Hijriah/2021 di Kota Pahlawan dapat dilakukan secara jemaah di masjid atau lapangan terbuka. Meski kebijakan ini dapat diterapkan khusus bagi wilayah kelurahan yang masuk dalam kategori zona kuning dan hijau.
“Alhamdulillah hari ini ada kesepakatan bersama dengan Gubernur Jatim dan para ulama. Malam hari ini disepakati arti dalam zonasi itu adalah zonasi PPKM skala mikro atau setingkat kelurahan,” kata Wali Kota Eri.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani tetap membolehkan semua masjid dan musalah di Gresik menggelar salat Ied pada hari raya Idul Fitri nanti. Kendati demikian, Gus Yani minta Prokes tetap harus dijaga untuk menjaga kemungkinan adanya penularan Covid -19.
“Salat Ied bisa dilaksanakan bila wilayah desa, RW, RT setempat tidak masuk zonasi merah. Untuk pelaksanaan sholat Ied di suatu ruangan masjid dan mushollah jumlah jamaah hanya setengah dari kapasitas ruangan masjid atau mushollah.” kata Gus Yani. [tam.iib.eri]

Tags: